Senin, Maret 30Ponpes Sabilurrosyad Gasek Malang

Keluyuran Cinta ke Tanah Blambangan

keluyuran cinta ke tanah blambangan
Ilustrasi: Naylatul Izah Ass   Sumber: Dokumentasi Santri

Ponpesgasek.com- Berbekal kecintaan akan sesama anak manusia, pada 1-2 Februari kemarin beberapa alumni dan santri Gasek bersama-sama mengunjungi salah satu kota di ujung timur Pulau Jawa, Banyuwangi. Kunjungan kali ini semata-mata ingin menyambung dan terus tersambung jalinan persaudaraan antar alumni serta alumni dengan santri. Maka tak ada kenangan yang indah, kecuali silaturahmi ini terus terjalin hingga waktu tak terhingga.

Ponpes Sabilurrosyad Banyuwangi

Ketika sampai, lokasi pemberhentian bus kami dan lokasi pondok sedikit jauh, maka Mbah Hadi dkk. menyiapkan beberapa mobil dan satu pikep (maklum, lidah jawa sulit mengucap pick up). Ternyata, hampir semua malah ingin naik pikep daripada mobil. Bahkan Anak-anak kecil termasuk anak saya malah nangis minta naik pikep. Jaaan.. memang aslinya orang desa yang kebetulan tinggal di kota. Ketika disediakan kendaraan antara mobil dan pikep, maka jiwa ndeso-nya keluar, pikep pilihannya. Perjalanan ini menjadi petualangan seru, mengesankan, dan istimewa bagi kami.

Setibanya di Pondok Sabilurrosyad Muncar, Banyuwangi, kami disambut dengan sangat hangat dan intim. Bagaimana tidak, pengasuh pondok yang juga alumni Gasek, menyambut dan melayani kami dengan romantis alias rokok makan gratis. Kemudian jiwa santri kami keluar. Ketika suguhan mulai disajikan, Awalnya malu-malu dulu kayak nggak butuh. Kemudian apa yang di depan, langsung kami hancurkan, hahaha.

 

Suasana semakin gayeng, saat beberapa alumni sepuh ikut datang dalam acara ini. Bahkan, satu dari mereka, jauh-jauh dari Pulau Bali hanya untuk ikut acara —padahal masih jauh kami yang dari Malang, hihihi. Karena lama tak bersua, maka obrolan ngalor-ngidul jadi obat kerinduan alumni.

Mbah Hadi Sang Alumni Misterius

‌Mbah Hadi, panggilan akrab dari kami, adalah sosok alumni misterius. Ia datang tak diundang, pulang tidak diantar. Hahaha. Ia seorang yang super misterius. Bagaimana tidak, beliau ketika mondok sudah punya anak istri. Ketika itu,  kami lumayan kaget, ini santri sudah tua kok masih saja mondok. Maka, panggilan Mbah melekat kepada beliau hingga saat ini. Dan ini pulalah yang membuat beberapa alumni heran dan ingin mencari tahu, apa, kenapa, dan bagaimana cerita beliau bisa mondok di Gasek, padahal sudah punya anak istri bahkan pekerjaan yang super layak,  yaitu Dokter.

Pada pertemuan kemarin, semua beliau ceritakan. Kisah dan perjalanan beliau mulai dari awal hingga akhir mondok di Gasek beliau bagikan pada kami. Kisah yang membuat kami semua penasaran, akhirnya menjadi jelas. Kami sudah tidak penasaran lagi. Tidak saya ceritakan di sini, karena lebih afdal mendengar langsung dari beliau. Kami semua merasa lega dengan apa yang beliau ceritakan. Tapi ada satu yang masih menyisakan heran kami, beliau itu mondok hanya 3 bulan tapi sudah mampu mendirikan pondok sendiri. “Laiyo, Sing telung ulan ae iso nduwe pondok. Mosok seng mondok e tahunan gak iso. Mosok gak isin”. Kami semua akhirnya tertawa, namun tepatnya kami menertawakan diri sendiri. Secara tidak langsung kami mengamini ucapan beliau, termasuk saya.

Tapi tak apalah, “barokah nggak kudu nduwe pondok, barokah nggak kudu nduwe santri”. Yang penting bisa manfaat untuk orang lain. Sebenarnya itu alasan bagi yang belum mampu menjadi seperti Mbah Hadi, hehe.

Baca Juga:

Pesan KH. Marzuqi Mustamar di Hari Santri: Jadilah Santri Berhati Lokal Berpikiran Internasional

Guyonan Ala Alumni

Meski terlihat formal dan resmi, acara silaturahmi ini tidak pernah sepi dari guyonan dan gojlokan khas pesantren. Terlebih Mbah Hadi saat itu didampingi oleh istri beserta dua putri beliau yang sudah remaja. Tak ayal malah beliau sendiri yang mendapat gojlokan dari para alumni yang lain. “Wayahe mantu.. mantu..” seru para alumni. Dalam prinsip kami—yang sebenarnya prinsip saya sendiri—walaupun beliau sudah jadi kiai di desanya, tetapi ketika bertemu sesama alumni ya tetap kita anggap alumni. Ke-Kiai-an alumni akan luntur jika berada di depan alumni  lainnya. Ini hukum alam bagi kami, ora usah ngiyai nek ngarepe alumni.

Berikutnya ketika sambutan alumni yang diwakili oleh Abu Nawa, juga tak kalah seru. Gojlokan kembali menyeruak. Meski begitu, rasa khidmah kami tetap terjaga. Gelak tawa terus mengiringi perjalanan kami di Tanah Blambangan. Setelah acara inti usai, kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Merah. Kami harus menempuh perjalanan selama dua jam. Kami tidak merasa lelah sama sekali, tentu saja karena yang lelah adalah pak supir, hehe.

Pulau Merah

Sampai di Pulau Merah, jiwa petualang kami membuncah ketika melihat air laut dari kejauhan. Alhamdulillah kami tidak perlu membayar tiket masuk, karena semua ditanggung tuan rumah, yakni Mbah Hadi dan alumni Banyuwangi lainnya. Di Pantai Pulau Merah semua terlihat agak brutal. Sudah tak terlihat mana ustaz, mana kiai, dan mana santri. Semua sama, lebur dalam kehangatan menikmati pantai serta keseruan bermain air dan pasir. Sudah puas pelesiran di pantai, usai sudah perjalanan kami di Tanah Blambangan, Banyuwangi. Kemudian kami melanjutkan perjalanan pulang.

Alhamdulillah, mulai dari awal hingga akhir kegiatan berjalan begitu lancar. Sama sekali tidak ada kendala. Biaya lancar, kendaraan lancar, perjalanan lancar, dan mudah-mudahan yang masih jomblo, cintanya juga lancar. Kami yakin ini semua karena doa serta niat baik bersama. Terutama para sesepuh Alumni, Ustaz Ali Mahsun, Ustaz Imam Ahmad, dan ustaz lainnya yang dengan tulus meluangkan waktu, tenaga, dan cinta untuk membimbing acara ini.

Sayonara, Ma’assalamah

Di penghujung tulisan ini, kami sampaikan terima kasih terkhusus kepada seluruh Alumni Banyuwangi yang dengan rela dan susah payah menyambut kami. Kepada Mbah Hadi, Kang Fauzan, Kang Faisol, Kang Riski, Mbak Ratna, dan segenap alumni yang tidak bisa kami sebut satu persatu. Tidak ada balasan yang setimpal kecuali doa setulus hati, agar semua yang telah diupayakan untuk kami terbalas berlipat ganda oleh Allah SWT.

Selanjutnya, penghargaan tak terhingga kepada segenap pengurus Alumni Malang Raya dengan Komandan Pleton Tretan Ghufron al Kacongi, Mas Bond Busiri al Boneki, Kang Shofi, dan Mas Brim Annasih yang dengan telaten merangkai acara ini. Terlebih kepada para sanayir (senior-senior) kami, Ustaz Ali Mahsun, ustaz Imam Ahmad, ustaz Nur kholis, Mbah Yut beserta para Bu Nyai masing-masing yang membimbing kami dengan santuy namun tetap serius. Serta para desainer dan eksekutor kegiatan, Kang Eng al Aangi dan Kang Rifki yang dengan semangat membantu dan mensukseskan kegiatan ini. Terima kasih pula kepada para Santri Kewut lainnya, terutama para Lawarir (lurah), Kang Hamim, Kang Siroj, dan lurah baru yang meluangkan waktu untuk acara ini. Juga kepada mbak santri yang ikut, Mbak Ima, putri Mbah Hadi, dan yang lainnya maturnuwun.

Rasa bangga tak terhingga dan rasa syukur tak berujung saya haturkan. Saya yakin, tidak ada balasan dari silaturahmi kecuali Allah menyiapkan balasan yang tak terhingga, rizki yang terperinci, kesehatan yang tak terpikirkan, dan kenikmatan-kenikmatan lain yang tak terbayangkan. Mudah-mudahan bagi yang belum sempat ikut bisa bergabung di acara selanjutnya. Let’s join our next trip! Agenda kami selanjutnya adalah Silaturahmi Manhattan alias Magetan. Salam Gedang Sak Lirang!

Penulis: Abdurrosyid al Lamajangi

Editor: Zahro’ul Aini

Baca Juga Artikel Serba-Serbi Lainnya:

Facebook Comments

One Comment

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: