Santri Alfa, Beta dan Omega

0
352
views
Santri Alfa, Beta, Dan Omega
Ilustrasi Oleh : Moh. Zakaria

Ponpesgasek.com– Manusia memiliki bermacam-macam kepribadian yang unik yang dipengaruhi oleh faktor genetik. Setiap individu mempunyai kepribadian yang merupakan kombinasi dari karakter kedua orang tua. Karena penggabungan kepribadian yang berbeda itulah, terbentuklah kepribadian yang unik dan berbeda satu sama lain.

Seperti yang sering kita dengar, ada berbagai macam kepribadian yang diklasifikasikan menurut penggolongan darah, zodiak, dan lain sebagainya. Bahkan tidak jarang kita juga melakukan pencocokan kepribadian berdasarkan klasifikasi tersebut. Tetapi, mungkin masih sedikit dari kita yang tahu bahwa terdapat klasifikasi kepribadian yang disebut kepribadian Alfa, Beta, dan Omega. Lalu, bagaimana jika klasifikasi tersebut diterapkan untuk kepribadian santri? Simak ulasannya berikut ini.

Sejarah Alfa, Beta, dan Omega 

Mary Wright, seorang penulis profesional dari Curious Mind Magazine yang tertarik pada bidang-bidang Psikologi dan hubungan antar pribadi seseorang menyebutkan 3 tipe kepribadian, yakni: Alfa, Beta, dan Omega. Klasifikasi ini bersumber dari disiplin ilmu Taksonomi yang dilakukan untuk mempelajari hewan, di mana hewan Alfa adalah pemimpin kelompok yang biasanya terkuat dan paling agresif.

Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh William Bertram Turril, seorang ahli botani Inggris yang memperkenalkan “Taksonomi Alfa” dalam makalah-makalahnya yang diterbitkan  pada tahun 1935 dan 1937. William Bertram Turril membahas tentang filosofi dan kemungkinan arah masa depan dari disiplin ilmu Taksonomi.

Tipe yang pertama adalah Alfa. Tipe kepribadian Alfa memiliki ciri khas sebagai seseorang dengan kepercayaan diri yang tinggi, berpendirian kuat, dan pekerja keras. Ciri khas inilah yang membuat seorang Alfa selalu sukses dalam pekerjaan dan merupakan kriteria sosok pemimpin. Sosok Alfa sangat berpengaruh untuk lingkungan sekitarnya, karena kepribadiannya yang selalu mendapatkan reputasi baik di mata orang-orang disekitarnya.

Kedua, tipe kepribadian Beta. Tipe ini merupakan kebalikan dari Alfa. Ciri khas dari Beta adalah seorang yang tidak berpendirian kuat dan pendiam. Meski demikian, Beta adalah sosok yang berpengetahuan luas dan mampu mengintropeksi diri dengan bantuan atau tanpa bantuan orang lain. Hal inilah yang membuat Beta menjadi ‘pemain belakang layar’ di balik sosok Alfa. Beta adalah seorang yang lebih baik menjadi pengatur strategi daripada menjadi seorang pemimpin.

Yang terakhir adalah tipe Omega. Tipe ini sangat berbeda dari dua kategori sebelumya. Seorang Omega adalah sosok yang tidak peduli dengan lingkungan sekitar dan walaupun memiliki banyak teman, Omega lebih senang mengerjakan semua hal sendiri. Sebagai contoh, saat terjadi sebuah permasalahan, Omega hanya berdiri sebagai seorang pengamat. Namun kelebihan Omega adalah dia bisa menyelesaikan permasalahan yang tidak dapat diatasi oleh Alfa dan Beta dengan gayanya sendiri.

Implementasi pada Karakter Santri

Nah, bagaimana dengan karakter santri? Sama seperti halnya penggolongan kepribadian manusia kedalaam tipe Alfa, Beta, dan Omega, santri juga dapat digolongkan ke dalam ketiga tipe tersebut. Setiap santri juga memiliki karakter yang unik dan berbeda satu sama lain yang dipengaruhi oleh faktor genetik. Yang membedakan karakter santri dari kebanyakan orang adalah bahwa santri mencoba untuk menjadi pribadi yang lebih baik dengan memilih lingkungan yang dapat memperbaiki diri terlepas seperti apa faktor genetik yang diwariskan oleh orang tua.

Baca Juga: Menyorot Perkembangan RUU Pesantren dan Pendidikan Keagamaan

Dalam kehidupan pesantren, santri Alfa menempati posisi sebagai pemimpin pondok. Lurah Pondok misalnya. Seorang Lurah Pondok diharuskan memiliki karakter kepemimpinan yang  dominan di banyak aspek. Hal inilah yang menyebabkan posisi Lurah Pondok banyak diisi oleh karakter Alfa.

Sedangkan Beta, kebanyakan menempati posisi sebagai anggota kepengurusan pondok pesantren. Seorang Beta lebih nyaman menjadi sosok pendamping Alfa. Mereka jarang memiliki keinginan untuk menjadi pemimpin, sehingga menjadi anggota kepengurusan pondok pesantrenlah pilihan terbaik bagi mereka.

Berbeda dengan Alfa dan Beta yang tercermin sebagai Lurah dan Pengurus, Omega adalah sebagian besar santri yang tidak terlibat dalam kepengurusan pondok pesantren. Omega adalah orang yang  tidak cocok bekerja secara tim, ia lebih suka bekerja sendiri, dan bahkan tidak suka menjadi pusat perhatian.

Semua Pribadi Terlahir Istimewa

Setiap tipe kepribadian, entah Alfa, Beta, maupun Omega memiliki kelebihan maupun kekurangan masing-masing. Setiap individu diciptakan secara adil dengan ciri khas yang mempunyai keistimewaan masing-masing. Tidak ada manusia yang diciptakan sempurna dengan semua kelebihan, begitu pula tidak ada manusia yang hanya diciptakan dengan keburukan.

Yang membedakan antara setiap individu adalah bagaimana individu tersebut menghadapi setiap kekurangan dan kemampuan untuk mengembangkannya menjadi hal-hal yang positif. Begitupun dengan cara menggunakan kelebihan yang dimiliki, apakah kelebihan itu digunakan untuk kebaikan atau sebaliknya.

Baca Juga: Emansipasi, Feminisme dan Islam

Menjadi santri adalah langkah awal untuk menjadi pribadi yang lebih baik terlepas dari apakah kita adalah Si Alfa sosok dengan kepercayaan diri yang tinggi, Si Beta seorang yang berperan di balik layar, atau Si Omega yang tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Langkah awal menjadi santri bisa menjadi batu loncatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Lalu bagaimana dengan kita? Sudahkah kita mengenali siapa diri kita? Termasuk santri Alfa? Beta? atau Omega? Mari mengenali diri sendiri sekarang!

“Kebanyakan manusia, paham betul akan kekurangan orang lain. Namun sebaliknya, Ia tak tahu bahkan abai pada keadaan dirinya sendiri.”

KH. Ahmad Sahal Mahfudh.

Penulis : Rindia Meirisa Aris T.

Editor   : Zahro’ul Aini

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here