3 Akhlak Dasar Hamba Yang Wajib Dimiliki Seorang Muslim

0
212
views

Ponpesgasek.com – Inti ajaran Islam adalah akhlakul karimah. Hal ini ditegaskan secara tersurat dalam pernyataan Nabi Muhammad SAW bahwa misi utama beliau ialah untuk menyempurnakan akhlak umat manusia. Innama bu’itstu li utammima makarimal akhlaq. Dengan demikian, seorang muslim sudah sepatutnya mengikuti tuntunan Rasulullah SAW sesuai kodratnya sebagai hamba Allah sekaligus sebagai makhluk sosial. Dalam rangka menyempurnakan akhlak itu, ada 3 akhlak dasar yang harus dimiliki oleh seorang muslim sebagai berikut:

Memperbaiki Hubungan Hamba Dengan Allah

Akhlak pertama dari 3 akhlak dasar yang harus dimiliki oleh seorang muslim ialah akhlak dalam hal memperbaiki hubungan hamba dengan Allah SWT. Manusia merupakan salah satu makhluk ciptaan Allah SWT yang sempurna. Sempurna dalam arti: manusia memiliki akal sekaligus hawa nafsu. Kedua hal inilah yang menyebabkan perbedaan dengan makhluk lain seperti malaikat, syaitan, jin, hewan dan tumbuhan. Dengan demikian, manusia memiliki potensi memaksimalkan fungsi akal yang dapat memimpin hawa nafsu untuk taat kepada sang pencipta.

Seorang hamba sudah sepatutnya memiliki kesadaran sebagai ciptaan Allah. Kesadaran itu berarti mengakui kekuasaan Allah dan mengakui kelemahan diri sendiri. Apalagi sebagai seorang muslim yang meyakini bahwa tiada satupun Dzat yang mampu menciptakan alam seisinya selain Allah SWT. Dialah satu-satunya Tuhan yang patut disembah.

Seperti apapun perbuatan seorang hamba, jika terus berupaya memperbaiki kualitas hubunganya dengan Allah, maka ia dianggap telah berakhlakul karimah. Memperbaiki kualitas hubungan hamba dengan Allah  berarti menjaga kemurnian tauhid. Maksudnya, seorang hamba harus mengakui kalimat tauhid : لا اله الا الله محمد رسول الله .  Bentuk nyata dari mengakui kalimat tauhid berarti menjaga iman, aqidah dan ibadahnya kepada Allah SWT . Dengan demikian, kriteria seseorang telah berakhlakul karimah ialah berusaha memperbaiki hubungan manusia dengan Tuhannya (Allah SWT).

Memperbaiki Hubungan Dengan Nabi Muhammad SAW

Seorang muslim dapat dianggap baik manakala mau mengikuti Rasulullah SAW. Tidak ada sesuatu yang mengantarkan seseorang itu selamat dan masuk surga Allah, kecuali mau mengikuti Rasulullah SAW. Salah satunya adalah mengikuti cara berperilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Rasulullah SAW adalah orang yang gaya bicaranya sangat halus, tidak pernah berkata kotor, tidak pernah menggunjing orang lain dan tidak pernah mencaci orang lain. Jika ada orang yang mengaku sebagai orang berilmu namun ternyata sering berkata kotor dan menghina orang lain, bisa dipastikan ia jauh dari Islam dan jauh dari kebenaran. Hal ini dikarenakan perilakunya tidak mencerminkan sikap mengikuti Rasulullah SAW dalam menjaga lisan dari ucapan yang menyakiti orang lain.

Namun, apakah kehalusan gaya bicara menjadi tolok ukur pasti seseorang disebut memilik akhlakul karimah? Belum tentu. Seseorang dengan sikap lemah lembut bisa jadi itu memang akhlaknya, tetapi bisa jadi bukan demikian. Bersikap santun bisa saja dilakukan karena ada maksud tersembunyi atau ada kemunafikan di baliknya sebagaimana pernah terjadi pada zaman Rasulullah SAW.

Pada zaman Rasulullah SAW, ada seseorang bernama Anas bin Syarikh yang gaya bicaranya sangat halus. Kehalusan gaya bicara Anas bin Syarikh itu membuat Rasulullah SAW terkesima. Namun siapa sangka Anas bin Syarikh adalah seorang munafik yang di balik kehalusan gaya bicara itu ternyata mengandung tujuan jahat kepada Rasulullah SAW. Maka, tolok ukur seorang muslim berakhlakul karimah adalah memperbaiki hubungan dengan Rasulullah SAW dengan cara mengikuti perilaku Rasulullah SAW bukan karena tendensi tersembunyi atau niatan lain, semata-mata karena merasa menjadi umat Rasulullah SAW.

Berbuat Baik Kepada Sesama Manusia

Terakhir, akhlak seorang hamba yang wajib dimiliki oleh seorang muslim ialah senantiasa berbuat baik kepada sesama manusia. Cakupan berbuat baik kepada sesama manusia ini sangatlah luas. Berbuat baik kepada sesama manusia bisa berwujud dalam banyak hal. Misalnya, membantu tetangga yang terkena musibah, tidak mengolok-olok orang lain, memberi sebagian harta kepada fakir miskin, dan seterusnya. Yang jelas, sikap perbuatan baik kepada sesama manusia itu didasari oleh sikap menghormati orang lain. Sikap ini semata-mata lahir dari kesadaran atas rasa kemanusiaan.

Kemuliaan manusia terletak pada akhlaknya. Jika akhlaknya baik meskipun pengetahuanya kurang maka derajat mereka lebih mulia di sisi Allah dibandingkan dengan orang yang berilmu tapi buruk akhlaknya.

Seseorang yang memiliki banyak ilmu, cenderung banyak berbicara karena merasa menguasai tema-tema dalam ilmunya itu. Ia akan mengabaikan orang lain bahkan meremehkanya. Sikap yang demikian itu, dapat menimbulkan perasaan jengkel sehingga ucapannya sulit diterima. Maka,  seseorang yang berilmu tanpa diimbangi akhlak terpuji menjadikanya  sia-sia belaka. Dengan demikian, ia sama sekali tidak mendapatkan kemulian disisi Allah SWT.

Dalam pembahasan ini, hal pertama yang harus kita soroti yaitu perihal cara berbuat baik kepada guru. Guru adalah orang yang pernah mengajarkan ilmu kepada kita meskipun hanya satu huruf saja. Jika kita masih memiliki guru maka kita harus memuliakannya. Jangan sampai kita berani kepada guru apalagi hanya karena berbeda pandangan politik

Baca Juga: Wasiat Imam ‘Abdullah ‘Alawi al-Haddad: 7 Cara Agar Menjadi Hamba Yang Ridho

Sikap penghormatan kepada guru merupakan cerminan penghormatan atas eksistensi manusia lain yang telah mengajarkan banyak hal dalam hidup kita. Manusia yang beriman tidak disebut kafir bila hanya melakukan maksiat saja. Seseorang malah bisa menjadi kafir apabila meninggalkan rasa hormat terhadap orang lain, yang mana hormat kepada orang lain merupakan buah dari akhlakul karimah.

Dapat kita lihat bagaimana setan sebagai makhluk ciptaan Allah SWT yang awalnya taat lalu menjadi kafir. Kafirnya setan bukan karena tidak mengakui Allah SWT sebagai Tuhan, tetapi karena tidak mau hormat kepada Nabi Adam AS ketika Allah memerintahkannya. Jadi, sebagai seorang muslim kita harus memiliki rasa hormat kepada orang lain. Misalnya: kepada guru, orang tua, keluarga, suami/istri, tetangga, teman dan sesama manusia lainnya.

Dengan demikian, sebagai seorang yang mengaku muslim sudah seharusnya memiliki 3 akhlak dasar seorang hamba. Yakni: memperbaiki hubungan hamba dengan Allah SWT; memperbaiki hubungan dengan Nabi Muhammad SAW; dan berbuat baik kepada sesama manusia. Insyaallah apabila 3 akhlak dasar tersebut telah kita miliki maka kita termasuk orang yang berakhlakul karimah. Lantaran akhlakul karimah ini insyaallah akan dimuliakan oleh Allah SWT.

Penulis: Adib Santoso

Editor: M. Chasbi Asshidiq

*Disarikan dari Pengajian Kiyai Ahmad Ali Mahsun dalam Majelis Ta’lim wa Maulid ad-Diba’i (MTMD) pada Selasa, 12 Februari 2019, di Masjid Ainul Yaqin, Jl. Danau Limboto Barat, A4, Kedung Kandang, Sawojajar, Kedungkandang, Kota Malang, Jawa Timur.

Selengkapnya, simak video pengajian berikut: MTMD Bersama Kiyai Ahmad Ali Mahsun 
Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here