Selasa, Agustus 11Ponpes Sabilurrosyad Gasek Malang

Sastra

Uthak-Uthak Ugel

Uthak-Uthak Ugel

Sastra
Terdengar suara gesekan telapak sandal bapak dengan tanah, Neneng bergegas menuju pintu. Menyambut se-besek berkat yang terayun lemah. Neneng dengan cepat merangsek berkat itu dan berlari masuk rumah. “Ndhuk, mbokya bagi-bagi sama kangmase, sama mbkyune…” teriak ibu. “Neng, Mas Arik sama Mbak Widya juga pengen itu, lho!” seru ibu sambil menggelar tikar anyam. Ketiga anak kecil itu berebut duduk di tikar. “Serbu... hahaha” Arik dan Widya menyerbu makanan di depan Neneng. Mereka menyikat habis nasi gurih, ayam goreng, sambal goreng, serundeng, dan lainnya. Ibu dan bapak tidak ikut makan, mereka memilih ngobrol di kursi. “Bu, tadi bapak ketemu Pak Bagio,” bapak memulai pembicaraan serius. “Ikut tahlilan?” “Iya, Bu, lha kan ketemune di ndaleme Pak Lurah." “Dungaren wonge mulih. Panjen
Derai Cita

Derai Cita

Sastra
  Tertetes seketika air mata Terhimpit rindu yang memaksa Jiwaku sadar hampa Semacam ada kekosongan dalam sukma   Serempak pilu menggebu Sesak tangis  mulai candu Halu mencatuk kalbu Sekencang angin menembus tulang-tulangku   Hening membungkam Rindu menghujam Terngiang sisa kenangan Sunyi ramai malam setahun silam   Desak hati ingin segera berlabuh Menuai tawa keluarga ramai riuh Bermanja keluh kesah nan ricuh Ah, halu romansa yang semakin keruh   Aku rindu senjamu Aku rindu fajarmu Rindu sahurmu Rindu iftarmu   Ya Ramadan, Kini kau hampir berpulang Tak ada sedepa, Nampakmu akan segera hilang Namun aku masih ber-Ramadan di kampung orang Biar, doa saja yang jadi obat ribang   Sudahlah, Gundah gulana kubuang saja Saatnya
Santri Tulen Vs Santri Karbitan

Santri Tulen Vs Santri Karbitan

Literasi Santri, Sastra
Ilustrasi : Mohammad Zakaria Sumber: https://islamsantun.org/indahnya-berkehidupan-ala-santri/ Bi af’ala-ntiq ba’da maa ta’ajjuba Au ji’ bi af’il qabla majruurin bi ba Wa tilwa af’ala-nshibannahu kama Aufa khaliilainaa wa ashdiq bihima Alunan nadzam menggema di bilik-bilik pengaosan diniah. Suara para santri antarkelas terdengar bersahut-sahutan beradu semangat melantunkan nadzam-nadzam atau syair-syair sebelum ngaji dimulai sembari menunggu muallim mereka rawuh di kelas. Namun, tidak semua santri patuh dan mau duduk rapi. Ada saja di antara mereka yang datang terlambat, keluar masuk kelas, atau tidur-tiduran di kelas. Itulah rutinitas santri ketika masuk jam diniah bakda isya di salah satu pondok pesantren di Jombang. “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” Melihat ada ses
Hidup yang Mati

Hidup yang Mati

Sastra
Hidup yang Mati Oleh: Mutmainnah Jika saja lidah itu bicara Mungkin jutaan keluhan pula kau akan dengar darinya Aku kelu, mengeja kata-kata yang bahkan sama sekali tak berharga Jika saja tubuh itu bercerita dan kau merasakannya Mungkin kau mati perlahan pula karenanya   Aku sekarat bukan karena beban berat Tapi kau membunuhku dengan hasratmu yang hebat Melambung tinggi, namun kau meringkuk menyembunyikan diri   Jika saja keringat itu mampu meminta Ia tak akan pernah bersedia kau tumpahkan cuma-cuma Yang akhirnya hanya menghanyutkan asa yang telah ia jaga Aku menjaganya, namun kau membuatku menghanyutkannya hingga tak bersisa Cerminmu terselip? Atau akal dan hatimu masih asyik berlanglang buana?   Apa bisa kau dikatakan sebagai manusia Ketika di dalam di...
Sowan Ibu—Sajak Rindu untuk Ibu—

Sowan Ibu—Sajak Rindu untuk Ibu—

Sastra
Sowan Ibu Assalamualaikum, Sapa yang bagiku lama tidak mengudara Beribu rintik hujan yang memisahkan hawa Sehingga kita merasakan suasana yang berbeda   Ibu tahu? Di balkon ini terpa angin begitu kencang Begitu pula terpa rindu yang turut berperang Mendesak memori untuk mengutarakan kenang Baca Juga==> Bahagia Itu Milik Siapa? Sungguh maksud hati ini sulit dituliskan Kebaikan hatimu selalu mengoyak-ngoyak pikiran Dengan apakah nanti, bongsormu ini mengabdikan diri? Tak akan cukup usiaku untuk membayar kucuran keringatmu   Bu, Jika balasku tidak cukup mengeringkan air matamu Tidak cukup menggantikan pilu dan lelahmu Tapi kau telah berpasrah pada sisi Gusti lebih dulu ‘Kan kuabdikan diri untuk sowan kepada cintamu   Yang, Cinta itu tak pernah mati
Film The Santri: Pesan Perdamaian untuk Negeri

Film The Santri: Pesan Perdamaian untuk Negeri

Opini, Sastra
Ponpesgasek.com - The Santri merupakan film yang diinisiasi oleh PBNU melalui NU Channel yang dibintangi oleh Wirda Mansyur, Veve Zulfikar, dan Gus Azmi. Film ini mengangkat tentang keberadaan pesantren dan dunia santri. Film The Santri diproduksi untuk menyemarakkan hari santri  pada tanggal 22 Oktober 2019 yang lalu. Baca:  PBNU Melalui NU Channel Siap Luncurkan Film The Santri The Santri mengenalkan bagaimana sesungguhnya agama Islam mengajarkan kedamaian. Islam bukanlah agama yang keras, juga bukan agama yang radikal. Film ini berpesan bahwa dalam menjalani hidup sangat diperlukan adanya toleransi, terutama di Indonesia yang penduduknya beragam. Kita tidak bisa memaksakan orang yang berbeda dari kita mengikuti apa yang kita yakini. Misalnya ada hamba Allah yang ingin menjadi mualla
Lukanya

Lukanya

Sastra
Lukanya... Aku mencium bau tubuh Menyengat namun hangat Tak tergantikan karena telah melekat Dari timangan sampai bongsoran Iya, ialah yang aku sayang   Kukecup tangannya Berkerut melipat lipatan telapak tangan Mengeras berkapal karena terlalu banyak bekerja Kusentuh jemarinya Kulit menua berkeriput hitam berarak matahari menyengatnya Nampak urat-urat hijau di setiap kulit keringnya Kaki yang tak pernah mau beralas Kuat menahan aspal dan kerikil jalan   Hati siapa yang tak teriris melihatnya Bersemangat menguli di ladang orang Mentari dan senja yang  menjadi teman pergi dan pulangnya Tak ada yang bisa dikeluhkan Karena semua untuk aku yang tak pernah bisa menggantikan   Seharusnya di usia senja ini Ia hanya
Puisi Hari Sumpah Pemuda : 91 Tahun Lalu…

Puisi Hari Sumpah Pemuda : 91 Tahun Lalu…

Sastra
91 Tahun Lalu... 91 tahun lalu…Kami berdiri sejajar dalam satu ruanganSaling bergandeng tangan melingkarSaling menguatkan Tidak ada Java, meskipun dari tanah JawaTidak ada Sumatra, meski lahir di tanah SumatraTidak ada Borneo, Sulawesi, atau Papua meski tinggal di tanah timur Hanya ada Indonesia, satu-kesatuan NusantaraKami memandang perbedaan adalah satu-kesatuanBukan sebagai ancaman, atau alasan perpecahan Perbedaan adalah rahmat Tuhan yang perlu dipertahankanKami mengangkat dan mengepalkan tanganBersumpah dalam suatu ikatan, ikatan kebangsaan Sumpah Pemuda:Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah satu.Tanah air IndonesiaKami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa satu.Bangsa IndonesiaKami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan.Bahasa
Pantun KH. Chusaini Ilyas untuk Mempelai Santri Gasek

Pantun KH. Chusaini Ilyas untuk Mempelai Santri Gasek

Keluarga, Literasi Santri, Sastra
Ponpesgasek.com – KH. Chusaini Ilyas adalah seorang kiai sederhana dan juga sangat kharismatik. Umurnya yang tak lagi muda tidak menyurutkan semangat beliau dalam berdakwah. Kiai asal Mojokerto ini memiliki cara berdakwah yang khas dan jarang dimiliki oleh kiai-kiai lain. Selain dengan dalil-dalil Alquran atau hadis, beliau juga memiliki ciri khas lain dalam berdakwah yaitu dengan cara berpantun. Seperti halnya pantun-pantun pada umumnya yang memiliki rima, pantun Kiai Chusaini pun begitu. Yang membedakan dengan pantun lain adalah dalam hal kedalaman maknanya. Seperti pantun yang beliau sampaikan ketika berceramah dalam acara Halalbihalal Ponpes Gasek, khusus ditujukan kepada para mempelai santri Gasek yang melangsungkan akad nikah dalam acara halalbihalal. Tidak panjang lebar Kiai Chu
Sholawat Indonesia Karya KH. Marzuqi Mustamar: Doa Pemersatu Bangsa

Sholawat Indonesia Karya KH. Marzuqi Mustamar: Doa Pemersatu Bangsa

Aqidah, Sastra, Serba serbi
Ponpesgasek.com - Sebagai ungkapan rasa syukur atas kemerdekaan yang telah didapatkan rakyat Indonesia, serta wujud nasionalisme dan cinta tanah air, Sholawat Indonesia diciptakan oleh Abah KH. Marzuqi Mustamar. Sholawat ini menjadi bukti bahwa menjadi santri tidak hanya belajar ilmu agama saja, namun juga punya tugas menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sholawat Indonesia karya KH. Marzuqi Mustamar memiliki harapan-harapan yang besar terhadap keselamatan dan keamanan Negara Indonesia dari segala bentuk pemberontakan yang dapat memecah belah persatuan bangsa. Semoga Indonesia  merdeka dari kebodohan dan tidak ada lagi perpecahan antar umat. Lantunan harapan-harapan tersebut kemudian menjadi doa yang disyairkan. Situasi Indonesia yang dinamis dengan berbagai isu-isu p