Senin, Maret 30Ponpes Sabilurrosyad Gasek Malang

Sekali Lagi Membaca Gus Dur: Tuhan Tidak Perlu Dibela

Gus Dur Tuhan Tidak Perlu Dibela. Gus Dur Adalah bapak Pluralisme sekaligus presiden Indonesia.
Ilustrasi: Tim Ponpesgasek.com
Sumber: Gusdur.net

Ponpesgasek.com – Salah satu buku Gus Dur ada yang berjudul Tuhan Tidak Perlu Dibela. Pemilihan judul yang terkesan nyentrik dan berani. Dari judulnya saja, telah banyak mengundang banyak penolakan, terutama dari kalangan muslim di negeri ini. Mereka bukan hanya sekadar menolak, bahkan mengolok-olok buku ini. Padahal mereka bisa jadi belum paham maksud yang terkandung di dalamnya, atau bahkan belum pernah membaca isi bukunya sama sekali.

Menurut redaksi, buku ini mempersoalkan fenomena agama dan kekerasan politik yang kala itu banyak muncul. Gus Dur menjadikan agama dan kekerasan politik sebagai perhatian utama karena sering menimbulkan beragamnya tafsir. Menurut Gus Dur, kekerasan politik merupakan akibat dari perilaku kaum fundamentalis agama yang berakar pada fanatisme yang sempit. Hal ini sering kali tergambar pada tindak kekerasan yang mengatasnamakan agama dalam berbagai kesempatan bahkan hingga saat ini.

Kalau kita memaknai kembali kesimpulan dari pendapat redaksi di atas, buku hasil pemikiran beliau ini memiliki maksud memberikan dorongan kepada kita agar melepaskan diri dari belenggu fanatisme yang sempit dalam beragama. Hal ini tentu dengan memahami substansi bukunya, bukan hanya sekadar tahu judul yang dicetak pada sampul. Dengan begitu, terciptalah tujuan luhur yang terkandung dalam buku ini. Yaitu pembelaan-pembelaan berupa kekerasan politik ataupun kekerasan dalam bentuk yang lain agar tidak kembali terjadi. 

Baca Juga : Doa “keramat” KH. Marzuki Mustamar di Tahun Politik 2019

Mendewasakan Diri dengan Mematangkan Pikiran

Masih dalam buku tersebut, ada tulisan Gus Dur yang berjudul sama Tuhan Tidak Perlu Dibela, dalam tulisan ini beliau bercerita tentang kegalauan seorang anak muda tentang kondisi muslim kala itu. Ia selalu melihat ekspresi kemarahan orang muslim di mana-mana. Hingga gambaran-gambaran ekspresi inilah yang menjadi keprihatinan dalam perjalanan hidupnya. Singkat cerita, kegalauan hatinya itu menghantarkan ia kepada seorang guru tarekat. Dari beberapa wejangan sang guru tarekat yang telah diberikan, ia menemukan solusi dari semua kegalauan dalam hidupnya. Informasi dan ekspresi diri yang dianggap merugikan Islam sebenarnya tidak perlu dilayani. Cukup diimbangi dengan informasi dan ekspresi diri yang positif konstruktif. Kalau keadaan dan tingkat kerugiannya menjadi gawat, cukup dengan jawaban yang mendudukkan persoalan secara dewasa.

Hal yang membuat pikiran anak muda dalam cerita tadi menemukan ketenangannya kembali adalah timbulnya kesadaran bahwa Islam perlu dikembangkan cara berpikir dan ekspresi-ekspresinya. Fanatisme tidak digunakan sebagai alat untuk melakukan serangan pada orang tertentu yang bertujuan melakukan pembelaan dengan dalih-dalih agama yang nyatanya memiliki unsur politis dan marah. Kebenaran Allah tidak berkurang sedikit pun dengan adanya keraguan orang. Tuhan tidak perlu dibela, walaupun tidak juga menolak dibela.

Baca Juga: Karakter Pemuda Zaman Jahiliyah Modern

Dari sana kita tahu, bahwa Gus Dur mengajak kita menjadi sosok yang bijak dalam menghadapi semua persoalan. Terlebih lagi masalah agama, jangan sampai kita menghalalkan sesuatu yang tidak semestinya hanya demi pembelaan kita, seperti marah-marah, mencaci maki, memfitnah, melakukan tindak kekerasan, dan lain sebagainya. Bukannya malah terbela, yang ada malah tercoreng nama baiknya.

Kalimat yang Digunakan untuk Mengerdilkan Umat Muslim

Apakah dari sana ada pikiran atau gagasan yang dapat membenarkan kesimpulan bahwa Gus Dur atau kata  Tuhan tidak perlu dibela adalah kata-kata yang liberal? Menurut saya pribadi, tidak ada. Kalau liberal sesuai versinya kaum cekak pikir, sih, bisa jadi. Liberal yang saya maksud di sini adalah liberal yang menjadi hantunya sekelompok kaum agama yang -sepertinya telah merasa- pintar. Ketika mereka menemukan tokoh yang cerdas, pintar dan memiliki argumentasi yang kuat pada setiap ide dan gagasan yang kebetulan berseberangan dengan kelompok ini, maka kelompok ini akan menuduh tokoh tadi dengan sebutan-sebutan yang mereka takuti. Seperti, antek yahudi, antek aseng, liberal, Syi’ah, PKI, dan lain sebagainya. Mereka sendiri pun tidak tahu dan paham apa yang sebenarnya mereka tuduhkan.

Seperti contoh, kemarin masih teringat jelas ketika seorang tokoh HTI berkata seperti ini: “Tuhan nggak perlu dibela, kalimat yang terlihat benar, namun sebenarnya mengkhawatirkan, dan selalu dipakai dari dulu oleh kelompok liberalis untuk mengerdilkan kaum muslim”. Ada dua macam tuduhan yang dilakukan oleh orang ini. Pertama, pihak yang memakai kalimat, “Tuhan nggak perlu dibela adalah pemikiran kaum liberalis”. Lalu yang kedua, “kalimat ini digunakan untuk mengerdilkan kaum muslim”. Dua fitnah yang luar biasa.

Baca Juga : Rahmat Dalam Berbeda Pendapat

Saya rasa semua paparan di awal tulisan ini dapat menolak kedua tuduhan yang sekaligus mengandung fitnah seperti yang telah dituliskan di atas. Lalu saya ingin membantu meluruskan cuitan beliau, sepertinya tokoh ini salah bicara ketika mengatakan “mengerdilkan kaum muslim”, yang benar adalah “mengerdilkan kaum fundamentalis agama, serta radikalis. Sekian tulisan saya yang ngalor-ngidul, saya mau makani pithik dulu.

“Bila engkau menganggap Allah itu ada hanya karena engkau yang merumuskannya, hakikatnya engkau sudah menjadi kafir. Allah tidak perlu disesali kalau Dia menyulitkan kita. Juga tidak perlu dibela kalau orang menyerang hakikat-Nya.”

– Gus Dur –

Penulis : M. Isbah Habibi, penulis merupakan santri pondok pesantren Sabilurrosyad, juga merupakan seorang pegiat media di rembukan.com 

Editor : Teguh Hidayanto

 

Baca Juga artikel opini karya santri Gasek lainnya :

 Tonton Pengajian Cangkruk An Gus Dur KH. Marzuqi Mustamar. Klik Di Sini,

Facebook Comments

4 Comments

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: