Kamis, Juli 16Ponpes Sabilurrosyad Gasek Malang

Jariyah Motor Ala Gasek

Ilustrasi Gambar Oleh: Ria ‘Ainun Nafi’ah

Ponpesgasek.com – Sepintas, judul ini terasa berat dan kelihatan sok. Jangankan motor, nyumbang uang sepuluh ribu ke masjid saja beratnya minta ampun. Tapi, saya ingin mengutarakan sesuatu yang lebih jauh tentang makna dari judul tulisan ini. Sebenarnya cerita ini lebih pas diutarakan lewat lisan, tapi saya mencoba untuk mengutarakannya dengan bahasa tulis dan mudah-mudahan bisa sampai ke pembaca yang budiman dengan baik.

Gasek Zaman Dahulu

Dulu, ketika awal saya mondok di Gasek, saya hanya mendapati tidak lebih dari 5 sepeda motor. Itu pun motor dengan model yang biasa-biasa saja. Pemiliknya adalah santri-santri yang tergolong lebih mampu daripada lainnya. Namun, jauh sebelum itu, Guru kita semua (sejauh yang saya dengar) hanya memiliki kendaraan berupa sepeda motor Yamaha Kristal. Iya, sepeda tua, tapi sangat membantu aktivitas beliau.

Sepeda butut itu sangat membantu rutinitas beliau mulai dari mengajar di kampus, mengisi pengajian, sampai menghadiri majelis-majelis lainnya. Seiring berjalannya waktu, beliau memiliki kendaraan yang lebih bagus hingga seperti yang kita lihat saat ini. Semua “fasilitas” kendaraan itu full digunakan untuk berdakwah dan berjuang untuk agama Allah. Hal ini dalam bahasa agama sering disebut li i’laai kalimaatillah. Alhamdulillah, sangat barokah.

Situasi dan suasana pondok yang hanya diisi oleh beberapa motor lambat laun bertambah dan berubah. Dulu, saat sepeda motor santri pondok masih sedikit, tak jarang santri-santri yang berangkat kuliah (yang tidak punya sepeda motor), nebeng alias nunut bonceng. Bahkan satu motor sering dinaiki 3 orang dan kami bersyukurnya minta ampun. Bahkan sering juga, jika ada mbak-mbak santri putri yang pulang malam, akan dijemput oleh mas-mas santri putra.  Caranya dengan mbarengi mbak-mbak dari belakang. Mbak-mbak tetap jalan, sedangkan mas-mas yang menjemput berada di belakang mengawal. 

Sikap dan solidaritas seperti gambaran di atas seharusnya menjadi ciri khas santri. Santri harus paham dan memahami kebutuhan orang-orang di lingkungan sekitarnya. Santri itu harus paham pelajaran agama. Dalam agama sangat dianjurkan untuk berbuat kebaikan sekecil apapun. Seperti mbonceng konco atau menawari sepeda kepada teman agar dipakai kuliah adalah bentuk amal jariah dan shodaqoh yang sangat simpel namun sangat besar pahalanya.

Baca Juga: Ajal Selalu Menanti Cukupkah Bekalmu

Gasek Kini

Keberadaan sepeda motor bagi santri lambat laun menjadi kebutuhan pokok. Bukan hanya untuk santri putra, bahkan santri putripun tidak mau kalah. Bukan tanpa alasan, ini karena zaman semakin berkembang, kebutuhan semakin meningkat, dan kegiatan kampus makin beragam. Sehingga, mau tidak mau sepeda motor sudah menjadi kebutuhan primer hari ini. Bahkan tak jarang sepeda motor santri jauh lebih bagus dibandingkan dengan sepeda motor kiai dan ustaz-ustaznya, hehehe.

Dengan banyaknya sepeda motor di pondok sekarang, ternyata muncul kegelisahan dalam diri saya. Saya masih sering melihat banyak mas-mas pondok atau lebih khusus mbak-mbak santri putri yang masih sering memakai ojek online untuk kuliah, padahal puluhan sepeda motor di pondok banyak yang nganggur. Kalau motor nganggur alias tidak dipakai, kan eman nggak ada manfaatnya!

Karena sedikit banyak, agak risih melihat mbak-mbak santri putri dibonceng oleh tukang ojek online. Mungkin ada yang berpendapat, sah-sah saja boncengan dengan ojol, boleh-boleh saja atau biasa-biasa saja dengan keadaan tersebut. Lalu, apakah dalih pantas atau tidak itu bisa dipatahkan dengan mudah hanya karena yang membonceng adalah ojol? Padahal, jelas ojol bukan mahram mbak-mbak. Saya rasa masih sangat perlu untuk direnungkan lagi. Karena jika demikian, bisa-bisa jaket ojol bisa dijadikan alibi oleh beberapa santri yang punya pacar atau TTM agar bisa kencan. Ini menjadi PR besar.

Baca Juga: Wasiat Imam ‘Abdullah ‘Alawi al-Haddad: 7 Cara Agar Menjadi Hamba Yang Ridho

Meneruskan Tradisi Jariyah Motor

Saya menawarkan satu solusi agar motor kita barokah, kendaraan kita barokah, dan mbak-mbak santri lebih bisa menjaga diri serta meminimalisir hal-hal di luar nalar santri. Solusi ini juga bisa membantu mereka yang ekonominya kurang. Apa itu? Jadikan sepeda motormu sebagai jariah. Caranya, coba setiap anda akan berangkat kuliah, beri tahu atau tawari teman anda, siapa yang mau bareng alias nebeng. Saya yakin, pasti ada yang mau bareng dengan Anda.

Atau ketika Anda tidak kuliah, berarti sepeda motor anda tidak terpakai, maka tawari teman Anda, siapa yang mau pakai motor. Saya yakin, pasti banyak yang mau. Dengan begitu sepeda motor kita bisa bermanfaat. Mungkin ada yang bertanya, nanti sepeda motor kita rusak? Maka saya jawab, dipakai atau tidak dipakai, cepat atau lambat, motor itu juga akan rusak. Maka, dari pada sepeda motor rusak tanpa jariah lebih baik rusak tapi di gunakan untuk kebaikan dan untuk berjuang.

Kalaupun butuh bensin, habis berapa sih bensin kalau hanya dipakai ke kampus? Saya yakin satu liter bensin bisa di pakai berkali-kali untuk pulang-pergi dari pondok ke kampus. Insyaallah tidak akan kekurangan rezeki untuk membeli bensin.

Maka melalui tulisan ini, saya mengajak seluruh santri untuk menggunakan fasilitas dari orang tua kita (sepeda motor) untuk kebaikan bersama. Manfaatkan sebaik mungkin karena kanan-kiri, teman-teman kita, dan di sekitar kita banyak yang membutuhkan. Maka, sebagai santri kita harus peka. Peka terhadap kebutuhan orang-orang sekitar sebagai latihan untuk kehidupan di masyarakat kelak. Di akhir tulisan ini, pesan saya adalah Motormu Jariyahmu

Baca Juga: Tenaga Medis dan Stigma Buruk Masyarakat

Penulis: M. Abdur Rosyid

Editor: Zahro’ul Aini

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: