Wasiat Imam ‘Abdullah ‘Alawi al-Haddad: 7 Cara Agar Menjadi Hamba Yang Ridho

0
203
views
Wasiat Imam 'Abdullah 'Alawi al-Haddad: 7 Cara Agar Menjadi Hamba Yang Ridho
Ilustrasi gambar oleh : Moh. Zakaria

Ponpesgasek.com- Imam Abdullah ‘Alawi Al-Haddad adalah seorang ulama ahlussunnah wal-jama’ah dari keturunan Rasulullah SAW. Beliau disebut-sebut oleh para ulama mendapat gelar Quthubud Da’wah Wal Irsyad (Waliyullah dengan kedudukan tertinggi yang memimpin dakwah). Berkat kegigihan dalam berdakwah, beliau juga dicatat sebagai pembaharu abad 12 H yang mewariskan pemikiran serta ilmu yang sangat luas lagi mendalam.

Salah satu karya beliau yang menjadi rujukan ulama-ulama abad ini ialah kitab an-Nashaihud Diniyyah Wal Washoya al-Imaninyyah. Kitab ini berisi nasihat-nasihat keagamaan dan wasiat-wasiat keimanan. Di antara nasihat dan wasiat Imam Abdullah al-Haddad dalam kitab ini ialah wasiat beliau kepada umat Islam agar menjadi hamba yang ridho.

Definisi Ridho

Ridho berasal dari kata radhiya-yardha yang berarti menerima suatu perkara dengan lapang dada tanpa merasa kecewa ataupun tertekan. Sedangkan menurut istilah, ridho adalah menerima semua kejadian yang menimpa dirinya dengan lapang dada, menghadapinya dengan tabah, tidak merasa kesal dan tidak berputus asa.

Ridho mencakup berbagai macam sisi kehidupan manusia. Namun, pada dasarnya, ridho terbagi menjadi 3. Yakni, ridho kepada Allah SWT sebagai pemberi risalah, ridho atas agama Islam sebagai risalah, dan ridho kepada Rasulullah SAW sebagai penyampai risalah. Ketiga sikap ridho tersebut, tercermin dari doa sekaligus ikrar/pengakuan yang sering diucapkan oleh umat Islam. Yakni:

رَضِيتُ بِاللهِ رَبًّا وَبِالإِسلاَمِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا وَرَسُولاً

Artinya: Saya telah ridho (menerima) kapada Allah sebagai Tuhan, ridho dengan Islam sebagai agama, dan ridho (menerima) dengan Muhammad sebagai seorang nabi dan utusan Allah.

Ridho kepada Allah SWT sebagai Tuhan berarti harus beriman dengan iman yang sebenarnya, mengagungkan Allah SWT dan mentaati hukum-Nya. Ridho kepada Nabi Muhammad SAW sebagai panutan berarti harus mau mengagungkan, mencintai, memperbanyak shalawat, dan mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW. Sedangkan, ridho dengan Islam sebagai agama berarti harus mau melaksanakan ajaran Islam dengan ikhlas tanpa ada perasaan mendongkol (tidak puas).

Untuk menjadi hamba yang ridho dengan ke-tiga hal tersebut, Imam ‘Abdullah ‘Alawi Al-Haddad menuntun umat Islam melalui 7 cara berikut:

Pertama, tuntutlah diri kita masing-masing agar bisa mewujudkan makna ridho dalam kehidupan sehari-hari

فَيَنبَغِي لَكَ أَيُّهَا المُؤمِن أَن تَطَالِبَ نَفسَكَ بِتَحقِيقِ هَذِهِ المَعَانِ اَلَّتِي ذَكَرنَاهَا فِي مَعنَى قَولِكَ

رَضِيتُ بِاللهِ رَبًّا وَبِالإِسلاَمِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا وَرَسُولاً

Merealisasikan makna kalimat penyerahan diri (rodhitu billahi robba,,dst) dalam kehidupan sehari-hari berarti sikap mengagungkan Allah, taat dan patuh kepada Allah, dan ridho terhadap segala keputusan Allah itu menjadi sikap keseharian seorang mukmin. Ini berarti, penyerahan diri seorang mukmin tidak goyah dalam situasi apapun. Ketika dianugerahi kesuksesan dan kekayaan ia tidak sombong. Pun ketika diberi cobaan berupa sakit ia tidak nggrundel (mendongkol). Situasi demikian itu tidak menggoyahkan hati dan keyakinannya.

Kedua, paksalah diri untuk memiliki sifat ridho dengan cara tidak merasa puas hanya dengan ucapan lisan 

 

وَكَلِّف نَفسَكَ الاِتِّصَافَ بِهَا وَلاَ تَقنَع مِنهَا بِمُجَرَّدِ القَولِ فَإِنَّهُ قَلِيلُ الجَدوَى وَإِن كَانَ لاَ

يَخلُو عَن مَنفَعَةٍ

Tidak merasa puas hanya dengan ucapan lisan berarti berusaha menyamakan apa yang diucapkan sesuai dengan kenyataan. Apa yang diucapkan jangan hanya terbatas pada lisan. Mengapa? Karena pengucapan yang terbatas pada lisan itu hanya memiliki sedikit manfaat. Dalam arti, manfaat dalam upaya dalam menimbulkan perubahan dari mental yang kurang baik menjadi baik itu tidak maksimal dan hanya bernilai sedikit.

Meskipun demikian, kalimat yang hanya terbatas dalam lisan itu tetap memiliki manfa’at. Hanya saja, tidak semaksimal ucapan yang sampai pada hati sehingga upaya menjadi hamba yang ridho pun tidak maksimal. Maka, tingkatan selanjutnya untuk mencapai Ridho yang sebenar-benarnya adalah dengan memaksa diri sendiri agar sesuai dengan ucapan kalimat rodhitu billahi robba,,dst dan tidak merasa puas terbatas pada ucapan lisan.

Ketiga, ucapkan dengan lisan, tancapkan dan hayati dalam hati, buktikan dengan amal perbuatan

وَكَذَلِكَ فَافعَل فِي جَمِيعِ مَا تَقُولُهُ مِنَ الأَذكَارِ وَالأَدعِيَةِ وَنَحوِهَا

Ketika membaca dzikir ataupun do’a, upayakan jangan hanya berhenti di lisan saja, namun tancapkanlah ke dalam hati dan dihayati, setelah itu buktikanlah dalam amal perbuatan.

Contoh, ketika membaca doa Allohumma thohhir qolbiy minan nifaaq wa hassin farjii minal fawahisy setelah berwudhlu. Setelah berdoa dengan doa ini, upayakanlah menindaklanjuti dalam perbuatan. Maka, jauhilah sikap munafiq dan jauhilah kemaksiatan dimana makna doa ini adalah minta dijauhkan dari sikap munafiq dan perbuatan dosa besar (zina). Dengan demikian, sudah sepantasnya seorang mukmin ketika berdoa dan berdzikir menancapkan dan menghayati maknanya dalam hati lalu berusaha membuktikan dalam perbuatan sehingga berimbas pada jiwanya menjadi hamba yang ridho.

Baca juga: Larangan Berpecah Belah dan Berselisih dalam Islam.

Keempat, tuntutlah diri sendiri untuk mewujudkan makna dzikir yang dibaca

وَطَالِب نَفسَكَ بِحَقَائِقِهَا وَالاِتِّصَافِ بِمَعَانِيهَا مِثَالُ ذَلِكَ أَن تَكُونَ عِندَ قَولِكَ سُبحَانَ الله

مُمتَلِئَ القَلبِ بِتَنزِيهِ الله وَتَعظِيمِهِ وَعِندَ قَولِكَ اَلحَمدُ لِلّه مُمتَلِئَ القَلبِ بِالثَّنَاءِ اللهِ تَعَالَى

 وَشُكرِهِ وَعِندَ قَولِكَ رَبِّ اغفِرلِي مُمتَلِئَ مِنَ الرَجَاءِ فِي اللهِ أَن يَغفِرَ لَكَ وَمِن خَوفِهِ أَن

 لاَ يَغفِرَ لَكَ فَقِس عَلَى ذَلِك

Contoh, ketika berdzikir dengan subhanallah atau maha suci Allah, maka ikutilah ucapan itu dengan sikap tidak merasa paling suci. Pernyataan “Allah-lah yang paling suci” itu harus diikuti dengan sikap meniadakan kekultusan selain Allah. Maka, jangan lagi mengkultuskan (menganggap suci) Nyi Roro Kidul. Hati haruslah penuh dengan sikap mensucikan Allah dan mengagungkan-Nya.

Ketika lisan mengucapkan alhamdulillah maka hati merasa puas dengan penuh dengan rasa syukur terhadap nikmat Allah. Demikian juga ketika ia mengucapkan doa Robbighfirliy atau “ampunilah saya”, hatinya harus penuh dengan keyakinan bahwa Allah akan memberi ampunan kepadanya.

Kelima, berusahalah sekuat tenaga agar hati hadir bersama Allah SWT

وَاجتَهِد فِي الحُضُورِ مَعَ اللهِ وَتَدَبُّرِ مَعَانِيَ مَا تَقُولُهُ

Berusahalah sekuat tenaga agar hati hadir bersama Allah SWT, dalam artian merasa bahwa dalam setiap amal perbuatan itu selalu diawasi oleh Allah SWT. Lalu, renungkanlah doa maupun dzikir yang dibaca, dengan penuh kesadaran bahwa Allah SWT senantiasa mengawasi apapun yang berada dalam benak kita, ucapan kita dan perbuatan kita.

Keenam, berusahalah sekuat tenaga menghiasi diri dengan dengan sifat-sifat yang disukai Allah SWT.

وَاجتَهِد فِي الاِتِّصَافِ بِمَا يُحِبُّهُ اللهُ مِنكَ وَالاِجتِنَابِ لِمَا يَكرَهُهُ

Berusahalah sekuat tenaga menghiasi diri dengan dengan sifat-sifat yang disukai Allah SWT. Demikian sebaliknya, berusahalah sekuat tenaga untuk menjauhi sifat-sifat yang dibenci Allah SWT. Sifat-sifat yang disukai Allah di antaranya: tidak gampang marah, ridho, ikhlas, tidak mencaci maki orang lain,tidak memfitnah, rajin sholat berjama’ah, dan seterusnya.

Ketujuh, fokuskan perhatian untuk urusan hati (meluruskan niat)

وَاصرِف عِنَايَتَكَ إِلَى أَمرِ القَلبِ وَالبَاطِنِ

Fokuskan perhatian untuk urusan hati (meluruskan niat). Sebab, ibadah seseorang akan sia-sia tanpa hati yang lurus ikhlas. Penampilan dzohir memang penting, namun yang lebih penting dari penampilan dzohir ialah penataan hati (bathin). Dengan demikian, meskipun ibadah dzohirnya sangat hebat, jika hati tidak lurus, maka ibadahnya tidak terhitung ibadah.

Benar-benar Rasulullah SAW:

إِنَّ اللهَ لاَ يَنظُرُ إِلَى صُوَرِكُم وَأَعمَالِكُم وَإِنَّمَا يَنظُرُ إِلَى قُلُوبِكُم 

Artinya: Sesungguhnya Allah tidak melihat wajahmu/penampilanmu, bukan pula amal ibadahmu, yang dilihat Allah SWT adalah hatimu dan niatmu.

Maka, sesuaikanlah amal dengan niat yang lurus dan dengan hati yang Ikhlas. Caranya adalah dengan membersihkan hati dari penyakit-penyakit hati. Sebab hati itulah yang menjadi pokok inti dalam melakukan suatu amal perbuatan.

Baca juga: Perintah Menjaga dan Mempertahankan Islam Hingga Akhir Hayat.

Dengan ketujuh cara tersebut, Imam Abdullah Alawi al-Haddad menuntun umat Islam agar menjadi hamba yang ridho.  Semoga, dengan ketujuh cara tersebut, kita benar-benar bisa menjadi hamba yang ridho. Ridho kepada Allah swt sebagai Tuhan, ridho kepada Islam sebagai agama, dan ridho kepada Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan utusan pembawa risalah. Wallahu A’lam Bisshowab.

Penulis: Mamik Rokhimah

Editor: M. Chasbi Asshidiq

*Disarikan dari pengajian KH. Marzuki Mustamar dalam rutinan Kajian Jum’at Pagi di Masjid Nur Ahmad Pondok Pesantren Sabilurrosyad, Gasek, Kota Malang pada Jum’at, 15 Februari 2019.

Simak uraian KH. Marzuki Mustamar dalam video berikut. Klik di sini.

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here