Rabu, Juli 15Ponpes Sabilurrosyad Gasek Malang

Uthak-Uthak Ugel

Ilustrasi Gambar Oleh: Ria ‘Ainun Nafi’ah
Terdengar suara gesekan telapak sandal bapak dengan tanah, Neneng bergegas menuju pintu. Menyambut se-besek berkat yang terayun lemah. Neneng dengan cepat merangsek berkat itu dan berlari masuk rumah. “Ndhuk, mbokya bagi-bagi sama kangmase, sama mbkyune…” teriak ibu.

“Neng, Mas Arik sama Mbak Widya juga pengen itu, lho!” seru ibu sambil menggelar tikar anyam. Ketiga anak kecil itu berebut duduk di tikar.

“Serbu… hahaha” Arik dan Widya menyerbu makanan di depan Neneng. Mereka menyikat habis nasi gurih, ayam goreng, sambal goreng, serundeng, dan lainnya.

Ibu dan bapak tidak ikut makan, mereka memilih ngobrol di kursi.

“Bu, tadi bapak ketemu Pak Bagio,” bapak memulai pembicaraan serius.

“Ikut tahlilan?”

“Iya, Bu, lha kan ketemune di ndaleme Pak Lurah.”

Dungaren wonge mulih. Panjenengan ditawari apa lagi sama Pak Bagio?” tanya ibu dengan nada mengejek.

“Pak Bagio masih kekeh memberi bapak iming-iming harga tinggi, Bu. Dia masih mengincar sawah kita,” jawab bapak datar.

“Buat apa lagi wong iku mengincar sawah kita? Jangan-jangan tidak hanya sawah kita, Pak. Pasti dia mau membeli semua sawah di desa ini, kayak dulu. Wes ditolak warga, kok ya masih berani wong iku.

“Katanya di desa kita bakal dibangun pabrik pengolahan limbah, Bu. Katanya kalau kita mau menjual tanah ke mereka, untungnya besar. Mereka mau membeli dengan harga tinggi. Kita bisa punya banyak uang. Kita bisa bangun rumah. Kalau pabrik jadi dibangun, kita juga bisa saja bekerja di sana.”

“Terus? Bapak percaya dengan omongane pejabat itu? Mana mungkin kita bisa kaya, Pak. Uang itu bisa habis dalam sekejap. Makanya, mereka saja yang sudah kaya masih terus-terusan mencari uang. Mbangun pabrik sana sini.”

“Bapak ya ndak percaya, Bu. Bapak juga tidak mau menjualnya. Wong sawah kita ini , kan juga tanah warisan. Malu sama leluhur. Lagipula, kalau sawah-sawah dijual, kita mau makan apa.”

“Makan semen, lah, Pak!”

“Hahaha, ibu ini. Emang, beneran mau, makan semen?”

Ibu menghela nafas, mengernyitkan dahi. Bertolak dari tempat duduknya.

“Sudah selesai, makannya, Nak?”

Sampun, Bu,” jawab mereka bertiga kompak.

Ibu hanya tersenyum. Kepada anak-anaknya, ibu selalu mengajarkan tentang berbagi. Seperti pantun orang jawa kuno, keripik gedhang godhong tela, sethitik edhang pada krasa. Maksudnya, tetaplah berbagi meskipun pembagiannya sedikit-sedikit, yang penting semua bisa merasakan.

Seusai makan, ketiga bocah itu mencuci tangan di belakang. Sedangkan bapak menunggu di musala rumah untuk salat isya berjamaah. Seperti biasa, beliau melantunkan puji-pujian.

Baca juga => Cermin itu Jujur, Kita yang Kurang Syukur

Dongeng Ibu di Senthong Kulon

Penerangan di rumah mereka temaram, hanya beberapa lampu terletak di sudut-sudut ruang. Mereka juga tak punya banyak benda elektronik. Demi menghemat pembayaran listrik. Selain itu, karena bapak memang tidak mampu membeli barang-barang itu.

Sebenarnya mereka memiliki televisi, tetapi sudah lama rusak, tidak kunjung diservis sama bapak. Namun, mereka sudah terbiasa tanpa hiburan dari televisi. Bagi ibuk dan bapak, ketiga anak mereka cukup untuk jadi hiburan. Mereka juga terbiasa hidup tanpa kecanggihan gadget masa kini. Sehingga mereka biasa mendapat informasi terbaru dari para tetangga. Syukur, bapak masih punya ponsel butut yang bisa digunakan untuk telepon dan sms.

“Mas Arik di mana, Mbak Wid?” tanya ibu pelan sambil merebahkan badannya di kasur.

“Lagi pipis, Bu,” jawab singkat Widya sambil menata bantal. Widya itu anak sulung. Ia masih sekolah dasar kelas lima.

Lha ini mas Arik. Sini merapat ke ibu,” ibu merangkul anak-anaknya. Mereka berdusel.

Dipan mereka tidak luas. Tetapi cukup untuk mereka tidur berjajar seperti pindang. Dipan itu terbuat dari kayu jati sehingga kokoh dan kuat.

Thak-uthak ugel, nyengkelit kudhi bujel…

Nyandhi, Thak?” gertak ibu sambil menatap langit-langit rumah.

Nyandhi, Bu?” tanya Neneng setengah berbisik.

Sssttt. Dengarkan dulu, tho!” sergah ibu.

Arik dan Widya tertawa kecil.

Baca juga => Bahagia Itu Milik Siapa? 

Nada ini yang selalu ditunggu-tunggu ketiga bocah itu menjelang tidur. Menandakan bahwa ibu akan mendongeng. Mata mereka masih terang, dengan perasaan menyeruak penasaran. Mereka siap mendengarkan.

Arep golek buah elo.”

“Jawab makhluk dalam cerita itu. Yang badannya tinggi, besar, dan berperut buncit,” lanjut ibu. Melihat mimik muka dan gestur ibu membuat ketiga bocah itu bergidik.

Ibu bermonolog melanjutkan dongengnya.

“Aku weruh,” sahut salah satu makhluk yang berada di samping Uthak-uthak Ugel.

Nek endhi?” serbu makhluk besar itu, yang dipanggil dengan sebutan Uthak-uthak Ugel.

Kidul kono, wite sak kebo, wohe mung loro.

“Tanggung, wah…”

Enek eneh, Thak!”

“Ngendi?”

“Nak lor kono, wite sak deriji, wohe ndadi.”

Yo kuwi sing tak goleki!”

“Yoh, mrono!”

Ayo!” mereka berdua berbondong-bondong menuju pohon buah elo.

Thak-uthak ugel, nyengkelit kudhi bujel…

Clebuk, kriyuk, kriyuk. Suara buah elo yang dimakan Uthak-uthak Ugel di atas pohon. Ia memanjat pohon dan memakan buahnya sendiri. Sedangkan temannya menunggu di bawah pohon.

Clekiikk…

“Kenapa, Thak?” tanya makhluk yang di bawah pohon.

Kesereten.”

“Ayo, tak terno ngombe.”

“Sik, sedilut engkas,” Uthak-uthak Ugel lanjut melahap buah elo.

Cekuukk…

“Geniyo, Thak?”

“Kesereten.”

“Ayo, wes mudunno, tak terke golek ngombe!”

Akhirnya Uthak-uthak Ugel turun dari pohon.

Menyang ngendhi lek golek banyu?” tanya Uthak-uthak Ugel.

Nek kono, ono kali banyune mili.”

Nanggung!”

Ya wis, nek kulon kono enek segara. Banyune wareg diombe sak dunya.”

“Ya wis, kui sing tak goleki.”

Sruput… gelegek… sruput… gelegek…

Suara Uthak-uthak Ugel ketika minum. Semakin lama perutnya semakin membesar.

“Aduh… Heghhh” Uthak-uthak Ugel mengerang lantaran perutnya kepenuhan banyu segara.

Baca juga => Santri Tulen Vs Santri Karbitan 

Akhirnya, air di samudera itu habis diminum. Raksasa itu terduduk tak berdaya. Tak lama, datang seekor kepiting. Kepiting itu berjalan menyamping menuju pusar Uthak-uthak Ugel kemudian mencapitnya.

Duarrr… Perutnya meletus.

“Desane banjir, wonge padha kenthir!”

Tutup ibu tegas.

“Hihihi…” Neneng tertawa kecil. Sedangkan yang lain diam. Mungkin tidak paham apa maksud ceritanya.

Ndhuk, Le,” ucap ibu lembut sembari mengusap kepala anak-anaknya.

“Dadi uwong aja angkara. Manusia itu punya nafsu yang tidak ada puasnya. Manusia itu serakah. Sifat serakah manusia dapat menimbulkan bencana. Ekosistem alam menjadi rusak. Hutan ditebang, habis lah pohon-pohonnya, lalu ditanami gedung-gedung tinggi. Emas-emas alam digali, mengakibatkan lubang-lubang bumi yang tidak ditutup kembali. Bumi kita tengah kesakitan.”

Keterangan:

Uthak-uthak Ugel        : Nama makhluk yang kemungkinan namanya diambil dari kata Uthak dan Bugel, artinya otak orang bodoh

Sengkelit                     : Menyandang, menyelipkan sesuatu (biasanya senjata) di pinggang

Kudhi                           : Sebangsa golok/caluk orang Jawa, ujungnya tumpul/tidak runcing, bagian tengahnya ada perut semacam kapak, dipakai untuk keperluan bertani, lazim dipakai di Banyumas. Bawor atau Bagong memakai kudhi sebagai senjatanya.

Bujel                            : Pucuknya tumpul

Elo                               : Buah pohon Ara

Angkara                       : Serakah

Penulis : Indah A. Maharani

Editor : Zahro’ul Aini

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: