Kamis, Juli 16Ponpes Sabilurrosyad Gasek Malang

Dialektika Imam Al-Ghazali Memerangi Sifat Takabur

Ilustrasi Oleh: Mochammad Elfithruzuhru

Ponpesgasek.com- Siapa yang tak mengenal Imam Al-Ghazali? Ya, nama besar Imam Al-Ghazali sebagai seorang ahli Fiqih, Filsuf dan Sufi itu menjadikannya salah satu tokoh terbesar sepanjang peradaban umat Islam. Namun, kebesaran namanya tidak lantas menjadikannya sosok yang takabur (sombong). Hal ini dapat dilihat dari bagaimana Imam Al-Ghazali memandang sifat takabur. Bahkan, ia menuntun umat untuk berdialektika memerangi sifat tercela itu.

Takabur (Sombong): Pengertian dan Ciri-Cirinya.

Salah satu dialektika Imam Al-Ghazali dalam memerangi sifat sombong dapat dilacak dalam kitab Bidayatul Hidayah. Al-Ghazali mengumpulkan sifat sombong bersama sifat tercela lainnya dalam satu pembahasan bertajuk maksiat hati. Menurut beliau, membersihkan hati dari sifat-sifat tercela itu merupakan jalan yang panjang dan sungguh tidaklah mudah.

Takabur (al-kibru) atau sombong adalah penyakit kronis yang menghuni hati manusia. Seseorang disebut sombong manakala memandang diri sendiri penuh dengan kemuliaan dan kehormatan, sedangkan, ketika memandang orang lain, yang muncul hanyalah kehinaan. Jika sifat sombong ini telah bercokol dalam hati seseorang, maka yang terucap dari lisannya adalah segala tentang “aku”.

Sebagaimana ucapan Iblis ketika disabda untuk tunduk sujud kepada Nabi Adam as., “ana khoirun minhu, kholaqtaniy min naar wa kholaqtahu min thiin”. Kata Iblis, “aku lebih baik darinya (Adam as.), Engkau menciptakanku dari api, sedang ia (Adam as.) Kau ciptakan dari tanah”.

Apakah sifat takabur berakhir pada ucapan saja? Tidak. Seseorang yang takabur akan merasa dirinya lebih tinggi, lebih mulia, dan lebih hebat daripada orang lain. Ia juga senang mencari muka di hadapan manusia lainnya serta menolak ucapan orang lain ketika berbicara atau bermusyawarah mengenai sesuatu. Karena ini pula, kesombongan didefinisikan sebagai penolakan terhadap kebenaran.

Baca juga: 3 Akhlak Dasar Hamba Yang Wajib Dimiliki Seorang Muslim

Jika ia dinasihati, ia merendah, namun ketika menasihati, ia mencela. Singkatnya, orang yang takabur adalah seseorang yang memandang dirinya lebih baik daripada makhluk Allah swt. lainnya. Sungguh, sifat tercela ini harus kita perangi bersama.

Lantas, bagaimana cara kita memerangi sifat takabur ini? Imam Al-Ghazali melalui dialektikanya memberi gambaran yang jelas agar kita tidak menjadi manusia yang takabur. Kalau kita mau berdialektika ala Imam Al-Ghazali, siapapun (entah kita orang tua, anak kecil, orang ‘alim, orang bodoh, atau orang Islam secara umum) tak akan menemukan satupun alasan yang pantas untuk melegalkan sifat takabur bercokol dalam hati kita.

Jika Kita Adalah Orang Tua

Seringkali status usia atau kedewasaan seseorang dijadikan sebab untuk merendahkan orang lain, utamanya terhadap anak kecil. Kita seringkali mendengar seseorang yang lebih tua mengucapkan kalimat semacam ini: “Aku lebih berpengalaman daripada dia. Aku sudah tahu lebih dahulu daripada dia. Anak kecil jangan ikut ngomong! Bocah kemarin sore, nggak tahu apa-apa, jangan belagu! Sok ngingetin orang tua shalatlah, baca qur’an lah, dst..”.

Padahal kalau kita mau berfikir, anak sekecil itu tentu belum bermaksiat kepada Allah swt. Andaipun ia bermaksiat, tentu maksiat kita sebagai orang yang lebih lama hidup di dunia ini, jauh lebih banyak daripada dia yang masih muda. Maka, sudah jelas anak kecil dan orang yang lebih muda daripada kita adalah lebih baik daripada diri kita sendiri sehingga tak ada alasan untuk merasa sombong.

Jika Kita Adalah Anak Kecil

Begitu juga jika kita adalah anak kecil atau seseorang yang lebih muda. Mungkin kita seringkali meremehkan orang yang lebih tua karena beberapa keburukannya pernah terungkap. Lantas kita sebagai anak kecil atau orang yang lebih muda merasa lebih baik daripada mereka, sehingga terucap kalimat semacam ini: “Sudah tua masih maksiat, ingat umur!” dan sejenisnya.

Padahal, kalau kita mau merenung, tentu mereka yang lebih tua itu telah lebih dulu beribadah daripada kita yang lahir kemudian. Tentu kebaikan yang dilakukan, juga jauh lebih banyak daripada diri kita karena mereka telah hidup lebih lama. Maka, pasti mereka yang lebih tua, jauh lebih baik sehingga tidak ada alasan bagi kita untuk menyombongkan diri.

Jika Kita Adalah Orang ‘Alim

Ilmu merupakan satu di antara penyebab seseorang bersikap takabur. Seringkali seseorang yang sudah merasa menguasai suatu ilmu, merasa lebih baik daripada orang lain. Akhirnya, ketika melihat orang yang lebih bodoh daripada dirinya, yang terlihat hanyalah kebanggaan diri sendiri sekaligus kehinaan orang lain di matanya.

Seorang muslim tidaklah pantas merasa takabur atas ilmu yang telah didapatnya. Seharusnya, semakin ‘alim seseorang, semakin tawadlu’ (rendah hati) terhadap sesama manusia. Hal ini sesuai dengan peribahasa kita, “semakin berisi, semakin merunduk”.

Baca juga: Gus Mus: 5 Anugerah Allah Yang Wajib Kita Syukuri

Jika kita adalah orang ‘alim, seharusnya kita mau merenungkan apa yang telah kita perbuat dengan ilmu kita. Apakah telah kita amalkan, ataukah masih sebatas hiasan belaka? Apakah ilmu tersebut telah mengantarkan kita menjadi manusia yang lebih taat, ataukah justru menjadi semakin durhaka dan selalu bermaksiat?

Karena itu, ketika melihat orang yang lebih bodoh, seharusnya kita mau berfikir, bahwa dia yang lebih bodoh itu, andaikan bermaksiat kepada Allah tentu disebabkan kebodohannya atau karena ketidaktahuannya, sedangkan kita yang lebih ‘alim, masih saja bermaksiat meskipun tahu dan memiliki ilmu. Dengan demikian, tentu orang yang lebih bodoh itu jauh lebih baik daripada kita yang mengaku ‘alim tapi masih sering bermaksiat. Nastaghfirullahal ‘adzim.

Jika Kita Adalah Orang Bodoh

Sikap takabur adalah sikap menolak kebenaran. Salah satu kebenaran yang sering kita tolak ialah kenyataan bahwa orang lain lebih ‘alim daripada diri kita sendiri. Konyol tapi nyata, bahwa seringkali kita menyadari diri kita lebih bodoh daripada orang lain, namun masih saja menolak kenyataan ini. Kita masih saja merendahkan orang yang lebih ‘alim. Dengan demikian, bukankah kita telah takabur?

Jika kita adalah orang bodoh, seharusnya kita mau menyadari kebodohan diri kita sendiri. Seharusnya kita sadar bahwa Allah swt. memberikan kelebihan ilmu pada orang lain melebihi diri kita sendiri. Orang lain telah sampai pada pemahaman tertentu dengan ilmunya sehingga mengetahui apa yang tidak kita ketahui. Dengan demikian, tidak pantas bagi kita untuk merendahkan orang yang lebih ‘alim, lebih-lebih merasa iri dengki. Na’udzubillah min dzalik.

Jika Kita Adalah Orang Islam

Status keislaman ternyata bisa juga menjadi sebab banyak orang untuk merasa takabur. Salah satu fenomena yang nyata dan dapat kita jumpai ialah fanatisme golongan agama dengan merendahkan agama lain seperti penghinaan sebagian umat muslim terhadap nonmuslim. Ujaran kebencian terhadap nonmuslim masih sering menggema dalam masyarakat kita. Hanya karena merasa beragama Islam, lantas merasa legal untuk mencaci maki, misalnya dengan cemoohan kafir dan semacamnya. Bukankah ini adalah suatu bentuk takabur?

Kalau kita mau merenung, bukankah kita sebagai umat Islam tidak tahu bagaimana akhir hayat mereka yang nonmuslim itu? Jangankan nasib mereka nanti di akhir hayat, nasib kita sendiri saja kita tidak tahu.

Kita sebagai umat Islam tidak tahu apakah kita mati membawa keimanan dan keislaman atau tidak. Bisa jadi mereka yang nonmuslim mendapatkan hidayah hingga akhirnya masuk Islam dan berakhir dengan husnulkhatimah dan diampuni segala dosanya. Adapun kita sebagai umat Islam, juga tidak menutup kemungkinan berakhir suul khatimah, menjadi kafir, mati tanpa iman dan islam. Na’udzubillahi min dzalik.

Baca juga: Memetik Ilmu Khidmah dari Kisah KH. Chusaini Ilyas

Sungguh, kebaikan adalah apa yang baik di sisi Allah swt. dan perhitungannya tentu kelak terjadi di yaumil hisab (hari akhir, hari perhitungan), sedangkan hari akhir ialah termasuk perkara yang gaib, hanya Allah-lah yang tahu kapan datangnya. Dengan demikian, benarlah hujjah Imam Al-Ghazali dalam statemennya:

 فَاعتِقَادُكَ فِي نَفسِكَ أنَّكَ خَيرٌ  مِن غَيرِكَ جَهلٌ مَحضٌ

“Keyakinanmu atas dirimu bahwa dirimu lebih baik daripada orang lain ialah suatu kebodohan yang mutlak (murni)”.

Karena itu, tidak pantas bagi kita untuk merasa takabur, merasa lebih baik daripada orang lain dengan apapun yang kita miliki. Entah itu status usia atau kedewasaan (baik anak kecil maupun orang tua), status keilmuan (baik orang ‘alim maupun orang bodoh), hingga bahkan status keislaman sekalipun. Tak ada satupun alasan yang dibenarkan untuk bersikap takabur. Kiranya, dialektika ala Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali dalam memandang sifat takabur di atas, dapat menjadi renungan kita bersama, hingga akhirnya kita dapat menghilangkan sifat takabur dari hati kita sedikit demi sedikit. Aamiin. Wallahu a’lam bish showab.

Penulis: M. Chasbi Asshidiq

Editor: Zahroul Aini

Subscribe KH. Marzuqi Mustamar Channel  di Youtube. Klik di sini

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: