Rabu, Desember 2Ponpes Sabilurrosyad Gasek Malang
Shadow

Santri Gasek dan Kegiatan Dapur

Santri Gasek dan kegiatan dapur

Ponpesgasek.com- Pondok Pesantren Sabilurrosyad Gasek sering menjadi tuan rumah acara-acara besar mulai dari lokal sampai tingkat Jawa Timur. Acara-acara besar yang dimaksud seperti Liwetan Akbar, Halalbihalal setiap tahun, sampai terakhir kemarin Konferwil GP ANSOR Jawa Timur. Dilihat dari acaranya saja pasti yang hadir ratusan bisa sampai ribuan orang. Kalau ada acara besar seperti itu sudah pasti membutuhkan konsumsi yang banyak. 

Urusan dapur adalah kegiatan paling sibuk di lingkungan Ponpes Gasek ketika acara-acara besar makin dekat hari pelaksanaannya. Persiapan memasak pun bisa dilakukan sehari penuh bahkan sampai berhari-hari. Mengapa? Santri Gasek pasti tahulah, bisa dilihat dari besarnya acara, pasti membutuhkan waktu cukup lama untuk mempersiapkan segala bahan-bahan yang akan dimasak.  Persiapan yang matang tidak bisa hanya sehari atau dua hari saja. Kegiatan masak-memasak membutuhkan tenaga besar, maka semua santri dengan senang hati menyumbangkan tenaga untuk membantu menyukseskan acara pondok tercinta. Hampir semua acara besar baik dari internal pondok atau acara dari pihak luar yang diselenggarakan di pondok, konsumsi yang disajikan adalah hand made santri Gasek.

Ponpes Sabilurrosyad Gasek sendiri juga mempunyai jadwal rutinan yang mengharuskan para santri untuk memasak. Rutinan pondok terbagi menjadi 3, yaitu acara mingguan, bulanan, dan tahunan. Acara mingguan seperti pengaosan Jumat Pagi dan Pengajian PWNU tiap Sabtu. Kemudian acara bulanan, ada Manaqib dan Burdah. Acara tahunan yakni seperti HBH (Halalbihalal). Namun, tidak menutup kemungkinan ketika ada acara-acara insidental di ndalem juga mengharuskan untuk memasak.

Yuk simak, seperti apa kegiatan para santri ketika di dapur.

Halalbihalal Tradisi Khas Nusantara

Pembagian Piket Masak

Di pondok putri, pengurus sudah membagi santri putri menjadi beberapa kelompok untuk melaksanakan piket masak sesuai jadwal yang telah ditentukan. Tujuannya agar tetap ada penanggung jawab atas konsumsi kegiatan saat itu, meskipun semua santri turut membantu. Pembagian piket masak berada di bawah wewenang divisi Ubudiyah yang dikoordinatori oleh Mbak Iftitahur Rohmah.

Wajib hukumnya bagi santri puteri yang sudah mendapat jatah piket masak untuk menjalankan tugasnya. Jika ada santri yang izin tidak bisa piket masak, maka dari pihak pengurus mengharuskan mereka mencari pengganti. “Mbak-mbak ada yang bisa menggantikan piket masak kulo hari ini?” kalimat sejenis ini sering muncul di grup whatsapp pondok putri ketika ada yang mencari pengganti masak.

Mencicipi Makanan

Kebiasaan mencicipi makanan sering sekali terjadi di dapur belakang pondok puteri. Pasalnya, mencicipi bertujuan untuk merasakan masakan yang hampir matang, apakah bumbu sudah meresap atau belum. Namun, tangan usil santri Gasek yang memasak kadang-kadang juga main ambil saja. Biasanya mereka mengatakan “Iki kok koyoke enak mbak”, dengan tangan yang secepat kilat mengambil dan melahapnya disertai dengan senyum lebar.

Santri sekarang memang harus lebih banyak bersyukur. Berbeda dengan santri dulu yang harus selalu bersabar, seperti hal kecil tentang makanan. Mengapa santri sekarang harus banyak bersyukur? Karena di setiap kesempatan mereka selalu ada yang namanya makan-makan bersama dan jarang sekali santri zaman sekarang terlihat susah dalam urusan makanan. Alhamdulillah.

Pesan Abah Yai untuk Santri

Abah Yai Marzuqi Mustamar dan Umik selalu memberi perhatian penuh kepada santrinya. Salah satunya adalah ketika Abah/Umik menengok ke dapur belakang. Abah dan Umik sangat tegas kalau berkaitan dengan keadaan masakan. Umik selalu mengajarkan santrinya disiplin, seperti waktu mulai masak, perkiraan waktu masakan matang, dan terkait jumlah masakan yang harus cukup.

Abah Yai juga sering menyempatkan waktu bersenda gurau atau gojlokan bersama santrinya. Biasanya beliau bertanya untuk mencairkan suasana di dapur agar tidak terjadi kegupuhan. Beliau juga memberikan perhatian dengan bertanya kepada teman-teman dapur yang ikut rewang “mangane arek-arek sing rewang piye? Wis ono ta? Lek iso masak e cukup gawe arek-arek pisan” (makan untuk mbak-mbak dan mas-mas yang ikut bantu bagaimana? Sudah ada? Kalau bisa masaknya yang cukup untuk mereka juga).

Begitu besar perhatian dan kasih sayang Abah Yai Marzuqi kepada para santrinya di tengah kesibukan beliau. Semoga beliau selalu diberikan kesehatan dan perlindungan oleh Allah.

Harapan Santri

Banyak sekali manfaat dari kegiatan dapur bagi santri, seperti memahami dan mengerti bagaimana cara memasak. Hal itu bisa menjadi bekal santri kelak setelah boyong dari pondok pesantren dan membaur dengan masyarakat sekitar. Suka duka santri memasak acara besar pastilah ada. Dimulai dari suka yaitu menjadikan diri makin tahu bagaimana rasanya masak besar untuk banyak orang dan yang pasti menambah saudara baru di pondok dari yang belum kenal menjadi kenal. Kalau duka, lelah pasti namun semua itu dilakukan untuk mengharap barokah kiai. Momen yang paling seru ketika di dapur adalah kegupuhan yang terjadi ketika menyiapkan konsumsi acara besar.

Harapan santri yang paling utama adalah  ingin mendapatkan ridho dan barokah dari kiai. Dapat belajar dan mendapat banyak pengalaman di pondok adalah bonus sebelum benar-benar masuk ke masyarakat nanti.

Penulis: Maulydia Alfi

Editor: Zahro’ul Aini

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: