Halalbihalal Tradisi Khas Nusantara

0
117
views

Ponpesgasek.com- Hari Raya Idul Fitri adalah hari bahagia dan sukacita. Hari dimana umat Islam bersyukur akan kesuksesan dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Serta hari dimana Allah mencurahkan nikmat ampunan untuk hamba-Nya.

Hal ini menjadi momentum bagi umat Islam untuk saling bermaaf-maafan. Sebagian kalangan masyarakat biasanya mengadakan tradisi halalbihalal untuk tetap menjalin tali persaudaraan dan Ukhuwah Islamiyah.

Baca juga : Ribuan Jama’ah Hadiri Halalbihalal 1440 H Ponpes Sabilurrosyad, Gasek, Malang

Istilah Halalbihalal

Halalbihalal merupakan istilah yang lahir dari budaya bangsa Indonesia dan hanya ada di Indonesia. Istilah halal memang diserap dari bahasa Arab. Akan tetapi, ungkapan halalbihalal tidak ditemukan di negara Arab. Mungkin lafadz halalbihalal dibenarkan dalam bahasa Arab, tetapi tidak dapat dipahami maksudnya. Oleh karena itu, secara lafadz dan istilah, halalbihalal adalah ungkapan asli Indonesia.

Jika meninjau Kamus Besar Bahasa Indonesia daring, istilah halalbihalal berarti saling maaf-memaafkan setelah menunaikan ibadah puasa Ramadhan, dan diadakan di sebuah tempat (auditorium, aula, dan sebagainya) oleh sekelompok orang.

Lahirnya Tradisi Halalbihalal

Adanya halalbihalal di Indonesia adalah hasil buah pikir kecerdasan ulama-ulama Nusantara. Tak lain, mereka adalah Walisongo. Ulama-ulama Nusantara berpandangan bahwa orang yang baru selesai berpuasa itu sudah tidak mempunyai dosa, hal ini sesuai dengan hadits Nabi SAW :

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa berpuasa Ramadhan atas dasar Iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni (HR. Bukhori Muslim).”

Dalam riwayat lain Nabi SAW bersabda :

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa menegakkan shalat di bulan Ramadhan atas dasar Iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni (HR. Bukhori Muslim)”.

Dalam hadits di atas jelas bahwa Allah telah menjamin ampunan bagi hamba-Nya. Karena Allah adalah Dzat yang paling mudah memberikan ampunan. Akan tetapi, para ulama sepuh ini juga mengingat bahwasanya masih ada satu dosa lagi yang belum diampuni oleh Allah sebelum meminta kehalalan. Dosa itu merupakan kesalahan yang diperbuat manusia pada masa lalu. Dosa kepada sesama manusia inilah yang menjadi sebab Allah tidak ikut campur untuk memberikan ampunan.

Hal ini sesuai dengan hadits Nabi SAW :

مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيْهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ مِنْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ اليَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُوْنَ دِيْنَارًا وَلَا دِرْهَامًا.. إِلَى آخِرِهِ

“Barang siapa melakukan kedzaliman kepada saudaranya, hendaklah meminta dihalalkan darinya; karena di sana tidak ada lagi perhitungan dinar dan dirham,…” (HR. Bukhori)

Oleh sebab itu, manusia harus menebus kesalahannya sendiri dengan cara meminta maaf. Dengan begitu, Allah akan memberikan ampunan kepada hamba-Nya yang saling meminta dan memberikan maaf.

Agar kita kembali menjadi manusia yang bersih dan suci dari dosa, penting bagi kita sebagai umat muslim untuk mengadakan kegiatan halalbihalal sebagai perantara silaturrahim serta melestarikan budaya khas yang diwariskan oleh para leluhur Nusantara.

Baca juga : Dinikahkan oleh Masyayikh, Santri Ponpes Gasek Diminta Tidak Berpoligami

“Disarikan dari Pengajian KH. A. Musthofa Bisri dalam acara HALALBIHALAL dan HAUL KH. Mustamar serta KH. Ahmad Noer pada jumat, 21 juni 2019 , di Pondok Pesantren Sabilurrosyad, Gasek, Malang”

Penulis: Indah A Maharani

Editor: Siti Nur Khasanah

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here