Senin, September 28Ponpes Sabilurrosyad Gasek Malang
Shadow

Cermin itu Jujur, Kita yang Kurang Syukur

Cermin itu jujur, Kita yang kurang Syukur
Ilustrasi : Ria ‘Ainun Nafi’ah

Ponpesgasek.com – Mari berbicara dengan cermin. Coba lihat dirimu di depan cermin, berbicara dengan cermin sama halnya kamu berdialog dengan diri sendiri. So? What for? Nggak ada kerjaan? Eitss, hal sesederhana itu sebenarnya sangat penting. Why? Oke, kita bisa membicarakannya di sini.

Sebelumnya, sudah mencoba bercermin dan memperhatikan diri sendiri mulai dari ujung kepala hingga kaki? Jika belum, aku yakin sebentar lagi akan kalian lakukan, hehe. Hal yang tampak jelas di cermin adalah bentuk fisik kita. Secara umum, fisik yang terlihat di cermin ini menjadi tolak ukur sebuah kecantikan. Ya, kecantikan. Aku katakan kecantikan karena masalah ini cenderung lebih sensitif terjadi pada perempuan. Bahkan ajang kecantikan bergengsi digelar hingga tingkat dunia, mulai dari putri indonesia hingga miss universe. Isu yang berkembang selama ini tentang standar kecantikan adalah perempuan yang tinggi semampai, berbadan ideal, berkulit cerah, berhidung mancung, pipi tirus, memiliki jari-jari lentik, dan sebagainya. Pendapat tersebut sebenarnya merupakan pandangan subjektif, tidak mungkin seseorang memiliki kesempurnaan itu secara utuh. 

Demi mematahkan standar kecantikan yang aku katakan sebagai pandangan subjektif itu, perlu adanya kepercayaan diri. Mari pandang kembali diri kita dalam cermin. Sekali waktu pasti pernah teringat pendapat orang lain tentang kekurangan fisik kita, dan karena hal tersebut diri kita sendiri bisa mengutuk bentuk fisik kita. Apa yang telah dilakukan orang lain terhadap kita itu adalah body shaming. Terdengar sepele, korban body shaming justru dituduh terlalu baper, padahal sangat berdampak. Dampak paling dasar yang pasti dialami setiap korban adalah menurunnya kepercayaan terhadap diri sendiri atau bisa dikatakan insecure. Dampak lain yang lebih berbahaya adalah menghambat seseorang untuk mengembangkan diri hingga membuat orang melakukan hal ekstrim demi mengubah bentuk fisiknya atau bahkan mengakhiri hidupnya.

Pelaku body shaming yang melakukannya secara langsung maupun dalam bentuk narasi tertulis (termasuk di media sosial) dapat dipidana sebagai pencemaran nama baik. Ketentuan tersebut diatur dalam Pasal 310 atau 311 KUHP, sedangkan UU ITE juga mengaturnya dalam Pasal 27 Ayat 3 (jo) Pasal 45 Ayat 3 UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Layanan Elektronik (ITE). Ancaman hukumannya cukup lama jika ada yang masih hobi melakukannya yaitu penjara paling lama 4 tahun dan denda paling banyak 750 juta rupiah. Terdapat ratusan kasus tentang body shaming meskipun telah jelas diberikan ancaman pidana. Tahun 2018 saja terdapat 966 kasus, 347 kasus diantaranya selesai. Tahun 2019, salah satu kejadian di Indonesia yaitu dialami oleh bayi dari pasangan Tasya Kamila dan Randi Bachtiar di media sosial yang banyak dicemooh netizen. Bayi yang belum mengerti tentang dunia sudah bisa menjadi korban body shaming, akhirnya berdampak pada orang terdekat bayi tersebut yaitu orangtuanya.

Sadar ataupun tidak, selain menjadi korban juga terkadang kita pernah menjadi pelaku body shaming, atau keduanya secara berurutan. Beberapa kasus bisa bermula dari korban body shaming yang kemudian menyembunyikan ketidaksempurnaanya dengan mempermalukan kekurangan orang lain. Lalu apa bedanya? Aku sarankan jangan lakukan hal negatif kepada siapapun bahkan kepada orang yang sering melakukannya pada kita. Hal ini sering dianggap sebagai basa-basi ketika bertemu dengan teman lama atau sebagai bahan bercanda di media sosial. Sungguh bukan budaya yang baik. Jadi, mari kita bahas sama-sama.

Beri Apresiasi

Manusia cenderung fokus pada noda hitam pada sebuah kain putih. Manusiawi, aku pun demikian. Tapi, hal yang perlu kita biasakan adalah tidak mempermasalahkan noda itu. Mengapa kita harus mempermasalahkan kekurangan orang lain sementara dia memiliki kelebihan? Mari mencoba mengapresiasi kelebihan maupun pencapaian orang lain, sekecil apapun itu. Seseorang akan menghargai orang lain yang mengapresiasi pencapaiannya, tapi sebaliknya akan kecewa ketika sebuah pencapaian terabaikan oleh kekurangan fisik. 

Menjaga Lisan 

Kamu tidak sempurna, begitu juga denganku. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Berkomentar tentang kekurangan fisik orang lain sama halnya dengan mencela ciptaan Allah SWT. Pikirkan manfaat dan mudharat dari setiap perkataan kita. An Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullau Ta’ala berkata dalam Al-Adzkaar yang artinya

“Ketahuilah bahwa hendaknya setiap mukallaf menjaga lisannya dari seluruh perkataan, kecuali perkataan yang memang tampak ada maslahat di dalamnya. Ketika sama saja nilai maslahat antara berbicara atau diam, maka yang dianjurkan adalah tidak berbicara (diam). Hal ini karena perkataan yang mubah bisa menyeret kepada perkataan yang haram, atau minimal (menyeret kepada perkataan) yang makruh. Bahkan inilah yang banyak terjadi, atau mayoritas keadaan demikian, sedangkan keselamatan itu tidaklah ternilai harganya.”

Lidah bisa menjadi sangat tajam dan melukai tanpa darah. Luka tak berdarah itulah yang lebih berbahaya. Lisan kita banyak mengeluarkan kata, tapi kita tidak pernah tau selebar apa luka yang telah dibuatnya. Apakah perkataan kita selama ini bermanfaat? Atau lebih banyak mendatangkan mudharat?

Love Ourselves

Yup, cintai diri kita sendiri. Selayaknya orang yang mencintai, maka akan selalu menjaga dan melindungi. Tidak mungkin menyiksa atau memaksakan kehendak. Begitu juga dengan cinta kita pada diri sendiri. Perlakukan diri sebaik mungkin. Lakukan hal menyenangkan selama itu tidak membawa dampak buruk. Makan saja berbagai macam makanan tanpa takut gemuk asalkan halal dan makan dengan porsi banyak asalkan tidak berlebihan. Islam sudah memberi kita rambu tentang halal dan haram, begitu juga dengan hal yang berlebihan. Semua orang punya porsi yang berbeda, silahkan makan sesuai porsi masing-masing karena segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Tidak perlu menyiksa diri dengan makan jauh di bawah porsi kita demi mendapatkan body goals, tapi ujung-ujungnya sakit. Katanya cinta, perlakukanlah dengan layak.

Bahagia Itu Milik Siapa?

Selalu Bersyukur

Kunci utama menghadapi body shaming adalah bersyukur. Mari kita menghargai dan mensyukuri apa yang telah Allah SWT berikan kepada kita.

Ketahuilah bahwa rasa syukur merupakan tingkatan tertinggi, dan lebih tinggi daripada kesabaran, ketakutan (khauf), dan keterpisahan dari dunia (zuhud). –Imam Al-Ghazal

Kita bisa belajar untuk tidak melakukan body shaming terhadap orang lain. Tapi, jika kita terpaksa berada pada posisi sebagai korban, maka ingatlah untuk selalu bersyukur. Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik dan paling pas untuk diri kita. Seperti apapun Allah menciptakan bentuk fisik kita, syukurilah. Tugas kita hanya bersyukur dan menjaga pemberian Allah.

Baca Juga :

 

Oke. Masih di depan cermin? Silahkan lihat kekuranganmu, tidak masalah. Kemudian cari sesuatu yang dapat kamu syukuri dari tubuhmu. Tidak ada? Kamu bisa melihat dirimu di cermin itu perlu disyukuri. Nafas, waktu, dan kekuatanmu saat ini adalah nikmat luar biasa yang patut disyukuri. Tanpa semua itu, kecantikan atau kelebihanmu tidak ada artinya. Sekarang, mari ucapkan syukur dan tersenyum di depan cermin. Alhamdulillaah.

 

Penulis: Mujlauwidzatul Husna

Editor: Zahro’ul Aini 

 

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: