Kamis, Oktober 29Ponpes Sabilurrosyad Gasek Malang
Shadow

Kiai Masduqie: Meneladani Model Kaderisasi Santri Pengisi di Berbagai Lini

Kiai Masduqie
Ilustrasi gambar oleh: Moh. Zakaria

Ponpesgasek.com Senin, 1 Juli 1935 merupakan hari goresan tinta pertama bagi sang pendakwah yang lahir di Jepara. Pada hari itu jualah kisah seorang muslim sejati dimulai. Ya, pada hari itu telah lahir sosok inspirator yaitu Kiai Achmad Masduqie Machfudz. Beliau merupakan putra keempat dari pasangan suami-istri Kiai Machfudz dan Nyai Chafshah. Ayah  beliau, Kiai Machfudz merupakan seorang pengusaha mebel di Jepara yang aktif mensyiarkan ajaran Islam. Sedangkan sang ibu, Nyai Chafsah merupakan keturunan seorang bangsawan yaitu Syaikh Abdullah Al-‘Ashiq.

Dari pernikahannya, Kiai Machfudz dan Nyai Chafsah dikaruniai empat belas anak. Akan tetapi, hanya tujuh yang masih hidup. Di antara ketujuh putra-putri itu, Kiai Masduqie terlahir sebagai anak pertama. Sebagai putra sulung, Kiai Masduqie turut memegang amanah untuk mendidik keenam adiknya.

Pepatah mengatakan, “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya”. Ungkapan tersebut menggambarkan bahwa sebuah lingkungan masyarakat dan keluarga mempunyai pengaruh besar dalam membentuk watak dan karakter anak. Terlahir dari orang tua yang mempunyai sikap pantang menyerah, gigih, dan agamis, Kiai Masduqie tumbuh menjadi insan yang taat beragama dan menjunjung tinggi nilai-nilai di dalamnya. 

Lika-liku Pendidikan Dimulai Saat Peralihan Kependudukan Jepang

Di masa mudanya, Kiai Masduqie terkenal sebagai sosok yang gemar mencari ilmu. Beliau menghabiskan waktunya untuk belajar dan mencari ilmu dengan penuh kesungguhan. Sejak berusia lima tahun, beliau sudah bersekolah di Madrasah Ibtida’iyah atau dulu biasa disebut Sekolah Arab yang berada di desanya, Desa saripan. Di Madrasah  inilah, beliau mulai melakukan pengembaraan intelektualnya. Selama menimba ilmu di sana, Kiai memulai kecapan madu-madu ilmunya dari mempelajari dasar-dasar Bahasa Arab dan agama Islam.

Ketika Jepang mendirikan sekolah dasar atau yang dikenal dengan nama Kokumin Gakko pada saat itu, beliau tertarik untuk bersekolah di sana. Akan tetapi, orang tua beliau tidak mengizinkannya, sebab timbul kekhawatiran kalau beliau akan dijadikan antek Jepang. Meskipun orang tua tidak memperkenankannya, beliau tetap bersikeras untuk bersekolah di SD tersebut tanpa sepengetahuan orang tuanya. Sungguh sosok kiai muda yang memiliki kemauan yang keras, dan disertai pula dengan sifat yang sangat haus akan ilmu. 

Belajar di dua lembaga sekolah sekaligus sangat menguras tenaga dan pikiran kiai pada saat itu. Sehingga beliau harus membagi waktunya dengan amat tepat dan titis. Selain bersekolah di dua lembaga beliau juga harus mengikuti kegiatan mengaji. Namun begitu, semua kepadatan waktu dalam menimba pengetahuan itu tidak melunturkan semangatnya. Beliau senantiasa bersabar melalui segala proses demi prosesnya. Karena kecerdasan yang dimiliki, ketika kelas tiga SD, beliau dipindahkan ke sekolah milik Belanda yaitu HIS (Holland Irlander School), hingga beliau berhasil lulus dengan nilai yang memuaskan. Hal ini menjadi bukti bahwa usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil, dan ini merupakan hasil yang setimpal bagi kiai.

Baca juga => Santri Tulen Vs Santri Karbitan

Pada tahun 1945, setelah  kelulusan dari sekolah HIS, beliau melanjutkan pendidikan ke Sekolah Tingkat Pertama, lalu mengambil jurusan B, yaitu jurusan Ilmu Pengetahuan Alam. Selama mengenyam bangku SMP beliau melanjutkan studi ilmu keagamaan di pesantren asuhan Kiai Abdul Qodir. Di pesantren ini beliau belajar berbagai macam ilmu, seperti nahwu, shorof, fikih, tauhid, dan lain-lain. Setelah lulus SMP, ketika beliau hendak melanjutkan pendidikan ke tingkat SMA, ternyata pada saat itu pula bertepatan dengan usaha mebel keluarga tengah mengalami kebangkrutan, sehingga kedua orang tua beliau tidak mampu membiayainya untuk melanjutkan sekolah.

Namun, sungguh Allah selalu memberikan seribu jalan kepada hamba yang tidak pernah putus asa dan senantiasa berikhtiar. Tanpa diketahui sebelumnya, ternyata di SMP tempat beliau belajar terdapat program sekolah dengan ikatan dinas, yaitu SGHA (Sekolah Guru Hakim Agama). Mengingat kembali kondisi finansial keluarga yang tidak mendukung, akhirnya kesempatan ini tidak disia-siakan. Beliau langsung mendaftarkan diri ke dalam program tersebut. Lalu atas kebesaran Allah beliau dinyatakan lulus dan mengantarkan beliau ke kota gudeg Yogyakarta. Beliau mengambil jurusan A, bidang ini mempelajari kebahasaan, selain memang beliau menyukai bidang ilmu bahasa, pada saat itu beliau ingin memperdalam ilmu bahasa Jerman.

Mondok di Jogja, Awal Keberkahan yang Deras Mengucur

Pada saat menempuh pendidikan di SGHA, beliau bertemu dengan kedua pamannya. Singkat cerita, keduanya menyarankan beliau supaya mondok di Pondok Pesantren Krapyak yang diasuh KH Ali Maksum. Di bawah asuhan KH Ali Maksum inilah, keilmuan beliau mengalami kemajuan yang pesat dalam hal kajian ilmu kitab kuning. Hal ini pula yang menyebabkan ayahanda beliau menyetujui keputusannya menimba ilmu di sana. Karena tidak dibiayai orang tuanya maka  Kiai Masduqie menjadi abdi ndalem.

Ada peristiwa menarik ketika beliau sowan untuk mengutarakan niatnya mondok di Krapyak. Kiai Ali menyampaikan sebuah petuah, bahwasanya jika beliau ingin mendapatkan ilmu seperti orang yang mondok sebelas tahun maka tidak boleh pulang selama tiga tahun, dan Kiai Masduqie pun menyanggupinya. Tepat setelah tiga tahun, beliau meminta izin untuk pulang, dan tanpa diduga, kiai diperintah supaya bersantap terlebih dahulu sebelum pulang, dan tanpa diduga, hidangan diambilkan langsung oleh Kiai Ali sendiri hingga berulang-ulang.

Baca juga => Memetik Ilmu Khidmah dari Kisah KH. Chusaini Ilyas

Setelah menyelesaikan santapan, kiai mengajak beliau untuk berkeliling pondok dengan dibonceng motor vespa oleh kiai Ali, —hal yang sangat jarang ditemui. Sungguh berkah kiai nyata adanya. Setelah kejadian tersebut, setiap kali Kiai Masduqie membaca  kitab kuning seperti ada yang membisiki dan membimbingnya untuk memaknai kitab kuning, masyaallah. Sejak lulus dari Krapyak tahun 1957, Kiai Masduqie mulai mengajar di berbagai daerah di Kalimantan, seperti di Tenggarong, Samarinda, dan Tarakan. 

Memulai Perjuangan di Malang

Setelah masa perantauan di Kalimantan usai, beliau kembali ke Pulau Jawa guna melanjutkan studi sarjana. Beliau memulai kembali pengembaraan ilmu dengan  mengikuti tes ujian masuk Institut Agama Islam Negeri melalui jalur Ikatan Dinas. Atas izin Allah Ta’ala, beliau dinyatakan lulus di IAIN Surabaya Fakultas Tarbiyah yang terletak di Kota Malang. Kemudian, kiai mengawali kehidupan di kota Malang dengan mendiami sebuah rumah yang disewakan oleh warga di daerah Oro-Oro Dowo gang dua.

Selang beberapa lama, beliau harus pindah karena rumah yang disewa akan ditempati oleh pemiliknya. Atas izin Allah, beliau mendapatkan rumah baru yang berlokasi di dekat masjid beberapa hari kemudian. Di lingkungan baru dan disela-sela waktu kesibukkannya sebagai mahasiswa, beliau seringkali dimintai untuk mengisi pengajian masjid tersebut. Lambat laun masyarakat sekitar mulai mengakui kealiman beliau. Mereka mengenal Kiai Masduqie sebagai intelektual muda pada saat itu.

Setelah menyelesaikan studi sarjananya, beliau memutuskan untuk pulang ke kampung halaman di Jepara. Akan tetapi, salah seorang teman lamanya di pondok Krapyak menawari beliau untuk tinggal di Mergosono. Pada akhirnya, setelah berbagai pertimbangan beliau melanjutkan perjalanan  dakwahnya ke  Mergosono bersama istri (Nyai Chasinah) dan sembilan orang anaknya. Keputusan beliau juga selaras dengan keadaan mayarakat Mergosono yang awam dengan agama. 

Wilayah Mergosono dikenal sebagai pusat PKI pada saat itu. Kiai Masduqie sering menjadi sasaran percobaan pembunuhan mereka. Kiai sendiri telah berulang kali diteror oleh kelompok PKI tersebut. Dikarenakan percobaan pembunuhan terhadap Kiai Masduqie tidak kunjung berhasil, mereka pun tetap tidak tinggal diam. Akhirnya, mereka menghasut pemilik rumah yang ditempati agar beliau bersedia membeli tanah tersebut atau diusir. Kiai Masduqie yang saat itu tidak memiliki cukup uang untuk membeli tanah tersebut, akhirnya kiai pun memilih pergi. Namun, saat kiai beranjak pergi ada seorang yang mencegahnya dan berniat untuk membayar tanah tersebut, beliau adalah Pak H. Sholeh.

Baca juga => Ustaz Ahmad Syafaat: Sosok Teladan Berjiwa Qurani Sejati Bag (I)

Pada saat itu, kedatangan Kiai Masduqie memang sempat tidak diterima. Namun, beliau tetap berusaha berdakwah dengan pelan-pelan serta memperhatikan kondisi mengingat masyarakat Mergosono.  Dalam dakwahnya, Kiai Masduqie menerapkan dakwah dengan cara bil hal (memberi contoh tindakan yang baik). Perlahan tapi pasti, metode dakwah dengan mengandalkan akhlak lebih menghasilkan perubahan di kampung itu.

Sebagai bentuk usaha beliau mendakwahkan ajaran agama Islam secara berkelanjutan, kiai pun akhirnya mendirikan majelis ta’lim sebagai wadah keberlanjutan syiar dakwah yang tengah beliau emban. Seiring dengan berjalannya waktu kecerdasan akan ilmu agama Kiai Masduqie semakin dikenal oleh masyarakat Malang. 

Pesantren Mergosono Mencetak Santri Sebagai Kader di Berbagai Lini

Sebagai civitas akademika IAIN Sunan Ampel, Kiai Masduqie diakui sebagai pakar dalam ilmu-ilmu kebahasaan. Dari situlah banyak mahasiswa IAIN yang ditunjuk untuk memperdalam ilmunya kepada Kiai Masduqie. Karena banyak mahasiswa yang bolak-balik ke kediaman Kiai Masduqie, beliau membeli sepetak tanah sebagai tempat tinggal santrinya yang setiap tahun semakin bertambah. 

Perlahan beliau mulai merintis dan akhirnya dapat mendirikan pondok pesantren. Pesantren ini diberi nama “Pondok Pesantren Salafiyah Nurul Huda”. Nama ini diambil dari nama musala di depan rumah beliau. Pada awal perintisannya, pondok pesantren ini dikenal dengan kajian ilmu alatnya. Seiring berjalannya waktu, dengan bantuan putra putri beliau yang memiliki keahlian masing-masing menyebabkan pondok pesantren ini mengalami perkembangan besar di berbagai keilmuan lainnya, seperti menghafal Al Quran, masalah fikih.

Karena santri Nurul Huda Mergosono didominasi oleh mahasiswa, maka Kiai Masduqie menanamkan cara berpikir primer dan sekunder. Berpikir primer maksudnya adalah mementingkan semua bentuk kegiatan di pondok, dan yang sekunder adalah aktivitas perkuliahan. Kiai selalu mendorong santri agar selalu menempatkan keduanya sebagai proses yang sama pentingnya, dan harus dijalani dengan sungguh-sungguh. 

Kiai Masduqie senantiasa membangun kesadaran dalam diri santri bahwa mahasiswa mondok tidak untuk ngekos saja, tetapi mereka adalah seorang pencari ilmu yang mendatangi guru untuk belajar menjalani hidup yang padu dan seimbang. Salah satu formulanya adalah santri dilarang boyong sebelum setoran minimal baca satu kitab di depan kiai. Dari formula ini lahirlah santri kiai, santri guru besar, santri yang menjadi politikus, santri pengusaha.

Baca juga => Pesan KH. Marzuqi Mustamar di Hari Santri: Jadilah Santri Berhati Lokal Berpikiran Internasional

Tidak hanya dibekali dengan ilmu agama saja, kiai pun mengajarkan kepada santri cara berorganisasi dengan baik. Kiai Masduqie merupakan sosok yang aktif berkiprah dalam organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Ketika beliau menjabat sebagai Pengurus Syuriah Nahdlatul Ulama’ kota Malang, beliau sering mengajak santri-santrinya untuk ikut andil dalam ke-organisasian. Meskipun demikian, beliau tetap menomorsatukan ilmu. Ketika waktunya mengaji telah tiba, maka beliau akan menyuruh santrinya untuk mengaji.

Isyarat Cinta Allah Kepada Hambanya yang Dikasihi

Kiai Masduqi merupakan sosok yang gigih dalam menyebarkan agama Allah. Kiai senantiasa melaksanakan aktivitas dakwah dengan rasa ikhlas yang terpancar pada diri beliau. Kiai Masduqie menderita penyakit diabetes selama tiga puluh empat tahun.  Meskipun kiai telah menggunakan kursi roda, beliau tetap istikamah mengisi kajian setiap hari di tempat yang berbeda. Walaupun kondisi fisik beliau telah menurun, hal demikian tidak menjadi halangan bagi kiai dalam mengemban misi dakwah Islam. 

Meskipun beliau seorang ulama’, tetapi beliau tetap mempercayai orang yang ahli dalam bidangnya. Seperti ketika beliau dharuskan melakukan tarak (mematuhi pantangan) oleh dokter, beliau pun manut saja. Hingga beliau tidak makan nasi sama sekali selama hampir dua puluh tahun. Pada waktu itu, kondisi kesehatan beliau menurun sehingga beliau harus dirawat inap di rumah sakit. Banyaknya tamu yang datang menjenguk menyebabkan kadar oksigen dalam tubuh beliau menurun, juga di paru-paru beliau ditemukan banyak cairan, sehingga beliau harus melakukan cuci darah dan dipindahkan ke ruang Cardiovascular Care Unit (CVCU). 

Setelah kiai dipindahkan ke dalam ruangan, beliau lebih banyak diam, dan suatu ketika beliau tiba-tiba berkata, “Setelah empat puluh harinya Kiai Sahal akan datang rombongan ke Mergosono”, dan ketika ditanyai apa maksudnya, tetapi beliau tidak menjawab. Menjelang wafatnya, kiai sempat mencari istrinya Nyai Chasinah, lalu beberapa saat kemudian beliau tidak sadarkan diri. Akhirnya beliau menghembuskan nafas terakhir di usia tujuh puluh empat tahun. Beliau disalatkan di masjid Jami’ Malang, salat jenazah tersebut dihadiri para habaib, kiai, dan ulama’. Seusai disalatkan, beliau dimakamkan di kompleks pondok pesantren Nurul Huda Mergosono. Pondok yang menjadi saksi perjuangan dakwah dan pengabdian beliau dalam mengajarkan agama Islam.

Sosok Kiai di Mata KH. Marzuqi Mustamar

Menurut KH. Marzuqi Mustamar, kiai merupakan sosok guru yang tegas kepada para santri dan mahasiswanya. Dengan keluasan ilmu yang dimiliki, beliau mendidik para murid dengan sangat teliti. Namun demikian, beliau adalah seorang guru yang memiliki sisi emosional yang dalam, seperti halnya rasa kasih sayang beliau kepada seluruh santrinya. Hal yang demikian tercurahkan layaknya kasih sayang kepada putra-putri kandungnya sendiri.

Dalam hal mendidik santri, beliau tidak hanya menyampaikan ilmu secara teoritis saja. Layaknya kiai kebanyakan, Kiai Masduqie sangat mempertimbangkan aspek-aspek praktis dari keilmuan yang telah disampaikan kepada santri. Salah satu wujud konkretnya yaitu terwujudnya gagasan beliau agar para santri mendirikan dan membina Taman Bacaan Al-Qur’an (TPA) di sekitar kelurahan Mergosono. Beberapa TPA yang dibina oleh para santri yaitu: TPA Nurul Huda Ciptomulyo, TPA Hidayatul Mubtadi’in Kota Lama, dan TPA Nurul Ulum Mergosono.

“Yai Achmad Masduqi Mahfudz merupakan guru yang luas ilmunya, sangat teliti, dan tegas dalam mendidik santri dan mahasiswanya serta sosok yang penuh kasih sayang” – KH. Marzuqi Mustamar

Aktivitas Kelimuan, Literasi, dan Lainnya

Meskipun beliau disibukkan dengan kegiatan organisasi dan mengajar, tetapi beliau masih meluangkan waktunya untuk menulis. Beliau menyampaikan pemikirannya lewat tulisan dalam bentuk buku ataupun karya ilmiah. Kecintaanya terhadap menulis menjadikan Kiai Masduqie menghasilkan banyak karya seperti: Awamil Ilmu Nahwu, Konsep Dasar Aswaja, dan 77 Cabang Imam, Hasil rumusan batshul masail Nahdhatul Ulama’, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Pada tahun 1993 sampai 2007, Kiai Masduqie pernah mengasuh rubrik batshul masail di majalah AULA NU.  Pada tahun 2017, jawaban-jawaban dalam majalah tersebut dibukukan menjadi sebuah buku yang berjudul  Kyai Masduqie Menjawab: Tanya Jawab Hukum Islam Bersama KH. Masduqie Machfudz. Buku ini berisi jawaban dari permasalahan fikih yang sering kita temui di kehidupan.

Salah satu bahasan yang cukup menarik dari sekian banyak pembahasan dan sering terjadi dalam kehidupan yaitu mengenai dua imam salat berjamaah dalam satu tempat. Bagaimana jika ada dua imam berjamaah dalam satu tempat seperti masjid, apakah diperbolehkan? Kiai Masduqi menjawab bahwasannya terlebih dahulu kita harus tahu sejak zaman Rasulullah SAW sampai dengan zaman khulafaur rasyidin, yang menjadi imam di masjid adalah kepala negara.

Baca juga => Kisah Hidup Waliyullah K.H. Maimun Zubair

Dengan demikian, imam shalat berjamaah di sebuah masjid atau musala di suatu tempat kita gambarkan sebagai seorang kepala negara pada suatu daerah pada waktu tertentu.  Jadi, kalau di dalam musala ada seorang imam telah melakukan salat berjamaah, kemudian ada rombongan lain yang datang ke musala tersebut pada waktu yang bersamaan, maka imam beserta jamaah yang kedua itu dapat diibaratkan sebagai orang-orang yang mendirikan negara dalam satu negara pada waktu yang bersamaan atau pemberontak. Dalam buku tersebut beliau menambahkan bahwasanya hal demikian seperti Kartosuwiryo yang ingin mendirikan Negara Islam di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sah. 

Alhamdulillah, telah usai tulisan mutiara perjalanan hidup dari Kiai Achmad Masduqie Mahfudz, yang mana keilmuannya, serta pengayomannya telah dirasakan oleh banyak lapisan masyarakat, khususnya di bumi  arema. Tak kurang-kurang pula para santri hasil didikan beliau telah berkecimpung luas di masyarakat dan mengisi di berbagai lini penting tatanan di dalamnya. Mari kita haturkan untaian doa kepada beliau agar senantiasa di berikan tempat yang terbaik oleh Allah Swt. Ammiiin,… Alfaatihah.

 

Informasi selengkapnya tentang rekam jejak perjuangan dakwah beliau Romo Kiai Masduqie Mahfudz dapat diakses di Website Pondok Pesantren Nurul Huda Mergosono Malang => Klik Disini

 

Sumber: 

  • Wawancara bersama keluarga pihak Ndalem, Gus Shihab
  • Mengutip dari buku biografi Kiai: Jejak Agung Dakwah KH. Achmad Masduqie Mahfudz
  • Buku: Kyai Masduqie Menjawab: Tanya Jawab Hukum Islam Bersama KH. Masduqie Machfudz.

 

Diadaptasi, dan ditulis ulang oleh tim Redaksi Ponpesgasek.com

  • Penulis: Fitrotul Izah
  • Editor: Teguh Hidayanto

 

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: