Selasa, Agustus 11Ponpes Sabilurrosyad Gasek Malang

Tenaga Medis dan Stigma Buruk Masyarakat

Sumber: pinterest.id
Ilustrasi gambar oleh: Vivian

Ponpesgasek.com Dari data situs resmi pemerintah covid19.go.id, pada Jumat (15/5/2020),  jumlah kasus positif covid-19 di Indonesia sebanyak 16.496 orang, sembuh 3.805, dan 1.076 orang meninggal. Negara Indonesia sendiri dalam penanganan wabah pandemi corona ini, masih tergolong tidak siap. Terbukti di sejumlah fasilitas kesehatan masih terkendala oleh minimnya persediaan Alat Pelindung Diri (APD). 

Menggunakan APD merupakan langkah awal yang penting sebelum penindakan pada pasien covid-19. Ibarat tentara yang akan berangkat perang, tentu selalu  membawa senjata sebagai alat untuk melindungi diri dari musuh. Begitu pula tim medis yang juga memerlukan APD lengkap dan sesuai standar kesehatan, supaya baik pasien maupun tenaga medis  dapat saling terlindungi. Jika minimnya APD terus berlanjut, tentu akan membuat para tenaga medis yang menangani pasien covid-19 semakin khawatir. 

Baca juga => Santri Gasek Antusias Ikuti Sosialisasi Pencegahan Penyebaran Virus Corona 

Tenaga Medis Sebagai Garda Terdepan

Tenaga medis seperti dokter, perawat, dan petugas kesehatan lainnya adalah garda terdepan dalam mengupayakan kesehatan masyarakat. Maka dari itu, mereka sangatlah berjasa dalam hal ini. Banyak dari mereka yang merelakan waktu, tenaga, dan keluarga hanya demi merawat pasien di rumah sakit. Tetapi anehnya, banyak bermunculan berita bahwa mereka mendapat perlakuan diskriminatif  oleh sebagian masyarakat. Hanya karena tenaga medis berstatus ODP (Orang Dalam Pemantauan), lantas masyarakat menjadi takut bahkan menjauhinya.

Sementara Ricky R. Darajat, Jubir pusat informasi covid-19 Kabupaten Garut mengatakan, “ODP dan PDP belum tentu orang yang terkena virus corona (positif covid-19). Meski demikian, masyarakat perlu mengetahuinya agar tidak salah persepsi”. Jika sikap masyarakat masih saja seperti itu, tentu akan tidak adil dibanding pengorbanan yang dilakukan para tenaga medis. Mengapa hal-hal tersebut sampai terjadi dalam masyarakat kita?

Faktanya, tenaga medis memang bertugas merawat pasien covid-19. Namun begitu, mereka telah mematuhi standar operasional yang telah diberlakukan, seperti memakai Alat Pelindung Diri (APD) dan mencuci tangan. Sebagai tenaga kerja terdidik, mereka telah mengerti betul agar tetap menjaga diri sendiri di saat sedang bertugas. Mereka juga manusia sekaligus penyelamat, tetapi masih banyak ditemukan kasus dokter yang menangis karena dikucilkan lingkungannya, perawat yang diusir dari rumah kos, sampai jenazah perawat yang ditolak warga ketika hendak dimakamkan.

Tenaga medis memang Orang Dalam Pemantauan (ODP), tetapi bukan berarti harus dijauhi. Fakta menunjukkan bahwa mereka sangat membutuhkan support yang membangun bukan yang menjatuhkan mental. Jika mental para tenaga medis menurun, maka bisa saja sistem imunitas mereka turun juga. Seperti yang dikatakan oleh Psikolog Wiene Dewi dari Himpunan Psikolog Indonesia, “Dalam menghadapi masa krisis covid-19, masyarakat harus berfikir positif dan tenang supaya mentalnya sehat dan daya tahan tubuh tidak melemah”.

Penyebab Diskriminasi Kepada Tim Medis

Akibat rasa ketakutan membuat masyarakat bersikap berlebihan, sehingga muncul ketidakjujuran saat pemeriksaan. Dalam laman berita mojok.co diberitakan sebanyak 46 tenaga medis di salah satu RS harus diisolasi karena tertular virus covid-19. Peristiwa itu diawali oleh salah satu pasien yang tidak jujur ketika terbukti terpapar virus akibat pernah kontak langsung dengan orang dari red zone peta covid-19. Kejadian ini sangat disayangkan, sebab baik pasien maupun tenaga medis telah dirugikan. Mari berpikir sejenak,  beberapa waktu lalu bermunculan berita jenazah ditolak, tenaga medis dikucilkan, dan persekusi warga terhadap ODP yang pada akhirnya membuat pasien takut untuk jujur. Akhirnya, orang berstatus ODP mencoba berbohong supaya terbebas dari pandangan negatif masyarakat.

Setelah diusut, ternyata pasien tidak jujur karena tidak ingin ada hal buruk yang mungkin terjadi. Pasien takut jika harus menjalani isolasi di rumah sakit dan khawatir keluarga akan mengalami persekusi dari warga. Hingga akhirnya, dia memilih diam dan yang terjadi selanjutnya sangatlah fatal. Dari kejadian tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa sebenarnya yang perlu ditakuti adalah cara berpikir yang negatif. Dengan berpikir negatif tentu dalam bertindak juga negatif, semua orang harus mengerti hal tersebut. Begitu juga dengan jenazah covid-19 yang banyak ditolak masyarakat. Proses dari penanganan sampai perawatan jenazah sudah sesuai protokol WHO, jadi tidak mungkin jenazah menjadi sumber penularan virus. Hal tersebut dikatakan oleh Direktur Utama RSI Jakarta selaku Covid-19 Command Center, Umi Sjarqiah, “Jenazah yang telah dilakukan penanganan dengan baik aman untuk dikuburkan. Lalu, virus hanya hidup di sel hidup, sehingga jenazah yang telah dikubur tidak menularkan virus corona”.

Jadi, kemanakah rasa kemanusian yang tercantum dalam sila ke-2 Pancasila negara ini? Karena dangkalnya cara berpikir beberapa oknum masyarakat, akibatnya garda terdepan yang menjalani tugas berat semakin merasa terbebani.  Siapa lagi yang akan berada di barisan terdepan menolong pasien jika bukan tim medis.

Baca juga => Burdah Keliling, Tradisi Tolak Bala Agar Terhindar dari Wabah Penyakit 

Ayo Berperan Aktif!

Dari berbagai kasus memprihatinkan yang telah terjadi, terutama bagi kalangan tim medis, maka dimohon dengan sangat agar berhenti menyikapi dengan rasa takut yang berlebihan. Waspada boleh, asalkan jangan berlebihan. Semakin besar rasa ketakutan, daya tahan tubuh akan semakin lemah. Alih-alih mendapat pujian terima kasih sebab merawat pasien, berubah menjadi tindakan diskriminasi oleh sebagian masyarakat. Mari menjaga jaga satu sama lain dengan cara menghindari informasi yang tidak valid dan update informasi resmi dari pemerintah, serta terus mengikuti arahan tim medis.

Terakhir, tidak lupa juga peran para pemuka agama dan santri yang dapat menjadi cerminan bagi masyarakat.  Dengan  begitu, masyarakat akan memiliki pandangan terkait bagaimana sikap yang sebaiknya ditunjukkan selaku orang yang beriman. Dalam pesantren tentu sering diajarkan tentang Hablum Minallah (cinta kepada Allah) dan Hamblum Minannas (cinta kepada manusia). Pengajaran tersebut merupakan dua komponen yang tidak terpisahkan dalam menjani kehidupan. Sungguh merugilah orang yang pandai beribadah, jika perilakunya tidak peduli dengan sesama.

Jadi, sebagai seorang santri sudah sepatutnya dapat berperan untuk memahamkan masyarakat. Masyarakat perlu mengerti bahwasanya tenaga medis bukanlah aib yang harus dijauhi. Seorang santri juga harus memberikan contoh  perilaku baik kepada masyarakat, dengan cara mengapresiasi kerja tenaga medis yang telah menjaga keselamatan bangsa.

 

Informasi resmi Covid-19 nasional dapat diakses pada laman => covid19.go.id

Informasi resmi Covid-19 provinsi dapat diakses pada laman => JATIM TANGGAP COVID-19

 

Penulis: Mamik Rokhimah

Editor: Zahro’ul Aini

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: