Senin, Maret 30Ponpes Sabilurrosyad Gasek Malang

Bahagia Itu Milik Siapa?

Bahagia itu milik siapa
Ilustrasi: Ria ‘Ainun Nafi’ah

Ponpesgasek.com – “Perkenalkan saya Zahra, tiap hari saya mengajar anak-anak berhitung, dan saya bahagia.” Sebuah kalimat perkenalan singkat yang pernah saya dengar beberapa tahun lalu ketika mengikuti sebuah workshop komunitas. Kalimat yang terdengar optimis itu keluar dari bibir seorang teman wanita saya yang seorang pengajar muda. Pertemuan kami dulu tak sengaja. Ketika itu saya sedang ditanyai berbagai hal dalam forum diskusi kecil tentang bagaimana bahagia itu? tentang bisakah semua orang bahagia? dan milik siapa bahagia itu sesungguhnya? Tentu saja pertanyaan-pertanyaan itu di luar topik diskusi. Saya sedang berbusana kuning cerah, menjaga senyum tetap terjaga kepada penanya, namun masih sulit menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan ekspresi bahagia. Lalu Zahra datang, ia menjabat tanganku lalu menatapku dalam. Kami saling memberi kode untuk menghangatkan suasana kembali. Singkat cerita, aku menjawab segala pertanyaan dalam forum dengan ngeles. Problem unsolved!

Semenjak hari itu, aku berteman makin akrab dengan Zahra. Ia menemaniku datang ke workshop, lalu kami diminta memperkenalkan diri masing-masing bergiliran. Seingatku, aku hanya menyebutkan nama, asal dan nama kampus. Lalu Zahra, ia mengucapkan kalimat perkenalan seoptimis itu. Bagiku, mengukur kebahagiaan dan menentukan indikator tentang siapa yang pantas bahagia itu tidak mudah. Tapi, teman baruku ini bisa menobatkan dirinya bahagia! Bagaimana bisa?

Mencari Makna Bahagia

Kupelajari darinya, hari ke hari, rasanya hidup Zahra sama saja denganku. Ia menjalani aktivitas seperti mahasiswa sekaligus pengajar pada umumnya. Lalu, dari sisi mana ia mengaku bahwa dirinya bahagia? Suatu hari, ia paham apa yang kucari darinya. Kemudian ia berkata “aku akan mengatakan banyak hal, jangan lihat siapa aku, tapi ambil jawaban yang kau cari dari kalimat-kalimatku nanti”. Saya yang semula sedang makan, berhenti seketika. Menyimak dengan seksama apa yang Zahra sampaikan. Singkatnya, yang bisa kutulis ulang adalah ia menikmati hidupnya dengan memikirkan hal-hal baik yang akan ia perbuat tiap harinya. Menjadi bahagia bukan selalu menjadi pribadi yang ceria. Ketika ditimpa kesulitan, kita tetap bisa bahagia. Zahra mencontohkanku seekor burung dalam sangkar emas. Kalau dalam cerita-cerita yang sudah umum, hikmah dari kisah burung dalam sangkar emas selalu seputar percuma punya segalanya, bahkan tinggal di sangkar emas, tapi kamu tidak bisa menjadi sebebas yang kamu mau. Tapi, Zahra membawaku dalam pemaknaan yang lain.

Burung dalam sangkar emas tidak semuanya tak bahagia. Ia bisa bahagia, asalkan dia menerima. Jika Zahra menjadi burung dalam sangkar emas, ia memilih untuk berkicau semerdu mungkin. Pemiliknya pasti akan senang, ikut bersiul bersamanya, dan mengajaknya berbicara makin lama. Rupanya, bahagia burung dalam sangkar emas, bisa disandarkan pada bahagia pemiliknya. Tapi, Zahra memberiku opsi lain. Aku tidak harus menjadi burung dalam sangkar emas yang seperti itu. Aku bisa memilih menggigit sangkarku tiap ada kesempatan, agar suatu saat terbuka dan bisa terbang bebas. Bisa juga setiap pintu sangkarku dibuka, aku mencari celah untuk keluar. Bahagia itu ternyata pilihan. Begitukah?

Mendapat Makna Bahagia

Setelah pembicaraan agak serius tentang burung dalam sangkar emas, aku sedikit demi sedikit memahami. Bahagia memang pilihan. Pilihan dari kita sendiri untuk bahagia lewat jalan mana. Seandainya menjadi burung dalam sangkar emas, aku juga akan memilih hidup untuk tuan pemilikku. Diberi makan, minum, dan dibersihkan sangkarku sepertinya cukup menjadikanku burung yang bahagia. Lebih jauh, kupahami bahagia ternyata tentang penerimaan akan segala hal. Jika kita masih mengatakan “Saya bahagia, ketika…” sepertinya kita belum seutuhnya bahagia. Bahagia bukan bagian dalam sebab musabab yang karena suatu hal, kita bahagia, jika tidak maka tidak bahagia.

Bahagia bukan implikasi matematika “jika p maka q” atau sebaliknya. Kudapati bahwa bahagia memang tentang penerimaan. Bahagia untuk siapa saja yang bisa menerima keadaan atau jalan hidup yang dituliskan Tuhan. Jika ditanya lagi bahagia itu untuk siapa? Kujawab, bahagia itu untuk siapa pun yang berhati lapang. Tidak menggantungkan kebahagiaan kepada keberhasilan atau jalan hidup orang lain. Ketika kita bisa berlapang dada menerima kehidupan kita, selain dapat meyakinkan diri kalau kita bahagia, juga sekaligus mendekatkan diri pada-Nya.

Pemikiran seperti “betapa bahagianya menjadi dia. Punya ini, punya itu. Bisa ini, bisa itu…” kadang masih sering ada di benak kita. Menilai orang lain lebih bahagia dari kita tidak akan membuat kita makin bahagia. Belum tentu juga orang yang kita nilai bahagia memang benar sedang bahagia. Daripada sibuk membandingkan diri dengan orang lain, akan lebih positif kalau energi berpikir tersebut dialihkan untuk mengoptimalkan potensi diri.

Tidak ada yang lebih membahagiakan dalam hidup selain menjalani hidup dengan bahagia. – Zahra.

Penulis : Zahro’ul Aini

Baca Juga :

4 Hal Yang Paling Sering Dibicarakan Santri Putri Ketika Antri Kamar Mandi

Facebook Comments

One Comment

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: