Rabu, Mei 27Ponpes Sabilurrosyad Gasek Malang

Santri Tulen Vs Santri Karbitan

Ilustrasi : Mohammad Zakaria
Sumber: https://islamsantun.org/indahnya-berkehidupan-ala-santri/

Bi af’ala-ntiq ba’da maa ta’ajjuba

Au ji’ bi af’il qabla majruurin bi ba

Wa tilwa af’ala-nshibannahu kama

Aufa khaliilainaa wa ashdiq bihima

Alunan nadzam menggema di bilik-bilik pengaosan diniah. Suara para santri antarkelas terdengar bersahut-sahutan beradu semangat melantunkan nadzam-nadzam atau syair-syair sebelum ngaji dimulai sembari menunggu muallim mereka rawuh di kelas. Namun, tidak semua santri patuh dan mau duduk rapi. Ada saja di antara mereka yang datang terlambat, keluar masuk kelas, atau tidur-tiduran di kelas. Itulah rutinitas santri ketika masuk jam diniah bakda isya di salah satu pondok pesantren di Jombang.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Melihat ada seseorang yang masuk kelas dan mengucapkan salam, seluruh santri di kelas satu ulya bergegas merapikan posisi mereka. Mencari posisi ternyaman dan berebut mengisi tempat duduk paling belakang dekat tembok. Agar bisa sekedar leyeh-leyeh atau kalau mengantuk agar tidak kelihatan oleh ustaz yang sedang mengajar. Mereka pun terdiam.

Pangapunten, Kang-kang. Saya di sini diutus Gus Shobir untuk menggantikan beliau menemani sampean semua belajar nahwu malam ini. Dikarenakan Gus Shobir tindakan dateng Nganjuk,” ucap seseorang itu dengan sopan.

“Alhamdulillah” sahut beberapa santri dengan kompak diikuti tawa. Sedangkan seseorang itu hanya tersenyum simpul. Ia melanjutkan dengan melafalkan tawasul kepada Kanjeng Rasulullah dan mushonnif kitab yang akan dikaji malam ini.

Seseorang itu biasa dipanggil Kang Noval. Ia terkenal cerdas, rajin, dan pintar. Selama sembilan tahun mondok, ia menghabiskan waktunya untuk belajar, mutalaah, dan hafalan. Motto hidup yang ia pegang selama di pesantren adalah “isa ora isa sing penting ngaji, lalaran, syawir, lan apalan (bisa atau tidak bisa yang penting belajar, mutalaah, musyawarah dan hafalan)”.

Tidak heran, karena kegigihannya tersebut ia banyak menguasai kitab kuning, mulai dari ushul fikih, fikih, nahu, saraf, dan tasawuf. Bahkan, tidak sedikit ilmu yang sudah ia hafal di luar kepala, seperti Nadzam Alfiyyah Ibnu Malik, Nadzam Imrithi, Qaidah Fiqhiyah, Ushul al-Fiqh, dan 1000 Hadis Sahih Bukhori Muslim.

Oleh karena kedalaman ilmunya inilah, ia sangat disegani oleh santri yang lain. Selain itu, Kang Noval juga sering ditunjuk para asatidz untuk menjadi badal pengajar di kelas diniah. Bahkan ia juga tak jarang diminta Kiai Ulin Nuha untuk menggantikan ceramahnya di masyarakat ketika beliau berhalangan.

***

Baca juga => Santri Gasek Antusias Ikuti Sosialisasi Pencegahan Penyebaran Virus Corona

***

Menuju era society 5.0, tentu tantangan santri semakin berat. Sebab santri setelah mondok akan terjun dan harus berperan di masyarakat. Semakin tahun, akan semakin bertambah pula macam-macam problema. Seiring bumi kian menua, semakin ada-ada saja tingkah manusia.

Tidak hanya dituntut untuk bisa paham ilmu agama, tetapi santri juga dituntut untuk paham keilmuan umum lainnya. Atas dasar inilah, Kang Noval memiliki tekad untuk meneruskan studinya ke perguruan tinggi. Kata Kang Hadi teman sekamar Kang Noval, kalau Kang Noval sendiri pernah sowan ke Abah Kiai tentang rencananya untuk meneruskan studi ke salah satu perguruan tinggi di Malang.

“Lalu, pripun dawuh Pak Kiai, Kang? Beliau mengizinkan atau tidak?” sahut Kang Karim  dalam obrolan ringan di warung Mbok Paijah kala itu. “Iya, Pak Kiai mengizinkan dan berpesan kepada Kang Noval untuk selalu menjaga akhlak dan berpegang teguh pada paham ahlusunah waljamaah,” jawab Kang Hadi.

“Wah, disayangkan. Bentar lagi kita akan ditinggal Kang Noval. Terus siapa nanti yang akan memimpin syawir di kelas, ya? Mewakili bahtsul masa’il antar pondok se-Jawa Timur?” sesal Kang Qowim, teman satu kelas diniah Kang Noval.

“Keluasan ilmunya itu, lho, belum ada tandingannya di pesantren ini. Selain itu, opo samean-samean ingat ketika pondok kita diundang bahtsul masa’il di Pondok Ploso Kediri? Siapa coba yang diutus Pak Kiai dari kalangan santri untuk ikut bahtsul masa’il tersebut? Iya tak lain Kang Noval, tho?” tambah Kang Qowim.

“Iya. Sampean-sampean semua yang akan menggantikan aku nanti, Kang,” sahut Kang Noval yang datang tiba-tiba dari belakang sambil menepuk bahu Kang Karim.

Sembari duduk di samping Kang Karim; Kang Noval memesan secangkir kopi hitam dan mulai menyalakan sebatang rokoknya. Dengan berat hati, saat itu Kang Noval berpamitan kepada mereka karena besok ia harus pergi ke Malang untuk melaksanakan kuliah perdananya.

“Besok aku harus pergi ke Malang, Kang. Selama kutinggal nanti, sampean-sampean lah yang akan menggantikanku. Jangan takut dan merasa minder. Setiap orang itu sebenarnya sama saja, tinggal bagaimana usahanya. Sampean semua harus berusaha keras, Kang. Ingat, man jadda wa jada!” pesan Kang Noval kepada tiga sahibnya tersebut.

“Iya, Kang, kami akan berusaha melaksanakannya. Jangan lupa, doakan kami juga, semoga kami bisa meniru sampean, Kang,” ujar Kang Qowim sambil memeluk Kang Noval erat-erat.

“Dan Jangan lupa, Kang, sampean harus ingat wejangan Kiai Ulin. Di mana pun sampean berada, sampean harus jaga akhlak dan akidah ahlusunah waljamaah. Jangan sampai terpengaruh oleh akidah lain. Dan satu lagi, jiwa nasionalis dan patriotis sampean jangan sampai luntur. Sampean masih ingat, kan, cerita kiai tentang kisah Mbah Hasyim Asy’ari saat menyemangati santri dalam kejadian resolusi jihad?” bisik Kang Qowim lirih di telinganya. Dan Kang Noval pun hanya menganggukkan kepala dengan raut muka sedih karena harus meninggalkan sahabatnya.

“Selamat jalan, Kang. Hati-hati di sana,” pesan ketiga sahabat Kang Noval dengan senyum simpul di bibir mereka.

Kang Noval kembali menghisap cerutunya. Menghela nafas dalam-dalam.

***

Baca juga => NU Melaksanakan Syariat Islam Dalam Konteks NKRI

***

Di tengah gerimis yang agak deras menjelang magrib, angkot berwarna biru dengan jurusan Terminal Arjosari dan Landungsari itu mengantarkan Kang Noval sampai depan pintu gerbang Perguruan Tinggi Islam Malang. Ia berteduh sejenak di pos satpam untuk mengenakan mantel biru agar baju dan barang-barangnya tak basah kuyup. Sambil berjalan menuju ma’had, Kang Noval menggantungkan segala harapan dan cita-citanya di kampus idamannya tersebut. Dalam hati kecilnya, ia berdoa semoga Allah memperkuat langkahnya dalam tholabul ilmi di kampus ini.

Sesampainya di ma’had, Kang Noval tinggal di Komplek Dzar Alghifari. Di sana ia bertemu dengan lima teman sekamarnya yang telah datang lebih dulu, yaitu Firli, Yafi, Falah, Mutawakil, dan Hasbi. Mereka berempat menyapa Kang Noval dengan hangat. Mereka juga ringan tangan membantu menata barang-barang Kang Noval.

Setelah bebersih, Kang Noval ikut jagongan dengan mereka. Sifat humble dan ramah dari Kang Noval membuat ia cepat akrab dengan yang lain. Baru kenal sudah ngobrol ngalor ngidul. Ternyata dari kelima temannya tersebut, hanya Firli lah yang bukan alumni pesantren. Melainkan ia hanya lulusan salah satu SMA di Kabupaten Natuna.

Bagi Firli, pelajaran agama di sekolahnya dulu sangat minim. Dan ia juga tidak menambah ilmu agama di luar sekolah. Oleh karena itu, kalau masalah agama ia masih gundul. Masih harus banyak belajar dan bertanya kepada teman-teman lainnya yang alumni pesantren. Baik bertanya soal fikih, syariat, tasawuf, dan lainnya.

Dengan semangat Firli yang menggebu ingin menguasai ilmu agama, biasanya sehabis sholat maktubah, ia selalu sorogan Alquran kepada Kang Noval guna memperlancar bacaannya. Selain itu, ia juga banyak bertanya dan memancing diskusi kecil tentang Islam dengan Kang Noval. Tentu Kang Noval sangat terbuka dan senang karena punya teman awam yang memiliki rasa penasaran dan keingintahuan yang kuat dalam memperdalam Islam. Dari sinilah, keakraban mereka berdua terjalin erat. Bahkan, Kang Noval sendiri menganggap Firli sebagai saudaranya sendiri, begitu juga sebaliknya.

6 bulan berlalu.

Masing-masing dari Kang Noval, Firli, maupun keempat teman sekamar ma’had lainnya semakin sibuk dengan kegiatan mereka. Sebagai mahasiswa baru, mereka antusias mengikuti banyak kegiatan di luar ma’had sehingga jarang jagongan di kamar lagi.

Lambat laun,  perubahan sikap terjadi pada Firli. Ia menjadi anggota kamar yang paling jarang berada di ma’had. Ia bahkan sering terkena takzir karena sering membolos kegiatan. Ia juga semakin tertutup dengan teman sekamarnya. Tak lagi sorogan ke Kang Noval, juga tak lagi guyon-guyon dengan Hasbi dan Mutawakil. Entahlah, Hasbi dan Mutawakil pun tidak tahu menahu mengapa Firli menjadi seperti itu.

Suatu sore sekitar jam 4 setelah pulang kuliah menuju ma’had, Hasbi memergoki Firli berada di teras Gedung B. Ia terlihat berkumpul dengan beberapa orang yang semuanya laki-laki. Mereka membentuk lingkaran dan salah satu dari mereka membawa buku yang cukup tebal.

Hasbi hanya memandang Firli sekilas dengan sedikit kecurigaan. Hanya sebatas curiga, Hasbi tidak menghampiri Firli. Tuduhan macam-macam bergejolak di benak Hasbi. Kemudian Hasbi berlalu meninggalkan Gedung B sambil berlari kecil.

Usut punya usut, ternyata Firli sekarang menjadi aktivis salah satu organisasi keislaman di kampus. Biasanya, ia dipanggil Akhi Firli oleh rekan seorganisasinya. Kini ia aktif ikut halakah-halakah organisasi ini. Sehingga ia sekarang jarang bertanya atau berdiskusi seputar agama dengan Kang Noval. Karena ia merasa cukup tercerahkan oleh ustaz-ustaz yang mengisi dalam halakah itu.

Semakin hari, Firli semakin percaya diri menunjukkan jalan pikirannya. Semacam beringas dalam beragama. Dalam persoalan penerapan syariat agama, sekarang Firli terkenal sangat keras dan tidak ada toleransi sedikit pun. Apalagi soal kemungkaran dan kemaksiatan, ia adalah orang nomor satu yang akan memberantasnya.

Contohnya, ketika ia menjumpai temannya yang lagi asyik berpacaran, maka ia akan menegurnya secara terang-terangan. Bahkan kejadian seperti ini tidak hanya terjadi kepada mahasiswa saja, tetapi juga kepada dosen.

Suatu saat Pak Naryo, seorang dosen di kampusnya sedang makan satu warung dengan Firli. Ketika makan, dengan santainya Pak Naryo mengangkat salah satu kakinya ke atas kursi sambil bercakap-cakap. Sembari melahap ayam, Pak Naryo tertawa kecil bercanda dengan temannya. Tiba-tiba Firli menghampiri dan menegur Pak Naryo tanpa permisi.

“Bapak ini dosen Perguruan Tinggi Islam! Tapi kelakuannya, kok seperti ini? Apa Anda tidak malu bila dilihat mahasiswa lainnya, Pak? Islam itu mengatur segala aktivitas penganutnya, termasuk makan, bukan?” tandasnya dengan nada tegas kepada Pak Naryo.

Pak Naryo tersentak. Ia hanya diam sambil membalasnya dengan senyuman kecil. Pak Naryo dan temannya tetap menikmati sarapannya. Tetapi dalam hatinya berkata, “memang mahasiswa sekarang itu pandai dalam masalah agama, tapi tidak tahu dengan siapa ia berbicara. Setidaknya, mbok agak sopan sedikit kalau berbicara sama gurunya, masya Allah, masya Allah, anak zaman sekarang.”

Seakan-akan kacamata kuda dan jalan lurus adalah suatu keharusan bagi kehidupan manusia di bumi. Di samping keras dalam menegakkan syariat islam di lingkungan kampus, Firli juga sering mengoordinir rekan-rekan seorganisasinya guna demonstrasi menegakkan khilafah islamiah di negeri ini.

Baginya, hanya ada satu solusi jika Indonesia ingin bangkit dari segala keterpurukan yang ada. Baik dari segi ekonomi, sosial, budaya, politik, dan pendidikan, yaitu dengan mengganti sistem kepemerintahan dari demokrasi ke sistem khilafah.

Bukannya madu yang Firli dan rekan-rekannya berikan untuk kehidupan beragama di kampus. Melainkan mereka malah memberikan racun-racun pembunuh tradisi beragama para wali. Mereka dengan tegas mengharamkan segala ritual kaum muslimin yang tidak sesuai dengan tuntunan dan ajaran rasulullah, seperti tahlilan, mauludan, selawat al-Barzanji, burdahan, dan lain sebagainya.

Menurut mereka hal itu merupakan bidah. Jika mereka menemukan ada orang-orang yang melakukan hal tersebut, pasti mereka akan menegurnya. Bahkan tidak sedikit yang diajak debat oleh mereka. Mereka selalu melontarkan hadis jagoannya, yaitu “wa kullu muhdatsatin bid’atun, wa kullu bid’atin dholalatun, wa kullu dhalalatin fin naar (setiap perkara yang baru diadakan adalah bidah, dan setiap bidah itu sesat, serta setiap kesesatan itu tempatnya di neraka).” Seolah-olah ujung tanduk nasib manusia hanya ada dua, akan berakhir di surga atau di neraka.

Oleh sebab itu, Hasbi, Kang Noval, dan teman-teman ma’had lainnya menjuluki mereka sebagai “santri karbitan”. Tindakan Firli dan rekan-rekannya sering membuat warga ma’had geram dan resah. Namun apa boleh buat, organisasi keislaman itu semakin kuat. Didukung oleh kader-kader militan serta tak sedikit organisasi mereka mendapatkan kucuran dana dari pihak-pihak luar kampus. Mulus, pergerakan mereka menggait mangsa mahasiswa yang sedang diambang kebingungan dalam perjalanan spiritualitasnya.

***

Baca juga => Pesan KH. Marzuqi Mustamar di Hari Santri: Jadilah Santri Berhati Lokal Berpikiran Internasional

***

Suatu siang di tengah perkuliahan Pendidikan Kewarganegaraan, kondisi ruang kelas cukup panas. Ekspresi mahasiswa tampak bermacam-macam, ada yang mulai bosan dan beberapa dari mereka mulai menguap. Akan tetapi Pak Hanafi tidak mempermasalahkan hal itu.  Beliau selaku dosen pengampu mata kuliah itu, membahas secara tuntas dan tegas tentang pentingnya 4 pilar negara Indonesia, yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Kita harus berterimakasih kepada pahlawan-pahlawan kita terdahulu atas rumusan 4 pilar Bangsa Indonesia. Ini merupakan warisan yang sangat berharga yang harus kita jaga bersama. Jangan sampai bangsa lain menghancurkannya. Sekali 4 pilar ini dihancurkan, saya yakin bangsa ini akan porak-poranda layaknya negara-negara di Timur Tengah,” tegas Pak Hanafi dengan penuh semangat dihadapan para mahasiswa.

Usai menjelaskan materi, Pak Hanafi memberi kesempatan mahasiswanya untuk bertanya. “Adakah pertanyaan dari kalian?” tanya Pak Hanafi. Hening. Dari 40 mahasiswa yang berada di kelas tersebut, semuanya hanya diam sambil menggeleng-gelengkan kepala pertanda tidak ada satupun yang ingin bertanya.

Tiba-tiba dari deret barisan paling belakang, Firli mengacungkan tangan sambil berkata, “Pak, saya mau tanya”. Serentak 39 pasang mata tertuju padanya.

“Silakan, Firli,” dengan antusias Pak Hanafi mempersilakan.

Sambil berdiri, Firli mengajukan pertanyaan, “bagaimana pandangan islam tentang 4 pilar bangsa Indonesia, Pak? Dan sebagai ideologi negara, apakah ada dalil syar’i yang memperbolehkan suatu negara berideologikan Pancasila?”

Pak Hanafi terdiam. Beliau tampak berpikir keras sembari duduk di tempatnya. Sebenarnya Pak Hanafi juga bingung bagaimana menjawabnya, apalagi harus menyertakan dalil. Selain belum pernah mondok, beliau merupakan lulusan universitas umum yang sangat minim sekali kajian-kajian agama.

Akhirnya, pak Hanafi mencoba menjawab sebagaimana yang diketahuinya. “Kalau tentang dalil, saya belum tau, Mas Firli. Akan tetapi pada hakikatnya tidak ada satu pun butir Pancasila yang menyeleweng dari ajaran Islam,” jawaban singkat dari Pak Hanafi.

Belum diperkenankan bicara, Firli langsung menimpali jawaban pak Hanafi.

“Bapak, islam, kan? Nah, kalau ada sesuatu hal yang baru dan itu tidak ada dalil syar’i yang menjelaskannya, bukankah itu termasuk bidah, Bapak? Apakah bapak tidak tahu menahu tentang janji Allah, bahwa bidah itu tempatnya di neraka?”

Pak Hanafi pun wajahnya mulai memerah, ia merasa ditelanjangi oleh Firli dihadapan mahasiswa yang lain. Pak Hanafi hanya terdiam dan tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Dengan semakin percaya diri, Firli malah menyampaikan gagasannya tentang sistem Islam ala khilafah.

“Ketika tidak ada dalil syar’i yang mewajibkan Ideologi Pancasila, dan Anda pun juga tidak bisa menjelaskan secara gamblang tentang pandangan islam terhadap 4 pilar kebangsaan. Lalu kenapa, Bapak masih berpegang teguh untuk mempertahankannya? Bukankah itu sesat? Mengapa, Bapak tidak beralih saja pada sistem khilafah, yang mana telah dengan jelas Allah menerangkan dalam firman-Nya, yaitu QS. Al-Mai’dah; 48, 49, 50, QS. An-nisa’: 59, QS. Al-Baqarah: 178, 179, An-nisa’ 92, 93 serta QS. Al-Maidah 44-45. Masihkah, Anda tetap berpegang teguh pada 4 pilar bangsa yang sesat tersebut?”

Ketegangan menyelimuti suasana kelas saat itu. Seakan-akan Firli menjadi raja, karena pertanyaannya tidak bisa dijawab oleh Pak Hanafi. Pak Hanafi kalah telak.

Melihat fenomena tersebut, Kang Noval sebagai santri tulen yang telah lama belajar agama di pondok pesantren merasa terpanggil untuk menengahi dan menjawab secara tuntas pertanyaan Firli. Dari sinilah terjadi perdebatan sengit antara Kang Noval dan Firli.

Dengan santainya, Kang Noval mengangkat tangannya dan meminta izin kepada Pak Hanafi untuk menjawab pertanyaan dari Firli.

“Iya, silakan, Noval,” ujar dosen itu dengan nada lirih kepada Kang Noval.

Kang Noval mulai mengritisi satu persatu dalil yang diajukan oleh Firli. “Dalil yang digunakan oleh saudara Firli itu secara eksplisit tidak ada satupun yang menganjurkan untuk menegakkan sistem khilafah,” kata Kang Noval dengan nada pelan dan penuh kesopanan.

“Coba kita cermati bersama, bukankah QS. Al-Mai’dah: 48, 49, 50 itu menjelaskan tentang ketaatan kepada pemimpin, QS. An-nisa’: 59 merupakan ayat yang berbicara tentang harta ghanimah, QS. Al-Baqarah: 178, 179 tentang kewajiban menjalankan amanah dan keadilan, QS. An-nisa’: 92-93 membincang tentang menjalankan hukum qishas dan pembunuhan, serta yang terakhir QS. Al-Maidah: 44-45 merupakan ayat tentang vonis kafir, dhalim, dan fasiq bagi yang tidak menjalankan hukum Allah.”

“Intinya, dari sekian dalil yang disebutkan oleh saudara Firli itu menjelaskan tentang anjuran untuk menjalankan hukum Allah, bukan menegakkan sistem pemerintahan khilafah. Bahkan, dalam Alquran maupun Hadis tidak ada satu pun ayat yang menentukan jenis sistem politik tertentu. Jadi, menjadikan Ayat Alquran maupun Hadis sebagai dalil mendirikan negara khilafah itu terkesan memaksakan,” tambah Kang Noval.

Mendengarkan penjelasan Kang Noval tersebut, Firli tetap kokoh dengan keyakinannya, dan ia balik membalasnya.

“Iya, betul yang Anda sampaikan, Saudara Noval. Dan hanya sistem khilafah yang bisa menjalankan semua syariat Allah, bukan?” tandasnya dengan nada mencibir dan coba menjatuhkan argumen lawan.

Karena diawal Firli menggunakan dalil -walaupun dalilnya kurang tepat-, Kang Noval mencoba membalasnya dengan dalil juga sehingga membuat suasana kelas semakin memanas saat itu.

“Ingat, Saudara, negara kita ini terdiri dari beberapa agama, bukan Islam saja. Kalau kita terapkan syariat Islam, Apakah mungkin saudara kita yang mayoritas beragama Hindu di Bali bisa menerimanya? Begitu juga dengan masyarakat Papua yang mayoritas beragama Kristen. Malah memungkinkan mereka untuk lepas dari Indonesia dan mendirikan negara sendiri sesuai dengan agamanya masing-masing. Sehingga hal itu bisa menimbulkan perpecahan sesama bangsa Indonesia. Selain itu, menurut Ibnu Khaldun, Allah membolehkan kita mempunyai negara berdasarkan nalar (siyasah aqliyah), bukan berdasarkan agama (siyasah diniyah), karena syariat membolehkannya dilihat dari sudut tujuan untuk kesejahteraan umum. Dalam buku Al-Ahkam Al-Sulthaniyah, Imam Al-Mawardi mengatakan siyasatul ummah mabniyatun ‘ala ‘aqiidatiha, bahwa politik kebangsaan haruslah dibangun di atas sendi atau nilai-nilai dasar bangsa sendiri. Jadi atas dasar inilah, wajib hukumnya kita menjaga Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI”, terang Kang Noval dengan nada tegas dan lugas.

Setelah mendengarkan penjelasan itu, Firli terus menyangkalnya akan tetapi argumennya tetap kalah dengan dalil dan logika Kang Noval. Sehingga membuat Firli terdiam dan agak sedikit memerah wajahnya. Ia terlihat malu, apalagi ditambah sorak dan tepuk tangan dari teman sekelas yang semuanya mendukung Kang Noval.

Melihat suasana gaduh dan tidak kondusif, Pak Hanafi pun mengakhiri perkuliahan tersebut. Sejak saat itu, hubungan pertemanan antara Kang Noval dan Firli kurang harmonis, walaupun Kang Noval sudah tidak henti-hentinya mencoba meminta maaf setelah kejadian tersebut.

***

Baca juga => Peringati Kemerdekaan, KH. Marzuqi Imbau Santri Jaga NKRI

***

Sudah lama Kang Noval tidak mendengar kabar Firli. Semenjak keluar dari ma’had, sampai ia hampir lulus kuliah, setiap kali nomornya dihubungi selalu tidak aktif. Selain itu, Kang Noval juga berusaha mencarinya ke basecamp organisasi yang dulu ia pimpin, tapi juga tidak menemukannya. Terkadang, ketika mengingat momen perdebatannya dulu dengan Firli, Kang Noval masih diselimuti rasa bersalah.

Sebagaimana lumrahnya mahasiswa akhir, Kang Noval dan teman-temannya mengerjakan tugas akhir di warung kopi langganannya. Ditemani secangkir kopi dan makanan ringan serta asap rokok yang tak henti-hentinya mengepul. Mereka juga ramai berbincang-bincang, mungkin ada sedikit bumbu-bumbu ghibah.

Di tengah perbincangan, ponsel Kang Noval berbunyi, ada panggilan masuk.

Assalamualaikum,” ucapan salam nan sopan dari si penelepon.

Jantung Kang Noval berdetak kencang. Ia tak pernah menyangka sebelumnya tentang siapa yang meneleponnya malam ini. Kang Noval menanggapi dengan antusias.

Di telepon mereka bercakap-cakap cukup lama. Beberapa kali tawa pecah di antara mereka. Beberapa kali pula, mereka kehabisan topik pembicaraan. Keduanya saling diam.

“Aku sudah bertaubat, Kang, aku sudah bertaubat,” suara penuh penyesalan menyeletuk di seberang telepon.

“Bertaubat? bertaubat kenapa, Fir?” tanya Kang Noval.

“Aku sekarang sudah bertaubat, Kang. Bertaubat dari pengaruh organisasiku dulu. Beberapa waktu yang lalu, aku sempat terpuruk,” Firli membuang nafas.

“Aku mengalami kegamangan yang hebat. Jiwaku tidak tenang. Sebenarnya, batinku selalu tertekan ketika aku harus menegakkan yang katanya syariat islam. Sampai-sampai aku pernah bertengkar dengan kedua orang tuaku. Aku sempat terombang-ambing sehingga lebih memilih berdiam diri di kos. Aku tidak berani berangkat ke kampus agar tidak bertemu rekan-rekan organisasiku yang saat itu tengah mengincar dan mencari keberadaanku. Setiap hari aku selalu di teror, aku selalu dihubungi dan dirayu-rayu. Tidak hanya itu, aku juga sering diimingimingi surga oleh mereka.”

Oiya, sampean tau, nggak, bagaimana keburukan mereka, Kang?” tambah Firli.

Nggak tau, memang gimana, Fir?” selidik Kang Noval penasaran. Ia mengerutkan kening.

“Ustazku dulu itu, Kang, setiap kali ceramah isinya selalu menjelek-jelekkan negeri ini, bahkan mengeklaim thoghut, dan sering juga ia mengafir-kafirkan umat muslim yang tidak sesuai dengan keyakinannya. Akan tetapi, dibalik semua itu, ia makan gaji PNS dari jabatannya menjadi dosen Perguruan Tinggi Islam Malang ini. Bukankah uang itu dari negara yang ia klaim thoghut tersebut, Kang?”

“Bahkan info yang terakhir kudengar, ia kena kasus korupsi dana pembangunan kampus pasca itu, lho, Kang. Sungguh perkataannya tidak sesuai dengan kelakuannya. Dari kejadian ini, aku sekarang bertaubat dari faham seperti itu, Kang. Dan sekarang aku mondok di Gasek, Kang. Memang benar kata jenengan dulu, belajar agama itu tidak bisa instan,” ceritanya panjang lebar ke Kang Noval.

Sebelum Kang Noval menanggapi ceritanya, tiba-tiba terdengar suara Tutt…tutt…tutt… pertanda telepon mati. Kang Noval menatap layar ponselnya. Ia tak tahu apakah sinyalnya yang buruk atau pulsanya yang habis. Tetapi, yang menelepon, kan, bukan ia, jadi pulsanya tidak berkurang.

Dan ketika Kang Noval mencoba menghubungi lagi, ternyata nomornya sudah tidak aktif. Ia masih menyisakan sejuta pertanyaan untuk Firli. Apalah daya, situasi tidak mendukungnya. Meskipun belum sempat menanggapi cerita Firli, setidaknya Kang Noval sudah merasa lega dan sangat bersyukur. Karena sahabatnya telah mendapatkan hidayah dari Allah swt. Hanya kata Alhamdulillah yang terucap dari mulut kang Noval, ketika mendengar berita tersebut. Suasana malam itu terasa menghangat.

Wallahu a’lam bisshowab. 

Penulis: Ach. Sirojul Munir

Editor: Indah A.  Maharani

 

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: