Kamis, Juli 16Ponpes Sabilurrosyad Gasek Malang

Tag: sastra pesantren

Jariyah Motor Ala Gasek

Jariyah Motor Ala Gasek

Literasi Santri, Opini
Ponpesgasek.com - Sepintas, judul ini terasa berat dan kelihatan sok. Jangankan motor, nyumbang uang sepuluh ribu ke masjid saja beratnya minta ampun. Tapi, saya ingin mengutarakan sesuatu yang lebih jauh tentang makna dari judul tulisan ini. Sebenarnya cerita ini lebih pas diutarakan lewat lisan, tapi saya mencoba untuk mengutarakannya dengan bahasa tulis dan mudah-mudahan bisa sampai ke pembaca yang budiman dengan baik. Gasek Zaman Dahulu Dulu, ketika awal saya mondok di Gasek, saya hanya mendapati tidak lebih dari 5 sepeda motor. Itu pun motor dengan model yang biasa-biasa saja. Pemiliknya adalah santri-santri yang tergolong lebih mampu daripada lainnya. Namun, jauh sebelum itu, Guru kita semua (sejauh yang saya dengar) hanya memiliki kendaraan berupa sepeda motor Yamaha Kristal. Iy...
Derai Cita

Derai Cita

Sastra
  Tertetes seketika air mata Terhimpit rindu yang memaksa Jiwaku sadar hampa Semacam ada kekosongan dalam sukma   Serempak pilu menggebu Sesak tangis  mulai candu Halu mencatuk kalbu Sekencang angin menembus tulang-tulangku   Hening membungkam Rindu menghujam Terngiang sisa kenangan Sunyi ramai malam setahun silam   Desak hati ingin segera berlabuh Menuai tawa keluarga ramai riuh Bermanja keluh kesah nan ricuh Ah, halu romansa yang semakin keruh   Aku rindu senjamu Aku rindu fajarmu Rindu sahurmu Rindu iftarmu   Ya Ramadan, Kini kau hampir berpulang Tak ada sedepa, Nampakmu akan segera hilang Namun aku masih ber-Ramadan di kampung orang Biar, doa saja yang jadi obat ribang   Sudahlah, Gundah gulana kubuang saja Saatnya
Santri Tulen Vs Santri Karbitan

Santri Tulen Vs Santri Karbitan

Literasi Santri, Sastra
Ilustrasi : Mohammad Zakaria Sumber: https://islamsantun.org/indahnya-berkehidupan-ala-santri/ Bi af’ala-ntiq ba’da maa ta’ajjuba Au ji’ bi af’il qabla majruurin bi ba Wa tilwa af’ala-nshibannahu kama Aufa khaliilainaa wa ashdiq bihima Alunan nadzam menggema di bilik-bilik pengaosan diniah. Suara para santri antarkelas terdengar bersahut-sahutan beradu semangat melantunkan nadzam-nadzam atau syair-syair sebelum ngaji dimulai sembari menunggu muallim mereka rawuh di kelas. Namun, tidak semua santri patuh dan mau duduk rapi. Ada saja di antara mereka yang datang terlambat, keluar masuk kelas, atau tidur-tiduran di kelas. Itulah rutinitas santri ketika masuk jam diniah bakda isya di salah satu pondok pesantren di Jombang. “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” Melihat ada ses
Lukanya

Lukanya

Sastra
Lukanya... Aku mencium bau tubuh Menyengat namun hangat Tak tergantikan karena telah melekat Dari timangan sampai bongsoran Iya, ialah yang aku sayang   Kukecup tangannya Berkerut melipat lipatan telapak tangan Mengeras berkapal karena terlalu banyak bekerja Kusentuh jemarinya Kulit menua berkeriput hitam berarak matahari menyengatnya Nampak urat-urat hijau di setiap kulit keringnya Kaki yang tak pernah mau beralas Kuat menahan aspal dan kerikil jalan   Hati siapa yang tak teriris melihatnya Bersemangat menguli di ladang orang Mentari dan senja yang  menjadi teman pergi dan pulangnya Tak ada yang bisa dikeluhkan Karena semua untuk aku yang tak pernah bisa menggantikan   Seharusnya di usia senja ini Ia hanya