Senin, Maret 30Ponpes Sabilurrosyad Gasek Malang

Doa Iftitah Sesuai Sunnah Pembuka Pintu Langit

Doa Iftitah
Ilustrasi: Ria Ainun Nafiah

Ponpesgasek.com- Doa iftitah adalah doa yang dibaca setelah takbiratul ihram ketika salat. Secara umum, ada beberapa jenis doa iftitah sesuai sunnah yang dapat dibaca. Misalnya doa iftitah Allahumma ba’id yang biasa dibaca oleh sebagian orang Muhammadiyah dan doa iftitah Allahu akbar kabiro yang biasa dibaca oleh warga NU. Namun, tahukah Anda, ternyata ada doa iftitah yang dapat membuka pintu langit, lho. Yang manakah itu? Simak uraian berikut!

Pengertian Doa Iftitah

Dalam bahasa Arab, doa iftitah berarti doa pembuka. Maksudnya, doa yang dibaca sebagai pembuka dalam salat. Hukum membaca doa ini sendiri dalam salat adalah sunnah. Doa ini dibaca tepat setelah takbiratul ihram dan sebelum membaca surah al-Fathihah.

Lalu, bagaimana bunyi doa iftitah dan artinya dalam bahasa Indonesia? Sebelumnya, perlu dipahami bahwa ada banyak riwayat yang menjelaskan jenis-jenis doa iftitah. Namun, yang paling terkenal di kalangan umat Islam setidaknya ada dua sebagai berikut!

Doa Iftitah Allahumma Ba’id

اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ ، كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ المَشْرِقِ وَالمَغْرِبِ ، اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنَ الخَطَايَا ، كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ ، اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ ، وَالثَّلْجِ ، وَالبَرَدِ

Allahumma baa’id bainii wa baina khathaayaaya kamaa baa’adta bainal masyriqi wal maghribi, allahumma naqqinii minal khathaayaa kamaa yunaqqast staubul abyadhu minad danasi, Allahumaghsil khataayaaya bil maa’i wastalji wal bardi.

Artinya: Wahai Allah, jauhkankanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku sebagaimana engkau jauhkan antara timur dan barat, ya Allah bersihkanlah aku dari kesalahan sebagaimana bersihnya baju putih dari kotoran, ya Allah basuhlah kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan air dingin. (HR. Bukhari & Muslim).

Doa Iftitah Allahu Akbar Kabiro

اَللهُ اَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلهِ كَثيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا. اِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا أنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَالِكَ اُمِرْتُ وَاَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

Allohu akbar kabiro wal hamdu lillahi katsiro, wa subhanallohi bukrotaw wa ashila inni wajjahtu wajhiya lilladzi fatharos samawati wal ardho hanifam muslimaw wa ma ana minal musyrikin. Inna sholati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi robbil ‘alamin. La syarika lahu wa bidzalika umirtu wa ana minal muslimin.

Artinya:  Allah Maha Besar dengan sebesar-besarnya. Segala puji yang sebanyak-banyaknya bagi Allah. Maha Suci Allah pada pagi dan petang hari. Aku hadapkan wajahku pada Dzat yang Maha Menciptakan langit serta bumi sebagai seorang muslim yang ikhlas dan aku bukanlah termasuk dari golongan orang-orang musyrik. Sungguh shalatku dan ibadahku dan hidupku serta matiku, hanya untuk Allah Tuhan semesta alam.

Baca juga: 7 Kesalahan Yang Sering Terjadi Ketika Shalat, Anda Pernah Melakukannya?

Tiada sekutu untuk-Nya. Oleh sebab itu aku patuh pada perintah-perintah-Nya, dan aku termasuk dari golongan orang-orang yang aku berserah diri. Ya Rabb, Engkaulah Dzat yang Maha Penguasa.

Tiada Tuhan selain engkau Tuhanku, dan aku hamba-Mu, aku telah zalim dan aku mengakui dosa-dosaku, maka ampunilah semua dosaku karena sesungguhnya tidak ada yang mampu memberi ampun kecuali Engkau.

Jauhkan dariku keburukan karena tidak ada yang mampu menjauhkannya kecuali Engkau.

Semua kebahagiaan dan kebaikan semua berada pada tangan-Mu dan keburukan bukan karena-Mu, hanya pada-Mu aku berharap dan berserah, Maha Baik dan Maha Mulia Engkau, aku memohon ampun dan bertaubat pada-Mu (HR. Muslim dan Nasai).

Doa Iftitah Sesuai Sunnah Pembuka Pintu Langit

Lalu manakah doa iftitah yang sesuai dengan sunnah Nabi Muhammad saw? Pada dasarnya, kedua doa di atas sama-sama memiliki status sahih sesuai dengan sunnah Nabi Muhammad saw, karena sama-sama diriwayatkan dalam hadits sahih riwayat Imam Muslim.

Dengan demikian, adalah keliru dan salah apabila ada yang mengatakan bahwa doa Allahumma ba’id tidak ada dalilnya. Begitu pula salah besar bila ada yang mengatakan bahwa doa Allahu akbar kabiro itu bid’ah atau tidak ada dalilnya. Jadi, keduanya sama-sama sesuai sunnah.

Baca juga: Membaca Basmalah Dalam Surah Basmalah Ketika Shalat Bid’ah?

Namun, meskipun sama-sama sesuai dengan sunnah Nabi Muhammad saw., doa Allahu akbar kabiro yang biasa dibaca oleh kalangan Ahlussunnah wal jama’ah madzhab Syafi’i khususnya NU ini memiliki fadhilah yang sangat luar biasa, yakni dapat membuka pintu langit (pintu rahmat).

Sebagaimana disebutkan dalam hadits sahih riwayat Imam Muslim sebagai berikut:

 عن عونِ بن عبد الله بن عُتبةَ بن مسعودٍ عن ابن عمرَ قال: «بَينَمَا نَحنُ نُصَلِِّي مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ، إِذ قَالَ رَجُلٌ فِي القَومِ: أَللهُ أَكبَرُ كَبِيراً، وَالحَمدُ لله كَثِيراً، وَسُبحَانَ اللهِ بُكرَةً وَأَصِيلاً ، فَقَالَ رَسُولُ الله صَلَّى اللهُ عليه وسلَّم: مَنِِ القَائِلُ كَلِمَةََ كَذَا وَكَذَا؟ قَالَ رَجُلٌ مِنَ القَومِ: أَنَا يَا رَسُولَ الله، قَالَ: عَجِبتُ لَهَا، فُتِحَت لَهَا أَبوَابُ السَّماء. قَالَ ابنُ عًمَرَ: فَمَا تَرَكتُهُنَّ مُنذُ سَمِعتُ رَسُولَ الله صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يَقُولُ ذَالِكَ

Dari ‘Aun bin Abdillah bin ‘Utbah bin Mas’ud dari Ibnu ‘Umar ia berkata: ketika kami sedang shalat bersama Rasulullah saw., ada seorang laki-laki di antara kaum (jama’ah) mengucapkan Allahu akbar kabiro wal hamdulillahi katsiro wa subhanallahi bukrotan wa ashiila, lalu Rasulullah saw. bersabda:

“Siapa yang mengucapkan kalimat seperti ini (kalimat Allahu akbar kabiro..dst)?”, laki-laki tadi pun menjawab: “saya, wahai Rasulullah”, Rasulullah bersabda: “Saya takjub karena kalimat tersebut, karena kalimat tersebut, pintu-pintu langit terbuka”.

Ibnu ‘Umar berkata: maka sejak mendengar Rasulullah saw. bersabda demikian, aku tidak pernah meninggalkan doa itu (HR. Muslim no. 630).

Pilih Doa Iftitah Allahumma Baid atau Allahu Akbar Kabiro?

Lantas, doa manakah yang harus dipilih untuk dibaca padahal sama-sama sahih? Apalagi selain dua doa di atas juga sesuai sunnah Nabi Muhammad saw. Bukankah bila kita berkomitmen memegang sunnah Nabi saw. maka sudah seharusnya kita mengamalkan semua?

Dalam hal ini, kita perlu mempertimbangkan beberapa hal sebagaimana pilihan para ulama sehingga tidak mudah terjebak pada sikap saling menyalahkan atau membid’ahkan. Toh, semuanya itu berasal dari Nabi Muhammad saw.

Baca juga: 6 Fadhilah Takwa dalam Kitab Nashoihud Diniyyah

Imam Bukhori meriwayatkan hadits tentang teguran Rasulullah saw. kepada para imam salat jama’ah agar meringankan bacaan-bacaan salat. Hal ini dikarenakan ada banyak orang dengan kemampuan berbeda-beda dalam salat jama’ah.

Ada yang sudah tua, ada yang sakit, ada yang muda, ada yang terburu-buru karena ada keperluan dsb. Sehingga, perlulah para Imam untuk memilih satu di antara doa iftitah yang sesuai dengan kondisi jama’ahnya, bukan membaca semua doa iftitah yang bermacam-macam itu menjadi satu. Terkecuali jika salat sendiri atau memiliki waktu longgar, barulah sangat dianjurkan dan tidak masalah.

Para ulama cenderung menjatuhkan pilihan pada doa iftitah Allahu akbar kabiro dengan beberapa pertimbangan.

Pertama, karena shahih berasal dari sunnah Rasulullah saw. (berdasar hadits shahih riwayat Imam Muslim).

Kedua, kecocokan makna dan situasi (relevan) karena menyambung bacaan takbiratul ihram (Allahu Akbar: Allah Maha Besar) dengan pernyataan kabiiro (benar-benar Maha Besar).

Terakhir, kecocokan situasi batin antara doa iftitah Allahu Akbar Kabiiro dengan jiwa seseorang yang sedang shalat. Bukankah shalat adalah manifestasi sowan/menghadapnya ruh manusia pada Tuhannya?

Untuk menghadap Tuhan, maka sebelum sowan perlu dibuka terlebih dahulu pintu rahmat agar dapat menghadap Tuhan dengan benar: wajjahtu wajhiya lilladzi fatarassamawati wal ardhi, dan kalimat pembuka pintu rahmat itu tidak lain ialah kabiiro walhamdulillah katsiro..dst.

Dengan demikian, tepatlah para ulama ketika menjatuhkan pilihan pada doa iftitah Allahu Akbar Kabiro. Tentu tanpa membid’ahkan doa iftitah Allahumma Ba’id dan lainnya. Semata-mata memang karena itulah doa iftitah yang terbaik, sesuai sunnah dan memiliki keutamaan serta kecocokan. Wallahu a’lam bis showab.

Penulis: M. Chasbi Asshidiq

Editor: Indah Maharani

*Disarikan dari pengajian MTMD KH. Marzuqi Mustamar di Masjid Nurul Iman Sawojajar pada 9 Januari 2018. Klik di sini untuk menonton pengajian KH. Marzuqi Mustamar via PonpesgasekTV.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: