Kamis, Oktober 29Ponpes Sabilurrosyad Gasek Malang
Shadow

Pura-Pura Sabar Adalah Kunci Menjadi Sabar

Pura-pura sabar adalah kunci menjadi sabar
Ilustrasi: Tim Ponpesgasek.com

Ponpesgasek.com – Sering kali dalam hidup, kita dihadapkan dengan berbagai persoalan. Mulai dari persoalan yang sederhana hingga persoalan yang amat rumit. Ada persoalan yang dapat kita hadapi dengan kepala dingin. Tak jarang pula ada persoalan yang kita hadapi disertai amarah, jengkel, kesal, atau dongkol. 

Kita sebagai manusia memang dianugerahi ego oleh Tuhan. Jadi wajar apabila emosi-emosi tersebut yang muncul pertama kali sebagai reaksi ketika kita tertimpa permasalahan atau tertimpa hal-hal yang tidak kita sukai. 

Lantas apakah kita akan membiarkan amarah, kedongkolan, dan kejengkelan terus menguasai diri kita?  Sesungguhnya hal itu amat menyiksa batin. Maka dari itu, kita harus menghadapi berbagai persoalan hidup dengan sabar. Yups, sabar.

Sabar Adalah Menahan

Sabar adalah sifat baik yang ringan diucap, sehingga terasa berat untuk dijalani. Betapa tidak, sabar mengharuskan kita untuk menahan diri dari keluh kesah dan rasa benci, menahan lisan untuk tidak mengadu, dan menahan anggota badan untuk tidak mengganggu atau merusak. Menurut Al-Qardhawi, seorang cendekiawan muslim dari Mesir mendefinisikan sabar adalah menahan dan mencegah diri dari hal-hal yang dimurkai Allah dengan tujuan semata-mata mencari rida Allah. 

Memiliki sifat sabar adalah perintah Allah. Allah menyeru kepada orang-orang yang beriman agar bersabar dan memperkuat kesabarannya. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 200: 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱصْبِرُوا۟ وَصَابِرُوا۟ وَرَابِطُوا۟ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang beriman. Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.”

Baca juga => Cermin itu Jujur, Kita yang Kurang Syukur

Perintah agar bersabar tidak hanya diperuntukkan kepada orang-orang yang terkena musibah atau persoalan pelik. Tetapi sabar juga diperintahkan dalam menjauhi larangan-larangan Allah dan dalam menjalankan ketaatan kepada Allah. Imam Ghazali dalam kitabnya, Mukasyafatul Qulub, hal. 10  menyebutkan bahwa,

والصَبْرُ عَلَى اَوْجُهٍ صَبْرٌ عَلَى طَاعَةِ اللّٰهِ وَصَبْرٌ عَلَى  مَحَارِمِهِ وَصَبْرٌ عَلَى المُصِيْبَةِ

“Sabar terdiri dari beberapa bagian, yaitu sabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah, sabar dalam menjahui larangan-larangan Allah, dan sabar dalam menerima musibah.”

(Sumber: bincangsyariah.com) 

Pura-Pura Sabar

Bersabar memang tidak mudah untuk dilakukan, apalagi ketika kita berada pada puncak emosi negatif yang membara. Sementara kita harus menempuh kesabaran sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Lalu apa yang bisa kita lakukan? Berpura-pura sabar, yaa, itulah kuncinya. 

Berbicara tentang pura-pura, biasanya sikap ini identik dengan anggapan kepada seseorang yang bermuka dua. Lain di mulut, lain di hati. Akan tetapi, pura-pura menjadi orang yang sabar bukan termasuk perbuatan dosa. Sebagaimana kata ulama tasawuf Al-Junaid Al-Baghdadi dalam Risalah Qusyairiyah, bahwa sabar itu seperti meneguk kepahitan tanpa wajah cemberut. Sekalipun kita menelan sesuatu yang pahit, kita tidak akan menunjukkannya melalui raut wajah. 

Baca juga => 5 Langkah Menghadirkan Pemaafan Sejati Menurut Perspektif Buku Forgiving the Unforgivable

Ketika kita belum bisa mencapai derajat sabar dengan keadaan hati yang benar-benar ikhlas dan lapang, maka pura-pura sabar adalah salah satu cara kita melatih kesabaran. Menjadi pribadi yang sabar tidak serta merta bisa kita dapatkan, tetapi kita mesti mengusahakannya dengan sungguh-sungguh. Semuanya memerlukan waktu, kesadaran, dan pembelajaran secara berkelanjutan. Oleh karena itu, berawal dari pura-pura, lama kelamaan akan terbiasa hingga kesabaran itu melekat menjadi karakter kita. Sehingga ketika sudah sabar, tentu banyak manfaat yang akan kita peroleh. Salah satunya, segala persoalan hidup akan terasa ringan. 

Keutamaan Sabar

Salah satu di antara sifat yang paling mulia adalah sabar. Tabiat sabar sering diidentikkan dengan keimanan. Ibarat tubuh, sabar adalah kepala. Kalau suatu tubuh kepalanya tidak berfungsi, maka organ lainnya juga tidak berfungsi. 

Oleh sebab itulah, sabar memiliki banyak sekali keutamaan yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an, Hadis, maupun penjelasan para ulama. Di antara keutamaannya adalah orang yang sabar akan mendapatkan rida, kebahagiaan, terciptanya izzah (keagungan), kemuliaan, kebaikan, kemenangan, bantuan dan kecintaan dari Allah.

Baca juga => 3 Fadilah Bertaubat dan Istighfar, Salah Satunya Melapangkan Rizki

Kita sebagai hamba Allah tentu berharap menjadi golongan yang dicintai Allah, bukan? Orang yang dicintai Allah akan mendapat keselamatan selama di dunia sampai di akhirat. Allah Swt. telah mengabarkan kepada hamba-Nya bahwa salah satu golongan yang mendapat kecintaannya adalah orang-orang yang sabar. Sebagaimana Allah tegaskan dalam firman-Nya,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)

Sabar laksana samudera yang tak bertepi dan aliran sungai yang tak berujung. Sabar itu tidak terbatas. Sebab itulah Allah mencintai orang-orang yang sabar dengan rupa pertolongan dari-Nya.

Puncak dari semua itu adalah buah yang akan kita dapatkan di akhirat kelak, yaitu kenikmatan abadi yang kekal. Semoga Allah menghendaki kita menjadi golongan orang-orang yang sabar. Aamiin.

Penulis: Dina Surya Mega

Editor: Indah A. Maharani

Facebook Comments

1 Comment

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: