Mas, Asap Rokoknya Bisa Ditelan Sekalian?

1
578
views
https://bolastylo.bolasport.com/read/17961106/jarang-olahraga-lebih-membahayakan-kesehatan-tubuh-ketimbang-merokok?page=all

Ponpesgasek.com – Selamat menjalankan ibadah puasa di minggu terakhir Ramadhan untuk seluruh pembaca setia ponpesgasek.com! Tenang, tulisan ini tidak akan membahas halal-haramnya rokok/merokok. Namun, saya ingin mengajak sahabat ponpes gasek untuk lebih memperhatikan “etika ketika merokok”.

Baca Juga : Catatan Ramadhan 2019 : Santri All Out Ala Gasek

Saya hidup di lingkungan yang tidak jauh dari asap rokok. Saya tuliskan “Mas” dalam judul karena hampir seluruh perokok di sekitar saya adalah laki-laki. Menurut data dinas kesehatan tahun 2013 jumlah perokok laki-laki di Indonesia mencapai 66% dan terus mengalami kenaikan tiap tahunnya. Ketika pulang ke pondok, di parkiran saya berpapasan dengan mas-mas yang sedang merokok. Ketika melewati lorong kamar, kadang juga bau asap rokok dari depan tercium sampai kamar. Ketika melewati dapur, saya melewati kepulan asap rokok juga. Pun ketika pulang ke rumah, saya harus berdampingan dengan anggota keluarga yang merokok.

Terdengar berlebihan mungkin, tapi memang begitu faktanya. Ada banyak hal yang sepertinya kurang disadari oleh para perokok aktif tentang apa yang menurut mereka merupakan sebuah “hak” ternyata malah merampas hak orang-orang di sekitarnya. Saya sering merasa risih dengan perokok yang seenaknya sendiri. Dalam hal ini misalnya, menyebulkan asap rokok seenaknya tanpa lihat kanan-kiri, membuang abu rokok sembarangan (tanpa asbak), membuang puntung rokok sembarangan, sampai menitikkan abu rokok yang masih menyala sembarangan. Satu alasan terbesar kerisihan tersebut adalah: semua poin di atas membahayakan!

Hari ini, 31 Mei 2019 bertepatan dengan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Bertepatan dengan bulan Ramadhan pula, sepertinya kampanye hari anti tembakau tahun ini tidak terlalu marak. Ya, karena sudah dibantu dengan “puasa”nya perokok di Indonesia yang mayoritas muslim. Peringatan Hari Tanpa Tembakau biasanya dilakukan dengan kampanye tidak merokok 24 jam, meminta para perokok mematikan rokok di hadapan para aktivis kampanye, atau ada juga demo untuk terus menaikkan harga rokok agar semakin turun permintaan pasarnya. Namun, ini adalah versi saya untuk ikut merayakan momentum Hari Tanpa Tembakau dengan mengingatkan kembali bagaimana etika merokok yang baik. Tidak ada yang melarang mas-mas sekalian untuk merokok, kecuali MUI memang melarang bagi anak-anak dan ibu hamil, serta larangan merokok di tempat umum. Selebihnya, mas-mas boleh merokok, asalkan memperhatikan beberapa hal berikut:

Jangan Saat Berkendara

Seringkali saya mendapati perokok ketika mengendarai motor ataupun mobil, menitikkan abu rokoknya sembarangan. Enteng saja jari-jari lincah itu menitik rokok dengan abu rokok yang masih menyala tanpa menyadari siapa yang ada di sekitar mereka. Mereka tidak sadar ketika abu rokok itu terbang dan mengenai orang di sekitarnya, apa yang terjadi? Hal terfatal yang bisa terjadi adalah ketika abu rokok (apalagi masih menyala) masuk ke dalam mata orang lain. Hal itu bisa menyebabkan iritasi mata hingga kebutaan.

Mas-mas tahu, apa kandungan dalam rokok yang “nikmat” itu? Direktorat Penyakit Tidak Menular pada tahun 2014 merilis kandungan racun dalam rokok. Dalam sebatang rokok, terdapat asam asetik yang biasa ditemui dalam pembersih lantai. Naptalin seperti dalam bola karbol kamar mandi. Hydrogen Sianida seperti dalam racun tikus. Kadmium seperti dalam baterai. Urea, Hidrasin, Aseton, dan masih banyak lagi.

Lalu bayangkan, racun-racun itu kemudian masuk ke paru-paru atau mata orang lain karena ketidakbijakan mas-mas saat merokok? Berkendara pastinya di jalanan alias tempat umum, yang siapa saja disana punya hak yang sama atas tempat umum yang sehat. Indikator kawasan sehat salah satunya adalah bebas asap rokok. Baiknya, ketika berkendara, tahan keinginan untuk merokok. Kalau memang keinginan merokok tidak bisa dihindari, maka jaga sebisa mungkin tidak merugikan orang sekitar. Pastikan asap dan abu rokok Mas-mas tidak mengenai orang lain.

Baca Juga : 3 Macam Golongan Umat Nabi Muhammad SAW

Tidak di Dekat Anak-anak

Menurut data Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, 85% rumah tangga Indonesia terpapar asap rokok. Sedikitnya 250.000 kematian di Indonesia tiap tahunnya dialami oleh perokok pasif. Mereka terpapar asap rokok dari lingkungan sekitarnya. Perokok baik aktif maupun pasif, memiliki resiko sakit jantung 7.8 kali dibanding bukan perokok. Dengan menyorot subyek paparan asap rokok adalah anak-anak yang masih rentan terhadap paparan-paparan dari luar, maka jangan merokok di dekat anak-anak. Kalau mas-mas bisa hidup sehat sampai di umur sekarang, tentu karena masa kecil mas-mas sekalian bisa dilewati dalam keadaan sehat. Maka, adil kiranya membiarkan anak-anak di sekitar kita juga mendapat haknya untuk hidup di lingkungan yang sehat.

Menjaga Kebersihan

Jika sehari mas-mas menghabiskan 3 batang rokok, maka ada tiga puntung rokok yang menjadi sampah. Jika satu bungkus rokok biasanya berisi 12 batang, maka empat hari sekali ada 12 sampah putung dan 1 sampah bungkus rokok. Ada kurang lebih 50 juta jiwa perokok di Indonesia, maka tiap empat hari minimal ada 600.000.000 putung rokok dan 50.000.000 sampah bungkus rokok yang dibuang. Semua sampah itu bukan sampah yang mudah terurai. Ternyata selain asap dan abu yang mencemari udara, banyak sampah anorganik pula yang dihasilkan oleh perokok aktif.

Meminimalisir pencemaran lingkungan, sebaiknya sih ya tidak merokok. Setidaknya ya dikurangi, demi masa depan lingkungan yang bebas sampah rokok dan demi udara bersih bagi anak cucu kita nanti. Buang sampah rokok di tempat sampah anorganik dan jangan menetikkan abu rokok di jalan atau di tempat umum. Gunakan asbak dan segera buang ke tempat sampah, karena kalau tidak segera dibuang, bisa tertiup angin dan terhirup oleh orang-orang sekitar. Jangan egois dengan bersembunyi di balik dalih “Saya berhak merokok, kalau sakit toh saya sendiri yang sakit” ! Ya, kalau sudah bijak tidak merugikan orang sekitar, yang punya resiko sakit tinggal sampean seorang. Tapi kalau sudah sakit, apa tidak butuh keluarga? Tidak butuh orang lain untuk merawat sampean? Sudah siap membiayai sakitnya? Sakitnya sendiri, tapi yang repot orang banyak, Mas!

Kalau mas-mas sekalian belum bisa memenuhi kriteria etika merokok sesederhana ulasan di atas, sepertinya ada yang perlu diperbaiki dari cara berfikir atau sikap mas-mas. Jika memang sulit menghargai hak orang lain, tidak pantas untuk menuntut untuk dituruti haknya. Kalau masih sulit menghargai orang sekitarnya ketika merokok, tolong asapnya ditelan saja sekalian. Terima kasih kepada mas-mas yang kemudian bisa lebih bijak dalam merokok setelah membaca tulisan ini, semoga selalu dilimpahi kesehatan.

Dari Penulis :

Penulis: Zahro’ul Aini

Facebook Comments

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here