3 Macam Golongan Umat Nabi Muhammad SAW

0
320
views
Ilustrasi Oleh: Moh. Zakaria

Ponpesgasek.com- Nabi Muhammad SAW senantiasa mendoakan dan menyayangi umatnya agar kelak bisa berkumpul bersama di surga. Sebagai umat Nabi Muhammad SAW tentu kita juga mengharapkan syafa’atnya pada hari kiamat nanti. Namun, semua itu tergantung pada amal perbuatan masing-masing. Apakah ia mau melakukan perbuatan yang baik dan meninggalkan yang buruk ataukah malah sebaliknya. Dalam hal ini, Allah SWT mengkategorikan umat Nabi Muhammad SAW menjadi 3 golongan. Firman Allah dalam surah Fathir ayat 32:

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِير

Artinya: Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar (QS. Fathir: 32).

Maksud dari “al-kitab” dalam ayat tersebut adalah Al-Qur’an itu selalu diwariskan kepada orang-orang pilihan diantara hamba-hamba Allah. Diantara mereka (para hamba-hamba) ada yang suka mendholimi dirinya sendiri, dan di antara mereka terdapat hamba yang tingkatannya muqtashid, yaitu antara kebaikan dan kejelekannya seimbang.

Selanjutnya yang terakhir adalah para hamba Allah yang amal kebaikannya lebih dominan daripada kemaksiatannya. Namun pada akhirnya semua ketentuan ini terjadi dengan izin Allah SWT. Sebagai pungkasnya bagian ketiga inilah yang menjadi sebuah anugerah yang paling besar.

Pelajaran yang bisa diambil dari ayat diatas adalah bahwasanya umat Nabi Muhammad bermacam-macam pembawaan sifat dan perilakunya jika ditilik berdasarkan tiga kategori diatas,  bukan “ummatan wahidah” saja melainkan umat yang majemuk. Berikut ini adalah uraianya :

1. Umat Yang Mendholimi Diri Sendiri (ظالم لنفسه)

Seseorang yang senantiasa menganiaya, atau mendholimi dirinya sendiri. Golongan ini bisa diartikan bahwa dia telah mengotori dirinya sendiri. Mereka cenderung menyiksa diri dengan melakukan segala perbuatan dosa.

Indikasinya yaitu saat dalam dirinya telah terdapat rasa hidup yang bergairah dengan memikirkan bagaimana menambah dosa, bagaimana hidup enak, dan selalu menuruti hawa nafsunya. Akhirnya, kehidupan mereka hanya disibukkan dengan memperbanyak kemaksiatan.

Mereka terus memperbanyak dosa dan kesalahan, meskipun identitasnya adalah sebagai orang Islam.

2. Umat Yang Berada Dalam Pertengahan (المقتصد)

Golongan yang kedua merupakan gambaran dari umat Nabi Muhammad yang antara ketaatan dan kemaksiatan seimbang, kebaikan dan kejelekannya juga seimbang. Artinya, golongan ini kadang kala ketakwaan berada diatas dan terkadang kualitas ketakwaan sedang menipis. Sehingga menjadikan niat untuk bermaksiat semakin tinggi.

Andai golongan ini menjadi seorang pemimpin maka mereka akan cenderung tidak bisa diberikan amanah dan tidak bisa pula menjaga amanah. Ketika dia melakukan suatu kebaikan, maka kebaikan itu hanya akan dianggap sebagai kepura-puraan, kedok saja, atau tutup untuk mencari keuntungan yang lebih besar dari orang lain.

3. Umat yang lebih Mendahulukan Amal Kebaikan (سابق بالخيرات)

Yakni golongan yang nilai-nilai kebaikannya senantiasa lebih besar dan dominan daripada kejelekannya. Golongan yang termasuk ideal yang selalu diharapkan dan didambakan oleh umat Islam. Ciri dari golongan ini terletak pada ketaatan yang lebih dominan dibandingkan kemaksiatannya, dan lebih banyak kebaikanya berbanding kejelekannya.

Golongan umat ini pada dasarnya merupakan tingkatan yang didambakan oleh umat muslim secara keseluruhan. Namun pada praktiknya untuk menuju tingkatan ini memerlukan penempaan diri yang terus menerus.

Dengan cara melalui tahapan demi tahapan kehidupan untuk mematangkan diri, dengan harapan semakin timbul ‘ghiroh untuk terus konsisten memperbaiki dan melakukan evaluasi.

Pada akhirnya, kita sebagai umat Nabi Muhammad harus senantiasa melakukan hal-hal yang positif, berlomba-lomba dalam kebaikan, dan meningkatkan ketakwaan selama masih hidup di dunia. Hanya Allah yang Maha Mengetahui bagaimana nasib kita kelak. Namun kita tetap bisa mengukur diri sendiri, seberapa banyak perbuatan baik dan jelek yang sudah dilakukan selama hidup.

Semoga Allah memasukkan kita ke dalam orang-orang yang yang senantiasa memprioritaskan kebaikan. Aaamiin. 

Penulis: Maulydia Alfi
Editor: Teguh Hidayanto

*Disarikan dari khutbah Jum’at oleh Kyai A. Bisri Mustofa di masjid Nur Ahmad, Gasek, Jum’at, 21 Februari 2019.

Simak juga : Khutbah Jum’at oleh Kyai A. Bisri Mustofa 21 Februari 2019

 

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here