Kamis, Juli 16Ponpes Sabilurrosyad Gasek Malang

Masa Depan Perpustakaan Sekolah VS Pemustaka Gen Z di Era Disrupsi  

Masa Depan Perpustakaan Sekolah VS Pemustaka Gen Z di Era disrupsi
Ilustrasi Gambar Oleh: Ria ‘Ainun Nafi’ah

Ponpesgasek.com – Perpustakaan adalah rumah peradaban. Banyak sekali cakrawala ilmu yang ada di dalamnya. Namun, kekayaan yang jelas sumbernya itu belum banyak yang memanfaatkan. Terlebih  lagi, tidak sedikit perpustakaan yang dikelola dengan kurang baik. Bahkan, hal yang demikian disertai dengan alasan yang tidak jelas.

Berawal dari keadaan di atas, lalu ditambah lagi dengan serbaneka digital di era disrupsi pada saat ini. Hal demikian tentu sangat memengaruhi kualitas literasi generasi saat ini, khususnya partisipan didik maupun guru. Sebab banjir bandang informasi benar-benar telah terjadi. Demikian pula dengan sumber-sumber yang sangat mudah diperoleh melalui gawai pintar mereka, kemudahan mengakses apa pun, kapan saja, dan di mana saja. Kalau dalam istilah sumber belajar disebut Open Resource (OR) dan Open Educational Resource (OER).

Pengelolaan Perpustakaan Sekolah dengan Pendekatan yang Baru

Pengelolaan perpustakaan sudah seharusnya direncanakan dengan baik. Dari segi tata kelola sudah sepantasnya mengacu pada kebaruan zaman. Yaitu dengan merujuk pada generasi sekarang sebagai kiblatnya dan menyajikan konsep perpustakaan bergaya milenial. Yang nantinya wujud tampilan, fasilitas koleksi, dan jaringan internet yang mendukung dapat benar-benar dimanfaatkan oleh generasi Z dengan sangat optimal.

Selanjutnya, dalam mengelola perpustakaan petugas harus memahami konsep VUCA. Konsep yang dimaksud ialah Volatile (bergejolak), Uncertain (ketidakpastian), Complex (kompleks) dan Ambigue (tidak jelas). Konsep ini diterapkan dalam mengelola perpustakaan sekolah. Dengan mengacu pada salah satu unsur VUCA, maka dapat dijadikan pijakan untuk membuat prediksi program pengembangan perpustakaan dengan konsep milenial yang dimaksud.

Baca juga => Emansipasi, Feminisme, dan Islam

Kalau di banyak perguruan tinggi telah memiliki layanan akses jurnal berlangganan internasional maupun lokal, maka perpustakaan sekolah diharapkan melakukan hal serupa. Agar partisipan didik maupun guru dapat mengakses layanan jurnal itu secara daring. Sehingga secara fisik perpustakaan tidak terlalu “mewah”, melainkan sinergi dan automasi sistem di dalamnya saja yang harus mewah dan “jenawa”.

Dengan demikian, perpustakaan sekolah diharapkan tidak hanya menjadi sarana untuk kegiatan akademik dan rujukan keilmuan, namun juga memiliki nilai daya saing dan sejajar dengan perpustakaan yang telah berkembang.

Mengenali Karakteristik Pemustaka Generasi saat Ini

Setelah membahas fasilitas, mari kita merefleksi kata literasi dua tahun ke belakang. Semua mendadak literasi. Kegiatan apa pun telah berlabel literasi. Memang benar jika aktivitas membaca, menulis, dan menghitung merupakan kemampuan umum. Tetapi yang menjadi prihatin adalah bagaimana kualitas literasi partisipan hari ini, terlebih anak didik (Gen Z)? Ada yang menyebut mereka adalah generasi strawberry. Bentuknya menawan, tetapi maaf, mereka cepat membusuk.

Sudah tidak menjadi rahasia kalau generasi Gen Z begitu akrab dengan akses internet yang cepat luar biasa. Hampir sebagian besar interaksi dalam hidupnya berada di dunia digital. Bahkan tidak sedikit yang menjadi penduduk digital. Kondisi itu dapat dicermati melalui banyaknya akun media yang dimiliki. Dengan gawai pintarnya, dibarengi dengan kecepatan internet yang luar biasa masihkah mereka mau “mampir” ke perpustakaan sebagai rujukan mereka untuk menyelesaikan kesulitan dalam pembelajaran?

Melihat kondisi yang demikian, bisakah perpustakaan menjadi tempat penyelesaian kebutuhan rujukan sebelum mereka masuk kelas? Atau lebih tepatnya menjangkau tanpa harus pergi ke perpustakaan sekolah jika memang tidak perlu. Tentu bisa, asalkan perpustakaan sekolah memiliki keunggulan fasilitas seperti yang telah dijelaskan pada pembahasan awal. Diperlukan  automasi dan integrasi sistem yang terkoneksi dengan berbagai layanan jejaring perpustakaan digital lainnya. Sedangkan untuk pengunjung, sediakan jaringan Wi-Fi super cepat, serta colokan listrik yang banyak yang dipadukan dengan penataan ruang baca yang menarik atau lesehan santai ala kafe.

Baca juga => Karakter Pemuda Zaman Jahiliyah Modern

Sehingga, dengan melakukan pendekatan-pendekatan tersebut akan membuat para pemustaka nyaman berada di perpustakaan dan menikmati suasana santai layaknya seperti di kafe. Dengan konsep sederhana ini, perpustakaan akan menjadi rujukan favorit para pemustaka. Bagi pihak pengelola perlu adanya kesadaran bahwa perpustakaan bukan gudang yang berfungsi menyimpan buku, tetapi sebagai sumber rujukan serbaneka yang terbarukan dengan kesemestaan pengetahuan di dalamnya.

Semoga perpustakaan sekolah menjadi program prioritas para pengambil kebijakan. Jika di sekolah maka kepala sekolah diharapkan memberi dukungan pengembangan perpustakaan di sekolah-sekolah setempat. Sehingga perpustakaan dapat dijadikan motor penggerak pengembangan literasi yang ada di sekolah. Karena perpustakaan merupakan bagian integrasi pelaksanaan literasi dan pembelajaran. Lalu senantiasa mengembangkan layanan kreatif yang unggul dengan berbagai lintas sektor  potensial yang berada di lingkungan sekolah.

Gen Z adalah pemustaka hari ini. Maka layanan perpustakaan harus disesuaikan dengan layanan  kekinian. Teruslah maju perpustakaan sekolah guna memberantas rendahnya kualitas membaca para pemustaka.

Penulis: Moh. Ahsan Shohifur Rizal, S.Pd., M.Pd., CH., CHt. (Alumni Gasek)

  • Kepala Perpustakaan SMA Negeri 1 Kepanjen
  • Fasilitator Baca Tulis Regional Jawa Timur

Editor: Teguh Hidayanto

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: