Karakter Pemuda Zaman Jahiliyah Modern

0
328
views
Ilustrasi Oleh: Moh. Zakaria

Ponpesgasek.com – Kini, kita hidup di zaman dengan Istilah era revolusi industri 4.0. Sebenarnya kondisi ini bisa dikatakan berbarengan dengan lahirnya era jahiliyah modern jika dilihat dari fenomena-fenomena dalam beragama. Imam Syafii menerangkan dalam Muqaddimah Kitab Ar-risalah bahwa bentuk jahiliyyah pada masa sebelum Islam ada dua golongan. Pertama, orang-orang yang mengaku sebagai Ahlul Kitab tapi mereka telah merubah sebagian besar hukum-hukumnya. Mereka mencampurkan substansi kebenaran dengan menambahkan kepalsuan. Kedua, mereka yang menyembah berhala dan mengingkari Allah, mereka sendiri yang membuat patung dan mereka pula yang menyembahnya.

Dua golongan itu merupakan kelompok Jahiliyah sebelum agama Islam datang. Kelompok-kelompok tersebut berani memalsukan kebenaran dan menuhankan berhala. Karakter yang hampir sama mulai muncul di era kontemporer. Sikap fanatisme yang konservatif justru membawa malapetaka bagi sebagian golongan pada zaman sekarang yang merasa paling benar sendiri. Mereka tidak ragu menyalahkan golongan lain yang tidak sepaham. Kelompok ini begitu percaya diri menganggap dirinya paling benar dengan dasar pengetahuan seadanya. Sumber yang diambil berdasarkan bacaan buku yang dipahami secara subyektif dan terjemahan Al-quran bahasa Indonesia dari Kemenag. Golongan tersebut bisa dikatakan sebagai bentuk jahiliyah modern yang pertama.

Sedangkan bentuk Jahiliyah modern yang kedua terjadi pada generasi millenial dan generasi Z yang bersahabat dengan teknologi. Begitu akrabnya dengan teknologi, kehidupan pemuda di era modern saat ini tidak bisa lepas dari gadget masing-masing. Betapa khawatir, gundah dan galau kaum muda yang berada di perjalanan namun gadgetnya tertinggal di rumah. Peran gadget sebagai salah satu bagian dari teknologi menjadi ketergantungan bagi mereka, seolah-olah posisinya menggantikan Tuhan karena lebih bergantung pada teknologi.

Masa muda identik senang akan kebebasan dalam menjalani hidup. Mereka memiliki keberanian mengambil resiko bahkan menerjang pelbagai batasan syariat agama. Idealisme yang tinggi seringkali berubah menjadi egois; mengedepankan pendapat pribadi karena tidak ingin diatur. Keberanian mereka melewati batasan syariat agama semakin kuat ketika beranjak dewasa disebabkan ingin mencoba sesuatu yang baru.

Oleh karena itu, sebagai pemuda yang masih relatif labil dan belum memiliki prinsip yang kuat, baiknya jangan pernah mencoba melanggar larangan agama sekecil apapun meski hanya sekali. Hal tersebut bisa menimbulkan ketagihan untuk melakukannya lagi dan lagi sampai merasakan nyaman tanpa merasa bersalah.

Banyak pemuda yang terperangkap jatuh pada lubang kesalahan yang sama berkali-kali, mengikuti karakter jahiliyah modern dan bertindak sesuai keinginannya sendiri sampai melupakan tuntunan guru yang lebih paham terhadap tuntunan agama. Zaman sekarang, untuk menjaga amal kebaikan saja menjadi perkara yang sulit, karena segala tindak kemudhorotan seolah sudah terfasilitasi. Oleh karena itu, sebagai pemuda yang hidup di zaman jahiliyyah kontemporer cukup mempertahankan kebaikan yang bisa dipraktikan saja sudah hebat terlebih jika bisa diistiqomahkan. Hal itu tentunya sesuai dengan kapabilitas masing-masing yang berbeda untuk mengontrol iman serta melakukan amal kebaikan.

Melihat realita kini, kemungkinan terburuknya adalah ketika kaum muda –melakukan perbuatan dosa-  terjerumus pada jurang kemaksiatan, kemudian terlalu larut dalam penyesalan dan kesengsaraan. Baiknya, keyakinan dan aqidah kepada Allah harus tetap tertancap. Percayalah bahwa Allah Maha pengasih lagi Maha Penyayang, sebesar apapun kesalahan yang pernah dilakukan, Ampunan Allah jauh lebih besar. Jadi, tetap optimis dan yakin pada ampunan Allah.

Jika merasa masih minim ilmu dan pengetahuan, daripada salah memahami isi kandungan Al-qur’an melalui terjemahan yang jauh dari kebenaran dan berujung pada kesesatan, lebih baik mengikuti para kiai dan ulama yang lebih mengetahui substansi dan makna Al-qur’an. Namun, kita juga harus pandai memilih  panutan, karena di era modern ini banyak orang yang mengaku sebagai ustadz dan ulama padahal kemampuannya belum memumpuni dalam memahami ilmu agama.

KH Marzuki Mustamar ketua tanfidziyah PWNU Jawa Timur mengatakan “Jangan hanya karena ngefans dengan ustadz yang ngetren di medos, lantas kamu melupakan guru yang mengajarkan alif, ba’, ta.” Artinya jangan sampai melupakan guru agama yang mengajar kita dasar-dasar membaca Al-quran dan wawasan syariat lainnya sejak kecil, hanya karena mengikuti fatwa ustadz gaul yang diketahuinya dari media sosial.

Penulis: Febi Akbar Rizki (kader PKPT IPNU Universitas Islam Malang)

Editor: Zahro’ul Aini

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here