Rabu, Desember 2Ponpes Sabilurrosyad Gasek Malang
Shadow

Ngudud Itu Sakral, Bro! Bukan Kegiatan Sembarangan

Ponpesgasek.com- Sebelum membicarakan semua ini, sebaiknya saya mengaku saja. Saya benci rokok! Sebagaimana orang yang membenci buku, kerap membakar buku. Lha kalau saya, setiap ada rokok di saku, dan ada kesempatan, langsung saya bakar. Artinya, saya perokok. Bahkan artikel ini saya ketik sambil merokok, sesekali terbatuk kecil karena menghisap terlalu dalam.

Entah berapa kali keluarga mengingatkan, baik dalam bentuk “presentasi” bahaya rokok, atau dalam bentuk omelan ringan. Mereka menghendaki saya berhenti merokok, atau setidaknya mengurangi. Saya menurut saja, rokok yang awalnya ada 12 batang, saya kurangi satu persatu hingga habis. Dengan cara dibakar dan dihisap tentunya. Berkurang, kan? Tapi serius, saat ini saya merokok tidak lebih dari 5 batang/hari.

Setelah beberapa tahun lalu, menahan haus dan lapar di bulan Ramadhan tidak ada apa-apanya dibanding menahan dorongan merokok. Ngomong-ngomong puasa, pertengahan Ramadhan lalu saya berbuka bersama keluarga di sebuah rumah makan yang pada saat itu penuh sesak oleh para “pembatal” puasa. Di tengah keriuhan, tiba-tiba terdengar suara korek dinyalakan, tak lama kemudian asap tebal mengepul dari mulut rucing seorang bapak. Ajaibnya, dengan anak yang berumur tak lebih dari 2 tahun di pangkuannya. Saya yang juga perokok ini berpikir, bagaimana mungkin dia melakukan itu? Apakah saya munafik? Mungkin. Sejauh ini saya masih merasa rokok itu enak. Intinya, hormon dopamin yang dilepaskan oleh otak karena nikotin itu, benar-benar menciptakan sensasi rileks, dan nyaman (Liem, 2010: 35-37).

Rokok Berbahaya, Tapi Yang Lain Juga Tak Kalah Berbahaya

Jadi, sekitar 4.800 komponen kimia ada pada asap yang mengepul dari mulut bapak itu tadi. Setidaknya ada 2.500 komponen kimia pada tembakau yang siap dibuat rokok. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.100 komponen diturunkan menjadi komponen asap secara langsung, dan 1400 sisanya mengalami dokomposisi, bereaksi dengan komponen lain, lalu membentuk komponen baru sebanyak 2.300 komponen, sehingga total ada 4.800 (Tirtosastro & Murdiyati, 2010: 33-34).

Orang-orang yang nongkrong di warung hingga 3-6 jam/hari, dan menghabiskan 12 batang rokok di waktu itu, sementara ia hanya habis 1 gelas kopi, saya yakin, ia pun tahu kalau tar, nikotin, gas CO, dan NO dari tembakau itu berbahaya baginya (bukan siapa-siapa, saya membicarakan diri saya sendiri). Setidaknya beberapa penelitian membuktikan bahwa sedikitnya ada 25 jenis penyakit yang mendera beragam organ tubuh manusia karena konsumsi rokok (Tirtosastro & Murdiyati, 2010: 33-34).

Namun dalam riset yang dilakukan oleh Kemenkes, ditemukan bahwa orang yang sering (setiap hari) mengonsumsi makanan/minuman manis 55,8% lebih berpeluang terkena kardiovaskuler (jantung koroner) ketimbang orang yang merokok setiap hari (peluang 47,5%). Sedangkan dari seluruh penderita kardiovaskuler perempuan di Indonesia,  97,3 %-nya adalah non-perokok (Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI, 2014.) Hipertensi sering dianggap faktor utama penyebab kardiovaskuler. Sebaliknya, sebuah penelitian menyatakan bahwa variabel paparan asap rokok di rumah pada perempuan tidak ditemukan pengaruhnya terhadap kejadian hipertensi (Nurwidayanti & Wahyuni, 2013: 244-253).

Lalu bagaimana? Saya tidak tahu, saya bukan ahli kesehatan dan juga tidak ingin berlarut-larut dalam perdebatan bahaya-tidaknya merokok. Tapi kalau tolok ukurnya adalah kesehatan, enteng-entengan saja, sebagaimana tembakau, gula tebu atau softdrink dengan kadar gula tinggi juga layak dikendalikan, karena resikonya sama. Hari Tanpa Tembakau Sedunia bagi saya juga absurd, seolah menafikan banyak manfaat lain tanaman tembakau yang tidak hanya untuk rokok. Misalnya dimanfaatkan menjadi pestisida alami, pengobatan gangguan syaraf, bahkan mensintesis protein untuk obat anti-kanker, dan lain sebagainya.

Sekali lagi enteng-entengan, semisal di masa depan ternyata dadar jagung membahayakan jiwa manusia, haruskah seluruh populasi tanaman jagung dibinasakan? Bagaimana nasib marning, bledhus, sego empog, atau gula jagung yang cukup membantu (meskipun mahal) penderita diabetes melitus itu? Haqqul yaqiin, sobat perokok maupun bukan, sudah sangat paham tentang bahaya merokok. Ribuan artikel tentang bahaya merokok dengan justifikasi saintifik berserakan di dunia maya. Tidak sulit untuk mengetahui dan mendapatkannya. Jika saya menuliskan kembali itu semua, artikel ini hanya akan menjadi salah satu dari mereka.

Merokok Tradisi Nusantara

Dalam “History of Java” Raffles menyatakan pada tahun 1601, orang Belanda sudah memperkenalkan kebiasaan menghisap tembakau. Keterangan tersebut juga sesuai dengan naskah lokal. Babad Ing Sangkala menyebutkan kemunculan tembakau dan kebiasaan menghisap rokok pada tahun 1601, tepatnya pada masa Panembahan Senapati memerintah Mataram. Bahkan pada masa itu, tembakau sudah ditanam di Jawa untuk mencukupi kebutuhan sendiri (Sunaryo, 2013: 35-37).

Hingga saat ini rokok kretek dengan saus dan cengkeh sering disebut-sebut sebagai warisan asli Nusantara. Di Yogyakarta saya masih menjumpai kelembak menyan dijual di beberapa tempat. Kelembak menyan atau klembuk menyan merupakan tembakau yang dicampur dengan wewangian (kemenyan). Di-linthing dalam balutan klobot, lalu diikat dengan benang. Bentuknya seperti terompet tahun baru, besar di ujung, mengecil di pangkal. Setahu saya, klembak sering digunakan sebagai sajen, dihisap saat berdoa, atau sedang memiliki hajat yang ingin dikabulkan.  Bahkan, sudah seperti menjadi teman setia saat bermalam di tempat keramat.

Saya juga ingat semasa kecil, eyang putri sekali waktu menyediakan “dhaharan” berupa segelas kopi, dan air putih dengan kembang telon mengambang di atasnya, sepiring nasi rawon, dan dua batang rokok kretek. Kesemuanya itu diletakkan di atas satu nampan, dan disajikan di ruang tamu. Konon dhahar-caos tersebut untuk arwah leluhur yang datang berkunjung. Sewaktu eyang putri wafat, setiap malam tahlil selalu disajikan kepada jama’ah berbatang-batang rokok yang ditempatkan di gelas. Tentu saja, saya yang bertugas menyiapkannya. Entah mengapa, saya selalu girang melakukannya.

Merokok juga sudah menjadi tradisi para Ulama’ atau Kyai (lebih-lebih santri) terutama dari kalangan NU. Mungkin ada benarnya plakat tulisan “NO SMOKING” yang kerap muncul di ruang-ruang publik. Itu artinya “N.O smoking, tidak smoking tidak N.O” (N.O – Nahdlatul Oelama). Maksudnya, kalau NU, ya smoking alias merokok. Kalau tidak merokok, diragukan ke-NU-annya. Demikian guyonan justifikasi para perokok dari kalangan Nahdlatul Ulama (Sanusi, 2015). Baca: Plesetan-plesetan Lucu Selama Muktamar NU

Rokok bagi orang Jawa memiliki ruang kultural tersendiri, terutama bagi “kawula alit” yang “urip sakmadya”. Dengan ngudud, orang Jawa mencukupkan diri, mandiri, dan tentunya berbahagia. Mengenai hal ini sobat bisa baca buku “Ngudud: Cara Orang Jawa Menikmati Hidup” karya Iman Budhi Santosa. Sampai di sini, saya melihat rokok menjadi bagian dari laku spiritual masyarakat Jawa.

Sakralitas rokok tidak hanya berhenti pada ritual-sakral yang dilakoni oleh masyarakat relijius-tradisional, namun juga terjadi pada masyarakat modern yang notabene rasional-sekular. Teman saya seorang programmer, tiap hari membawa ransel besar namun isinya bukan laptop, melainkan kotak kayu berisi tembakau dan alat linthing portabel. Selepas kerja di warung kopi, tangannya yang cekatan namun tak grusa-grusu itu membidani lahirnya kretek tingwe yang rapi nan padat.

Hisapan pertama dari “mahakarya” itu membuatnya tertunduk dan terpejam, kira-kira 4 detik kemudian, ia menghembuskan asap sembari berkata “hmm, mbako enak iki!”. Lalu kami mengobrol kembali. Sejauh yang saya tahu, ia tak pernah membeli rokok bungkusan, apapun itu. Artinya, ketika ingin merokok, ada sebuah proses yang harus dilalui, yang tidak bisa grusa-grusu. Mungkin baginya, ngudud harus dilakukan dengan tuma’ninah, yang mustahil dilakukan misalnya, sambil mengendarai motor, mengantre, atau merokok di kendaraan umum dan di ruang publik.

Intinya, saya bersepakat dengan mbak Zahro’ul Aini (baca di sini: “Mas, Asap Rokoknya Bisa Ditelan Sekalian?”) dalam sudut pandang yang berbeda. Jadi bagi saya, merokok ini sama sekali bukan sembarang kegiatan, bukan aktivitas enteng-entengan. Ngudud itu sakral, hendaknya tidak dilakukan serampangan.

Membagi Waktu Merokok

Dengan ditemani secangkir kopi kenthel, sobat bisa ngudud di pagi hari sebelum berangkat kerja di teras rumah. Di waktu ini, luangkan waktu untuk memikirkan rencana dalam menjalani hari, bisa terkait dengan pekerjaan, atau aktivitas produktif lainnya. Usahakan waktunya cukup, tidak terlalu cepat, atau terlalu lama sehingga membuat berangkat kerja menjadi terburu-buru.

Waktu kedua, bolehlah kita kembali ngudud di siang hari, selepas bedhug atau makan siang bersama rekan-rekan kerja sesama perokok, sekadar refresh dari kejemuan. Atau, jika waktu istirahat terlalu mepet, sobat bisa menggantinya sepulang kerja di warung kopi favorit yang bisa merokok. Di waktu ini sobat bisa memanfaatkan waktu ngopi dan ngudud sebagai wahana bersosialisasi. Maksimalkan kesempatan ini untuk mempererat hubungan sosial dengan sesama, ngobrol saja, apapun itu, smartphone sementara dapat diabaikan dulu.

Jika sobat perokok berada di ruang publik, carilah smoking area. Saya yakin ada beberapa orang di ruangan itu, ajaklah mereka mengobrol, berkenalan, perluas hubungan sosial, jangan malah main hape. Sering saya menjumpai, barang empat hingga lima orang nongkrong dalam satu meja di warung kopi, tapi sibuk dengan gadget masing-masing, lalu untuk apa berada di situ? Jadilah perokok sosial.

Di waktu yang ketiga, sobat perokok bisa kembali ke tempat di mana ngudud pertama kali dilakukan di hari itu. Selepas Isya’, pastikan anggota keluarga sudah tidur, atau di dalam rumah, sobat dapat menikmati barang 2 batang rokok terakhir di hari itu dengan tuma’ninah. Sambil medongkrong di teras rumah, dan ditemani kopi kenthel tentunya, sobat bisa menghisap dalam-dalam udud-nya sambil merefleksi atau mengevaluasi apa-apa yang telah dikerjakan atau telah terjadi hari itu. Boleh juga dilanjutkan dengan membaca buku hingga menjelang waktu tidur.

Saya pikir, dengan “ngudud tiga waktu” ini, sobat perokok tak akan lagi menemukan kenikmatan ngudud sambil berkendara, dekat anak kecil, atau “memaksakan diri” menabrak prinsip etik dengan merokok di transportasi umum atau ruang publik. Merokok dengan kebijaksanaan, menurut saya, mampu mensubstitusi istilah “perokok” yang saat ini telah mengalami demonisasi, dengan istilah “pelestari kretek”, yang kedengarannya lebih bertanggung jawab. Dalam hal ini, berolah raga dan makan makanan sehat tentu tidak ada salahnya, yang dapat dimaknai sebagai upaya menekan dampak negatif, sembari mengoptimalkan “manfaat” sosial dan psikis dari rokok. Ya, karena ngudud itu sakral, bukan aktivitas enteng-entengan, jadi jangan dilakukan sembarangan.

Penulis: Aditya Nirwana

Editor: M. Chasbi Asshidiq

*Artikel ini merupakan artikel pemenang sayembara Opini beberapa waktu lalu yang diselenggarakan oleh Ponpesgasek.com dalam memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: