Senin, Maret 30Ponpes Sabilurrosyad Gasek Malang

Indahnya Toleransi di Negeri Gajah Putih

Indahnya Toleransi di Negeri Gajah Putih
Ilustrasi oleh: Ria Ainun Nafiah

Ponpesgasek.com-Seringkali, kita mendengar orang-orang ramai membicarakan toleransi. Apasih, toleransi itu? Bagaimana cara kita memaknai ‘toleransi’? Berbicara tentang toleransi, Thailand atau yang dikenal dengan Negeri Gajah Putih, merupakan negara yang penuh toleransi. Kalian pasti tahu bahwa mayoritas penduduk Thailand menganut agama Budha. Namun, mayoritas penduduk di wilayah Thailand Selatan menganut agama Islam. Nah, sikap beragama antara buddhis dan muslim di Thailand ini mencerminkan toleransi yang sangat tinggi, lho.

Sekalipun begitu, beberapa wilayah di Thailand Selatan yang mayoritas berpenduduk muslim tidak lepas dari beberapa masalah. Seperti sering terjadi pemberontakan dari penduduk yang beragama Islam itu sendiri dan beberapa konflik lainnya yang terjadi beberapa tahun silam. Akan tetapi, ada juga wilayah di Thailand Selatan yang terbilang sangat aman yaitu provinsi Nakhon si Thammarat.

Mayoritas penduduk Nakhon si Thammarat adalah buddhis, sedangkan penduduk muslim di sana adalah minoritas. Namun, kehidupan antara muslim dengan buddhis atau disebut siam di sana terbilang sangat baik. Kok bisa? Yuk, simak pengalaman penulis saat berada di Provinsi Nakhon si Thammarat, Thailand Selatan.

Ketika Menaiki Kendaraan Umum

Foto: Penulis menaiki Songthaew

Pertama, pengalaman penulis saat berjalan-jalan di beberapa tempat atau pergi ke pusat kota. Penulis selalu menggunakan transportasi umum. Transportasi ini dikenal dengan sebutan Songthaew dan Tuk Tuk. Songthaew merupakan kendaraan umum yang mirip dengan angkot di Indonesia. Tuk Tuk juga merupakan kendaraan khas Thailand yang hanya beroperasi di kota saja.

Ketika penulis sedang menaiki Songthaew atau Tuk Tuk, anak-anak laki-laki di sana  akan mempersilakan perempuan atau orang tua untuk duduk di kursi mereka, sedangkan mereka akan berdiri di tepi kendaraan. Meskipun penulis menggunakan jilbab –yang dinilai sebagai identitas seorang muslimah–, tidak ada sama sekali diskriminasi sosial atau tatapan tidak baik dari penumpang yang lain terhadap penulis. Jadi, penulis tidak merasa terdiskriminasi.

Kedua, saat penulis menaiki taksi, sopir taksi tidak segan untuk mengantarkan penulis ke masjid dan menunggu sebentar untuk mempersilakan sholat. Bahkan, sopir taksi yang tidak dapat berbicara dalam bahasa Inggris pun akan berbicara menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan penulis. Dia juga menawarkan bantuan dengan memberikan nomor teleponnya kepada penulis, jika penulis ingin pergi ke suatu tempat maka dia bersedia untuk mengantar. Beberapa kali menggunakan jasa transportasi umum di Thailand, penulis merasa kendaraan ini sangat aman, tidak ada penarikan uang yang mahal ketika para sopir tahu bahwa penulis bukanlah orang Thailand dan bukan seorang buddhis. Mereka sangat ramah, bukan?

Ketika Berada di Mall atau Pusat Perbelanjaan

Foto: Penulis berada di mall

Ketiga, ketika penulis sedang berada di mall atau pusat perbelanjaan dan masuk waktu sholat, penulis bertanya kepada satpam apakah ada pray room for Muslim di dalam mall tersebut, satpam akan memberi tahu penulis di mana letak musala di dalam mall. Jika musala tidak disediakan di dalam mall, maka satpam akan memberitahu dimana letak musala atau masjid terdekat.

Pramuniaga yang berada di dalam mall pun juga sangat ramah. Pramuniaga yang mampu berbahasa Inggris akan sangat antusias untuk mengajak orang asing berbicara. Sekalipun penulis mengenakan jilbab, pramuniaga tidak mempermasalahkan hal itu. Ketika penulis bertanya tentang foodrest, pramuniaga akan menunjukkan dimana letak kedai penjual makanan halal yang ada di dalam foodrest.

Di Nakhon si Thammarat, ada beberapa mall yang tidak menyediakan makanan halal atau penjual muslim di dalamnya. Namun, penulis tidak akan khawatir karena mereka akan mengatakan “no halal, no muslim” jika apa yang mereka jual bukan makanan halal, atau mereka juga bukan orang muslim. Hal yang sama juga terjadi ketika penulis pergi ke pasar tradisional. Lagi-lagi penulis tidak akan dibuat khawatir karena penjual di pasar akan mengatakan bahwa makanan ini tidak halal dan mereka akan menunjukkan kepada penulis di mana letak penjual makanan yang halal.

Baca Juga:

Mau Sukses? Jangan Jadi Pengecut

Ketika Berada di Tempat Peribadatan Orang Buddha

Foto: Penulis berada di Wat Pra Mahatat

Keempat, penulis juga pernah mencoba masuk ke dalam kuil yang dikenal dengan sebutan Wat Pra Mahatat. Penjaga Wat Pra Mahatat akan dengan ramah mempersilakan penulis untuk masuk kuil tanpa mempermasalahkan jilbab yang penulis kenakan atau bertanya kenapa seorang muslim masuk ke dalam tempat ibadah mereka. Begitu juga dengan orang-orang di sana, penulis tidak menemukan orang yang memandang dengan tatapan buruk ketika ada wisatawan muslim yang masuk ke dalam kuil. Mereka tetap masuk kuil untuk beribadah dengan khusyuk.

Wat Pra Mahatat merupakan tempat sakral bagi orang Buddha. Wat Pra Mahatat sendiri konon dibangun bersamaan dengan pembangunan kota dan menyimpan gigi Buddha.  Setiap orang Buddha yang berjalan melewati jalanan di depan Wat Pra Mahatatat akan berhenti sebentar untuk menghormati bangunan yang dianggap suci ini.

Nah, pengalaman-pengalaman selama di Thailand tersebut menyadarkan penulis, bahwa kehidupan adalah tentang bagaimana memberikan apa yang dibutuhkan oleh orang lain. Memberikan apa yang menjadi hak bagi orang lain, tanpa peduli dari mana asal mereka, apa agama mereka, dan apa bahasa mereka. Melalui orang-orang yang bahkan dalam kehidupannya jauh dari sentuhan Islam, penulis banyak belajar tentang bagaimana seharusnya kita memaknai kata ‘toleransi’. Jika kita mampu memahami makna toleransi yang sesungguhnya, maka kita tidak akan pernah memandang rendah siapapun dan dengan senang hati menerima setiap perbedaan yang hadir di sekeliling kita.

Baca artikel serba-serbi lainnya:

Hal ini perlu kita jadikan pelajaran dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana sikap kita yang harus menerima setiap perbedaan. Perbedaan adalah sebuah keharusan. Perbedaan adalah suatu hal yang harus terjadi. Tanpa berbeda kita tidak akan pernah paham bagaimana cara memahami, cara mengerti, dan bagaimana cara untuk saling melengkapi. Mari junjung tinggi toleransi!

Penulis : Indi Aslihah

Editor : Indah A Maharani

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: