Kamis, Oktober 29Ponpes Sabilurrosyad Gasek Malang
Shadow

K.H. Murtadlo Amin: Sosok Kiai Tauladan, Sabar, dan Penebar Senyum

KH. Murtadlo Amin: Sosok Tauladan, Sabar, dan Penebar Senyum
Ilustrasi: Moh. Zakaria

Ponpesgasek.com- Duka yang mendalam membasahi bumi Gasek. Tepat 40 hari lalu. Pada tanggal 13 Agustus 2020 kabar lelayu itu hadir. Sekitar pukul satu siang, K.H. Murtadlo Amin salah satu pengasuh Pondok Pesantren Sabilurrosyad Gasek Malang telah kembali kehadirat Allah Swt. Beliau yang biasa kami panggil “Abah Dhoh” telah meninggalkan kami. Ketika mengingat beliau, tangis dan sedih tidak dapat kami pungkiri.

Sekilas Tentang K.H. Murtadlo Amin

Abah Dhoh merupakan anak bungsu dari empat bersaudara. Beliau merupakan putra dari H. Moh. Ismail dan Hj. Zainab. Beliau lahir pada 8 Mei 1966 di Lamongan. Abah Dhoh memiliki nama lengkap Drs. K.H. Moh. Murtadlo Amin M.HI. Abah Dhoh memiliki seorang istri, yakni Umik Hidayatul Hikmah, sosok istri yang baik, taat dan ramah. Kami biasa memanggil beliau “Umik Dayah.” Beliau berdua merupakan pasangan penuh cinta suri tauladan bagi santri-santrinya. Dari ikatan cinta itulah, Allah Taala mengaruniai tiga orang anak yang salih salihah, yakni Gus Faiz, Ning Wardah, dan Ning Qonita.

Sejak kecil,  kiai kharismatik itu sudah terlihat sebagai sosok yang semangat dalam menutut ilmu. Semangat itu semakin kentara ketika SD kelas 4, beliau ingin merangkap belajar ke MI. Akhirnya, di MI beliau diterima kelas 3. Ketika SD kelas 6 dan di MI masih kelas 5, beliau juga ingin ikut ujian akhir negara madrasah. Alhasil, di MI beliau ikut ujian negara kelas 6 meskipun aslinya masih kelas 5. Alhamdulillah, beliau dinyatakan lulus dari MI, serta mendapatkan nilai terbaik.

Setelah menyelesaikan pendidikan sekolah menengah pertamanya di lamongan. Pada tahun 1982 beliau berhijrah ke Malang untuk melanjutkan studinya. Beliau bersekolah di PGAN (sekarang MAN 3 Malang) dan mondok di Pondok Pesantren Miftahul Huda Gading Malang. Beliau menuntut ilmu di Pondok Gading mulai tahun 1982 sampai tahun 1990. Selain menjadi santri, beliau juga aktif mengajar di berbagai lembaga Pondok di Malang. K.H. Murtadlo Amin, juga merupakan dosen di UIN Malang dan di UNISMA. Hingga beliau dipanggil kembali ke sisi Allah, beliau masih menjadi direktur Pesantren Ainul Yaqin milik kampus UNISMA Malang.

Kenangan Bersama Para Santri

Tidak ada yang menyangka Abah Yai akan kembali menghadap Allah Swt. secepat ini. Banyak sekali kenangan para santri bersama Abah Yai. Salah satunya, terdapat sebuah cerita yang pernah dialami oleh santri putri berikut ini.

Pernah suatu ketika, di bulan Ramadan tahun lalu terdapat dua mbak-mbak santri putri. Di mana mereka adalah mahasiswa aktivis di kampusnya. Mereka sering kali sibuk dengan acara-acara organisasi di kampus. Ketika itu, mereka menjalankan agenda sahur on the road yang mengharuskan mereka pulang ke pondok larut malam. Namun, siapa yang menyangka sesampainya mereka di area pondok, bersamaan ketika mereka menuntun motor menuju ke parkiran terlihat Abah Dhoh akan lewat. Seperti umumnya santri, mereka berusaha menundukkan kepala dan berhenti untuk mempersilakan beliau lewat.

Pada detik itu perasaan mereka sudah tidak karuan. Sebab bertemu di tengah situasi yang kurang etis, yakni pulang larut malam dan berpapasan dengan pengasuh. Perasaan takut, ndredeg, malu bercampur menjadi satu. Karena memang tidak sepatutnya mbak-mbak santri pulang di waktu malam meskipun telah meminta izin kepada pengurus. Saat beliau hendak lewat, pikiran mbak santri sudah negatif thingking. Batin keduanya, “saya harus mengatakan bagaimana bila nanti beliau bertanya.”

Namun, Saat Abah Yai lewat hanya tersenyum memandang kedua mbak-mbak santri itu. Seakan bertanya “dari mana mbak, kok pulangnya malam-malam?” Dengan spontan dan ndredeg mbak santri mengatakan “pangapuntenipun Yai, wau teseh enten kegiatan ten kampus.” Dan apa yang terjadi? beliau hanya tersenyum ramah lagi, tanpa amarah sedikit pun.

Masyaallah, saat itu hati kedua mbak-mbak santri semakin kacau. Seperti tamparan keras yang menohok ke dalam hati. Beliau benar-benar hanya tersenyum tanpa ada marah sekali pun. Tidak seperti ekspektasi mbak-mbak santri sebelumnya yang berpikiran demikian, beliau mungkin akan memarahi. Sesampainya di kamar, mbak-mbak santri langsung menangis sejadi-jadinya dan menyesali kesalahan karena telah pulang malam. 

Betapa sabarnya beliau menghadapi banyak karakter santri, hanya dengan senyuman itulah nyatanya berbuah pesan yang begitu dalam. Jauh lebih merasuk dan tertahan di dalam hati.

Cerita lain dari salah satu santri, teringat saat mengikuti pengaosan beliau. Entah seberapa pun adanya santri yang mengikuti pengaosan, beliau tetap istikamah mengajar. Sering kali, beliau mendapati mas-mas dan mbak-mbak banyak yang tertidur di majelis. Mengetahui hal itu, Abah Dhoh malah mengguraui mereka dengan mengatakan “wallahu a’lam bisshowab” di tengah-tengah pengaosan. Seketika para santri bangun, mereka mengira pengaosan telah usai, tetapi ternyata abah melanjutkan pengaosan dengan tersenyum dan sedikit tertawa.  Ada saja cara beliau mendidik kami dengan hati, dengan gurauan, yang senantiasa terhiasi dengan senyuman dan candaan.

Baca Juga:

Pura-Pura Sabar Adalah Kunci Menjadi Sabar

Abah selalu mendidik santri dengan istikamah. Beliau selalu sabar dan ramah kepada seluruh santri. Sebelum wafat, beliau menulis buletin terakhir tentang istikamah. Di mana, terdapat dasar-dasar mengapa seseorang harus tetap istikamah dalan kondisi apa pun. Pada poin akhir tersisipi dawuh beliau yang berbunyi demikian:

“Saya mempunyai ajal yang berbeda dengan orang lain, maka ajal itu akan mengejar saya dan saya pun akan mengejar ajal itu, sehingga kita akan bertemu di dalam kondisi yang berbeda dengan orang lain.”  — K.H. Moh. Murtadlo Amin

Itu merupakan salah satu yang mendasari keistikamahan beliau dalam beramal salih. Subhanallah.

Abah Dhoh, terima kasih telah memberikan kami pelajaran yang sangat berharga. Terima kasih pula telah mengajari kami apa itu arti sabar, ikhlas, dan arti sebuah senyuman di setiap pertemuan. Sampai saat ini, ketika kami mengingat penjenengan yang terbesit hanya senyum panjenengan yang menenangkan. Abah Dhoh Sang Murobbi kami, mugi khusnul khotimah dan diberi cahaya indah dari Gusti yang Maha Indah. Lahul Faatihah…

Sumber : Keluarga Ndalem

Penulis : Nur Alaviyah Alhikma

Editor : Teguh Hidayanto

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: