Catatan Ramadhan 2019 : Santri All Out Ala Gasek

0
188
views
Catatan Ramadhan 2019 : Santri All Out Ala Gasek
Ilustrasi Oleh : Teguh Hidayanto

Ponpesgasek.com – Tak terasa kebersamaan di bulan Ramadhan akan segera berakhir. Malam ke 20 kemarin merupakan akhir dari rangkaian kegiatan kami di bulan penuh berkah ini. Sedih? Sepertinya tidak. Hal ini disebabkan bayangan liburan panjang telah bercokol dengan indah, kesakralan hari raya bersama keluarga di rumah masing – masing terus terbayang di pelupuk mata. Meski begitu, pada ulasan kali ini kami ingin mengajak pembaca untuk mengikuti catatan momen-momen kebersamaan selama ramadhan di pondok tercinta ini.

Monggo

Ngaji Pasan

Kegiatan mengaji khusus bulan Ramadhan di pondok pesantren biasa disebut ‘ngaji pasan, atau lebih akrab dikenal dengan istilah pesantren kilat. Disebut pesantren kilat karena setiap sesi kajian kitabnya memiliki durasi yang lebih lama dengan intensitas yang lebih padat. Oleh sebab itu, duduk bersila minimal selama 1 – 2 jam tiap pengajian sambil memaknai kitab hingga timbul rasa linu, pegal – pegal bahkan kesemutan, merupakan perkara yang sangat biasa.

Progres adalah buah dari proses, ketekunanmu akan terbayar mas mbak, semangat takjil ceria pokoknya nggih.

Baca Juga : Penjelasan Tentang Kitab Kuning

Sebagai permulaan, kajian pertama dilaksanakan setelah sholat tarawih di malam pertama, hingga berakhir pada waktu yang telah ditentukan oleh pihak pengurus pondok. Sebagai peserta, tidak hanya santri yang bermukim di pondok, banyak juga masyarakat umum dan santri pendatang dari pondok – pondok lain yang turut serta mengikuti kajian kitab – kitab kuning di pondok kami.

Momen seperti ini sangatlah dinantikan oleh banyak santri, karena menjadi saat yang tepat untuk bertabarukan kepada banyak masyaikh di pondok terkait. Seru pasti, apalagi yang sudah sering melakukannya di berbagai kesempatan di banyak pondok. Impian sekali nggeh, Kang? Barakallaah, semoga tahun berikutnya kembali kemari lagi, kami nanti selalu.

“Karena seorang Kiai tidak hanya memberi pelajaran, tetapi juga memberi suri tauladan”

KH. Marzuqi Mustamar

Momen Setalam berBanyak

Lalu bagaimanakah hiruk pikuk khas Ramadhan di Pondok Pesantren Sabilurrosyad sendiri? Kesibukan kami telah dimulai sejak menjelang sholat ashar. Bermula dari dapur sebagai pos komando utama pasukan dapur, petugas inti dan petugas piket menyiapkan aneka takjil dan hidangan yang telah diolah dengan penuh perjuangan. Proses memasak yang sangat lama pasti membutuhkan energi ekstra di bulan puasa, ditambah lagi porsinya yang berkisar  ratusan santri beserta jamaah.

Tidak sampai disitu, tim solid ini juga bertanggung jawab penuh mempersiapkan segala macam hidangan hingga matang dan tersaji sempurna. Selanjutnya, tim pramusaji mendistribusikan ‘talam (baki) berisi hidangan kepada jamaah. Memang melelahkan, namun mereka melaksanakan tugas itu dengan semangat yang membara, seperti nyala api tungku – tungku dapur itu. Sambil mendistribusikan talam, biasanya sayup-sayup terdengar anjuran “setalam berlima, nggih mbak mas“.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Semangat selalu kang dan mbak! tanpa kalian lambung kami meronta – ronta begitu kerasnya. Hahaha..

Beriringan dengan berlalu lalangnya petugas dapur, tepat di area parkir komplek asrama putra terlihat mas-mas sedang menata sepeda motor. Sebagian area ini harus dikosongkan, karena area tersebut digunakan mbak – mbak santri puteri untuk buka bersama dan sholat tarawih.

Ngaos Abah

Bersamaan dengan terbentangnya terpal di areal parkir, tim multimedia pondok mulai mempersiapkan peralatan dokumentasi. Urusan pasang memasang perlengkapan ini mulai dari membentang layar dan proyektornya, mempersiapkan kamera di dalam masjid untuk merekam pengajian para masyaikh, hingga konfigurasi peralatan streaming beserta jaringan dan aneka kabel panjangnya. Senada dengan kapten multimedia pondok, Kang Rou. “Full Khidmah, Full Barokah,.. gaass”.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Gambar: sebagian crew multimedia.

Sekitar seperempat jam puji – pujian ashar dilantunkan, terdengarlah suara derap langkah abah kami Kiai Marzuqi Mustamar, sambil menepuk-nepukkan tangan beliau hingga suaranya terdengar sangat keras. Dengan tepukan itulah beliau memanggil para santri agar bergegas, mempercepat langkah dan merapatkan diri ke masjid. Dengan begitu, baik mas-mas dan mbak-mbak santri tidak ketinggalan kajian kitab yang diampu beliau selepas sholat ashar hingga menjelang waktu berbuka.

Hayoo,… kira – kira apakah ada di antara mas – mas dan mbak – mbak yang mengingat kata – kata inspiratif beliau di kajian terakhir kemarin? jika lupa maka penulis ingatkan,..hehe.

“Beramalah, bekerjalah sesulit apapun. Jangan berhenti, jangan putus asa. Kuliah terusno, dadi ketua ranting berjuaaang, mbangun pondok budhaaal, raonok dana gholekk. Yakinlah, asal kita mau berusaha sekuat tenaga, Allah akan memberi jalan, memberi kemudahan menuju takdir yang sudah digariskan untuk kita”

KH.Marzuqi Mustamar

Ketika waktu memasuki saat maghrib, kajian kitab kuning pun disudahi oleh Kiai dan langsung berdoa berbuka puasa bersama. Santri menyantap takjil ringan dan meminum teh hangat secukupnya lalu segera melaksanakan sholat maghrib berjamaah. Selepas sholat maghrib semua jamaah buka bersama dengan menu talaman yang sudah disediakan tadi.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Menanti Sholat Tarawih

Selepas itu, memasuki waktu menunggu sholat tarawih, disini ada banyak macam interaksi yang terjadi diantara kami. Mas-mas bisa saja pembicaraanya seputar rencana mengopi bareng selepas mengikuti kajian kitab kuning ba’da sholat tarawih nanti. Atau mungkin sekedar mengobrol ringan sambil menghabiskan sisa – sisa takjil dengan mendengarkan riuh canda  mbak-mbak santri dibalik satir hijau masjid, hehe.

Sementara mbak-mbak, sebagian ada yang membaca Al-Quran, membaca Rotib, ada juga yang sekedar mengobrol dengan sesama. Waktu menunggu tarawih terasa menyenangkan di area masjid. Suasana seperti ini sangat jarang dirasakan di luar bulan Ramadhan. Kebersamaan seperti ini adalah obat bagi para santri yang belum bisa menikmati Ramadhan bersama keluarga di kampung halaman.

Usai sholat tarawih biasanya kami masih memiliki waktu sekitar tiga puluh menit untuk melanjutkan obrolan – obrolan usil yang belum tuntas ketika waktu berbuka tadi. Obrolan mas-mas biasanya berlanjut ke ranah – ranah viral, lawak, sampai politik. Namun tetap saja, topik seserius apapun tak pernah menjadi serius di forum mas – mas. Sedangkan mbak-mbak sebagian ada yang kembali ke asrama, ada juga yang sudah stand by menunggu pengajian ba’da tarawih dengan nderes Al-qur’an.

Dari sudut pandang mas-mas: Semua obrolan berakhir lawak, ngopi nglawak, rasan – rasan mbak – mbak juga nglawak. Jadi unsur kesendirian kami benar – benar tersiram hiburan, anti ngenes. Begitu kira – kira, haha.

Setelah puas berbincang – bincang kini waktunya mengikuti kajian selanjutnya, semua santri bergegas kembali ke masjid. Kecuali segerombolan mas – mas berkaus oblong berjalan dengan senyum lebar – lebar sambil menetengi talam – talam kotor sambil mengobraki teman – teman sejama’ah. Yo wayahe – wayahe,.. wayahe piket talam. Ora piket ora mangan mene sam..! oyi siap budalkan sam.

Baca Juga : 4 Hal Yang Paling Sering Dibicarakan Santri Putri Ketika Antri Kamar Mandi

Tentang Divisi Keamanan

Terakhir, penulis ingin menguraikan komplotan senyap – senyap namun tak kalah besar sumbangsihnya bagi pondok. Mereka adalah tim keamanan, dihuni oleh kaum elit pencak dengan aura seram dan keramat (bagi yang belum mengenali mereka). Rata-rata memang barisan sepuh-sepuh pondok dan petinggi padepokan, jadi baiknya kita yang muda yang menyapa kang-kang keamanan.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Bayangkan saja pondok tanpa orang-orang baik ini, segala penunjang kehidupan kami bisa terancam. “Ngaturaken terimakasih yang sebesar – besarnya atas proteksi maksimal selama kegiatan pasan berlangsung. Penulis tahu, njenengan semua aslinya ramah dan baik hati. Juga kepada keamanan puteri yang juga siap sedia menjaga keamanan pondok puteri selama kegiatan ngaji dan tarawih. Terimakasih mbak-mbak dan kang-kang kemananan!”

Alhamdulillah, itu tadi sedikit catatan rangkaian kegiatan kami selama ngaji pasan Ramadhan ini. Bagi yang telah pulang ke rumah jangan lupa pesan – pesan abah dan umik panutan kita nggih. Lalu bagi yang masih menunda kepulangan, tetap berbuat sesuatu yang bermanfaat, menjaga titipan barang saudara – saudara kita yang telah pulang dan merawat pondok tercinta.

Gambar : Sebagian santri kilatan putri

Kami Keluarga Besar Pondok Pesantren Sabilurrosyad mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa di 10 hari terakhir dan semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT. Serta kita dapat bertemu merayakan hari kemenangan nanti dan diampuni segala kesalahan terdahulu. Aamiin.

“Apa yang membahagiakan guruku, itu yang membahagikanku. Apa yang menyedihkan guruku, itu yang menyedihkanku”

KH. Marzuqi Mustamar

Baca Juga : Santri Alfa, Beta dan Omega

Penulis : Teguh Hidayanto

Editor : Zahro’ul Aini

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here