Rabu, Mei 27Ponpes Sabilurrosyad Gasek Malang

Hari Air Sedunia: Meneladani Rasulullah dalam Menghemat Air

Hari Air Sedunia: Meneladani Rasulullah dalam Menghemat Air
Ilustrasi gambar oleh: Ria ‘Ainun Nafi’ah

Ponpesgasek.com– Selamat 22 Maret! Selamat Hari Air Sedunia! Mungkin kebanyakan dari kita belum tahu bahwa ada hari yang dikhususkan untuk memperingati si H₂O itu setiap tahunnya. Padahal, tanggal 22 Maret tahun ini adalah peringatan hari air sedunia yang ke-28 sejak diresmikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tanggal 22 Desember 1992. Sebegitu pentingkah air bagi kehidupan sehingga harus diperingati? Tentu, air menduduki posisi yang sangat penting bagi kehidupan. Bukan hanya tubuh kita yang membutuhkan air, namun keberlangsungan ekosistem basis kehidupan, keamanan pangan, keberlanjutan energi, bahkan ekonomi dunia juga sangat bergantung padanya.

Namun, posisi penting air tidak berbanding lurus dengan ketersediaannya untuk diakses oleh seluruh masyarakat dunia. PBB mencatat bahwa pada tahun 2019, sebanyak 2,1 miliar orang tidak memiliki ketersediaan air bersih di rumahnya. Bahkan secara global, 80 persen orang yang hidup di pedesaan tidak mendapatkan akses untuk memperoleh air bersih. Di Indonesia sendiri, akses air bersih bukanlah perkara mudah bagi sebagian masyarakat. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS),  pada tahun 2018 capaian akses air bersih masyarakat Indonesia masih berada pada angka 73 persen. Dari permasalahan inilah, gerakan hemat air digaungkan selama bertahun-tahun di seluruh penjuru dunia.

Lihat: Layanan Sumber Air Minum Layak Dan Berkelanjutan Menurut Provinsi

Tapi pada kenyataanya, slogan-slogan tentang penghematan air bisa dibilang hanyalah tulisan-tulisan tak berarti yang biasa dilombakan dalam perlombaan menggambar dan mewarnai saat 17 Agustus untuk anak-anak TK. Gambar warna-warni itu hanya akan ditempel di depan kamar mandi umum dan berakhir di tong sampah karena warnanya sudah pudar, tanpa seorang pun yang merealisasikan apa yang tertulis di dalamnya. Jangankan merealisasikan, untuk membaca pun kadang kita ogah-ogahan, bukan?

Air dan Kegiatan Sehari-hari

Air dan kehidupan sehari-hari adalah dua hal yang tidak mungkin dapat dipisahkan. Salah satu rutinitas yang tidak mungkin kita tinggalkan yaitu mandi—tentu dengan menafikan unsur malas di dalamnya, hehe. Bisa dibilang, mandi sudah menjadi sebuah kebutuhan. Namun, yang menjadi pertanyaannya adalah sudahkah kita menggunakan air untuk mandi dengan bijak? Tidak perlu berbohong dengan mengatakan “iya, saya sudah bijak dalam melakukannya”, karena data dari Pengembangan Air Minum (PAM) berkata lain. Bapak Poejastanto, Direktur PAM dalam Dialog Penajaman Pola Konsumsi dan Kebutuhan Pokok Minimal Nasional menyebutkan bahwa pemakaian air rata-rata setiap orang untuk keperluan mandi sebanyak 65 liter perhari atau setara dengan 45 persen total pemakaian air harian. Sekarang jawab dengan jujur, sudahkah kita menggunakan air untuk mandi dengan bijak?

Lihat: Pemakaian Air Rumah Tangga Perkotaan 144 Liter Perhari

Pembahasan mengenai air mungkin akan terlalu belibet jika hanya disajikan dengan data dan angka. Mari sederhanakan permasalahan ini dengan menengok ke dalam rumah kita masing-masing. Penulis tidak akan membahas mengenai konsumsi air untuk air minum, karena pada dasarnya tubuh manusia sangat memerlukan air. Dan setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda-beda. Tentu kebutuhan tersebut bukanlah hal yang bisa dikendalikan.

Jadi, kita akan fokus mengenai konsumsi air yang bisa dikendalikan, mencuci piring misalnya. Sering penulis menemui banyak orang yang masih menggunakan keran air dengan debit tinggi dan membiarkannya terbuka saat tidak digunakan. Tanpa disadari, hal-hal remeh seperti ini dapat mengakibatkan air terbuang sia-sia. Padahal, bisa saja kita menggunakan keran dengan debit air yang tidak terlalu tinggi dan menutupnya sejenak saat tidak digunakan. Demikian pula saat mencuci baju, mencuci motor, dan masih banyak kegiatan serupa yang sangat perlu diperhatikan penggunaan airnya.

Air dalam Syariat Islam

Setelah membahas ngalor-ngidul mengenai permasalahan air, tidak lengkap rasanya jika kita tidak melihat air lewat sudut pandang Islam. Pembahasan mengenai air dalam Islam menjadi sangat menarik karena seperti yang sudah kita ketahui, bahwa Islam sudah mengatur seluruh seluk-beluk kehidupan pemeluknya, sekecil apa pun itu. Yakali sesuatu seperti air tidak dibahas, bukan?

Jika kita memandang air dari kacamata Islam, maka tidak dapat dipungkiri bahwa air juga menduduki posisi penting di dalamnya, sebut saja wudu. Wudu sudah menjadi sebuah rutinitas wajib yang kita lakukan setiap hari sebagai umat Islam. Bagaimana tidak, wudu adalah syarat sah salat, ibadah wajib bagi umat Islam yang menempati posisi kedua dalam Rukun Islam. Tidak akan sah salat seseorang ketika wudunya tidak memenuhi syarat dan rukun yang telah ditentukan.

Islam sendiri sudah mengatur perihal anjuran untuk menghemat air dalam berbagai hadis yang tidak sedikit jumlahnya. Lalu, jika pemborosan air dilarang dalam Islam, kenapa  Islam malah mewajibkan setiap pemeluknya untuk melakukan ibadah di mana wudu sebagai syarat sahnya? Bukankah itu berarti ibadah wajib umat Islam menyebabkan pemborosan air? Dan bagaimana dengan dalil perihal larangan pemborosan air tersebut, apakah hanya isapan jempol belaka?

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim, dikatakan bahwa Nabi Muhammad saw. berwudu dengan satu mud air atau setara dengan 0,75 liter air. Coba kita hitung, jika Nabi Muhammad saw. menganjurkan umatnya untuk berwudu dengan 0,75 liter air, maka setidaknya setiap umat Islam menghabiskan 3,75 liter perharinya untuk berwudu. Jika dikalkulasikan lebih jauh, maka dalam satu bulan kita menghabiskan 112,5 liter air dan 1.350 liter air pertahunnya.

Dengan jumlah ini, mari kita bandingkan dengan penggunaan air untuk mandi yang telah dibahas di atas. Dalam satu tahun setidaknya kita memerlukan 23.400 liter air untuk mandi, ini berarti 17 kali lipat lebih banyak dari penggunaan air untuk wudu. Tentu berlebihan jika kita menganggap bahwa Islam telah mewajibkan umatnya untuk melakukan  ibadah yang menyebabkan pemborosan air. Sebagai umat yang beragama, menghabiskan sepersekian persen dari persediaan air dunia untuk sebuah ibadah bukanlah hal yang terlalu muluk. Mengingat ibadah adalah urusan seorang hamba dengan Tuhannya. Seorang hamba yang berkeyakinan bahwa alasan dia diciptakan adalah untuk beribadah kepada sang Khaliq.

Namun, perhitungan tersebut dapat berbanding terbalik jika kita melihat realitas yang ada. Jika Nabi Muhammad SAW mengajarkan untuk menghemat air dengan berwudu dengan setengah liter air, apakah kita sebagai umatnya telah mematuhi dan mengamalkannya? Contoh kecil bisa kita lihat di masjid-masjid sekitar kita. Begitu banyak dari kita yang begitu mudahnya membuang-buang air saat berwudu. Keran-keran masjid itulah saksi bisu betapa angkuhnya kita sebagai seorang hamba. Seolah-olah mengamalkan syariat untuk berhemat air itu tidak seberapa penting untuk dilakukan.

Dapat kita tarik kesimpulan bahwa Islam tidak berkontribusi dalam pemborosan air. Justru sebaliknya, syariat Islam telah memerintahkan pemeluknya agar berhemat dalam menggunakannya. Hanya saja, sebagian dari umat Islam sendirilah yang masih belum mengamalkan anjuran tersebut.

Santri Alfa, Beta dan Omega

Menghemat penggunaan air dalam berwudu mungkin terlihat sepele. Namun, langkah-langkah positif yang terlihat kecil bisa berdampak besar di kemudian hari untuk diri kita sendiri bahkan untuk orang lain. Dampak tersebut juga tidak hanya bisa kita rasakan saat ini, tetapi juga untuk keberlangsungan hidup anak cucu kita di masa mendatang. Sangat mudah untuk memulainya yaitu mulailah saat ini juga! Segera setelah Anda membaca tulisan ini. Jika agama Islam telah menuntunnya, itu berarti menghemat air juga bernilai ibadah bukan?

 

Selamat Hari Air Sedunia. Mari semakin bijak menggunakan air kita, yaa!…

 

Penulis: Rindia Meirisa Aris Taufani

Editor: Teguh Hidayanto

Baca artikel opini lainnya:

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: