Selasa, Agustus 11Ponpes Sabilurrosyad Gasek Malang

Ajal Selalu Menanti, Cukupkah Bekalmu?

menanti ajal

Ilustrasi Gambar Oleh: Nailatul Izzah A

Ponpesgasek.com- Ajal. Apa yang terbesit dalam pikiran Anda saat mendengar kata tersebut? Takut? Khawatir? Pasrah? Atau mungkin Anda telah siap menghadapinya? Tetapi yang pasti, ajal adalah sebuah ketetapan yang telah digariskan Allah swt. di Lauhul Mahfudz bersama jodoh dan rezeki. Tidak ada satu pun makhluk di dunia ini yang dapat mengelaknya. Pasti akan tiba saatnya Malaikat Izro’il memisahkan ruh dari jasad manusia. Lantas, karena ajal adalah ketetapan yang tidak bisa diubah, apakah sebagai seorang hamba kita hanya akan berdiam diri menantinya.

Ajalmu Sudah Dekat dan Tidak Dapat Ditunda

Allah swt. berfirman:

حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ, لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu) hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak, Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan” (Q.S Al-Mu’minun: 99-100).

Renungkanlah bahwasanya kita sudah sangat dekat dengan ajal. Mari kita bayangkan saat kita terlalu sibuk dengan urusan dunia dan terus mengesampingkan urusan akhirat, lalu tiba-tiba ajal datang menjemput. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan karena pintu taubat telah ditutup, sedangkan tidak ada bekal yang kita bawa untuk menghadap Allah swt. Masih pantaskah kita mengharapkan akhir hidup yang husnul khatimah?

Bekal untuk Menyambut Ajal

Nabi Muhammad saw. bersabda:

الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ المَوْتِ، وَالأَحْمَقُ مَنْ اتَّبَعَ هَوَاهُ وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ تَعَالَى الأَمَانِيَّ

“Orang yang cerdas adalah orang yang menguasai dirinya dan beramal untuk bekal sesudah mati. Dan orang yang bodoh adalah orang yang menuruti hawa nafsunya dan mengharapkan rida Allah swt dengan angan-angan kosong” (HR. Ahmad)

Orang yang cerdas akan selalu mengintrospeksi diri agar amal ibadahnya semakin sempurna setiap harinya. Selain itu, dia akan senantiasa beramal soleh untuk bekal setelah meninggal kelak. Sebaliknya, orang yang bodoh akan selalu mengedepankan hawa nafsu tanpa pernah berusaha untuk beramal soleh. Dia selalu mengaharapkan rida Allah swt. tanpa beribadah, tentu saja itu hanyalah angan-angan kosong yang ada di benaknya.

Kita semua tahu, ajal merupakan rahasia Allah swt. Tak ada satupun yang tahu kapan ajal datang. Salah satu hikmah mengapa Allah swt. merahasiakan ajal ialah agar hamba-Nya senantiasa bersiap-siap untuk menyambut kematian. Sehingga kapan dan di mana saja dia berada, perbuatan baik yang akan selalu dilakukannya. Banyak orang yang masih hidup di pagi hari, namun tanpa disangka umurnya tidak sampai sore hari. Sisa umur bukanlah sesuatu yang dapat diprediksi oleh siapa pun. Entah itu satu tahun, satu bulan, satu hari, atau bahkan satu detik sekali pun.

Ajal Bukan untuk Ditakuti

Senantiasa bersiap menyambut kematian, bukan berarti kita harus takut menghadapinya. Sebagai umat Islam, kita mempunyai kewajiban untuk berdakwah. Hal tersebut bukan tanpa resiko, tidak jarang nyawalah yang dipertaruhkan. Karena dakwah ditunjukkan kepada seluruh lapisan masyarakat dan berbagai macam golongan dengan banyak perbedaan pemahaman di dalamnya. Maka dari itu, kita harus selalu memegang keyakinan bahwasanya ajal bukanlah hal yang perlu ditakuti, melainkan takdir yang harus dihadapi dengan amal soleh sebagai bekalnya.

Golongan Orang-orang yang Selamat

Nabi Muhammad saw. bersabda:

 يَنْجُوْا اَوَّلُ هَذِهِ الْأُمَّةِ بِالزُّهْدِ وَالْيَقِيْنِ وَيَهْلِكُ آخِرُهَا بِالْحِرْصِ وَطُوْلِ الْعَمَلِ

“Generasi pertama umat Islam selamat karena zuhud  dan keyakinan. Dan generasi akhir dari umat Islam tidak selamat karena serakah dan panjangnya angan-angan” (HR. Ahmad)

Sikap zuhud dan keyakinan atas perlindungan Allah swt. adalah kunci keselamatan di dunia dan akhirat. Sedangkan, keserakahan dan angan-angan yang terlalu panjang bisa menjadi bumerang buruk bagi kita. Akibat dari angan-angan yang panjang adalah menunda-nunda ibadah yang wajib dilakukan. Sedangkan ajal bisa menjemput kapan saja tanpa memandang siapa dan di mana kita berada.

Begitu dekatnya kita dengan ajal, sudah seharusnya kita menyiapkan bekal untuk menghadapinya dengan senantiasa beramal saleh. Karena sejatinya, ajal bukanlah akhir dari kehidupan. Ajal adalah pintu gerbang menuju kehidupan berikutnya, yakni kehidupan di alam barzah. Pintu tersebut bisa membawa manusia ke dalam dua kemungkinan, yaitu mendapatkan kenikmatan yang sempurna atau siksaan yang  tak pernah terbayang pedihnya.

Artikel Khutbah Jum’at Lainnya:

Penulis: Rindia Meirisa Aris Taufani
Editor: Nur Alaviyah Alhikma

*Disarikan dari khutbah Jum’at oleh KH Marzuqi Mustamar di Masjid Nur Ahmad, Gasek, Jum’at, 15 November 2019.

Klik tautan berikut  untuk menyimak pengajian KH. Marzuqi Mustamar. Klik di sini.

Ikuti pengajian KH. Marzuqi Mustamar di Channel Youtube @PonpesgasekTV. Klik di sini.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: