Emansipasi, Feminisme, dan Islam

0
308
views
Emansipasi, Feminisme, dan Islam
Ilustrasi Oleh : Moh. Zakaria

Ponpesgasek.com- Selamat datang di bulan April, bulannya emansipasi wanita Indonesia. Tidak jauh berbeda dengan awal Maret kemarin, ketika banyak orang ramai merayakan Hari Perempuan Internasional seolah-olah pada hari itu semuanya bertopik perempuan. Padahal ada juga hari laki-laki internasional, namun jarang sekali diperingati se-booming hari perempuan. Berikut adalah sedikit ulasan saya terkait perempuan, emansipasi, dan bagaimana islam menanggapi hal tersebut.

Feminisme dan Hari Perempuan

Berbagai macam cara dilakukan masyarakat dalam memperingati Hari Perempuan Internasional  8 Maret kemarin. Beberapa diantaranya dalam bentuk tulisan di surat kabar, majalah, dan media sosial. Tulisan-tulisan tersebut bertemakan kemuliaan perempuan, perjuangan perempuan, penjajahan perempuan hingga ajakan/kampanye mengenai penyetaraan hak antara laki-laki dan perempuan.

Konsep penyetaraan hak perempuan dan laki-laki yang lebih dikenal dengan istilah feminisme itu ramai diperdebatkan. Sebagian masyarakat ada yang setuju dan sebagian yang lain tidak. Kalangan masyarakat yang mendukung konsep feminisme biasa menamai diri mereka sebagai kaum Feminis. Perbedaan pendapat tersebut  menjadi salah satu faktor yang menyebabkan  feminisme menjadi  isu yang tak  habis diperbincangkan. Feminisme  sebenarnya merupakan reaksi dari ragam ketidakadilan, adanya penindasan, serta kasus-kasus perempuan korban kapitalisme yang menyebabkan perempuan berjuang untuk disamakan haknya, serta menuntut kebebasan mengontrol dan menentukan jalannya sendiri.

Feminisme marak di Barat pada abad ke-19 dan 20 yang kemudian  menjadi model bagi pembebasan perempuan di banyak negara berpenduduk muslim. Bermula dari para intelektual Mesir yang belajar ke Eropa, wacana Feminisme kemudian diadopsi dan dikembangkan oleh  aktivis perempuan yang  lambat laun menjadi gelombang akademik di universitas-universitas.

Terbitnya Emansipasi di Indonesia

Di masa lalu, perjuangan Feminis di Indonesia secara garis besar berkembang melalui  organisasi-organisasi wanita. Semakin gencar setelah  terbit buku kompilasi surat-surat Kartini dengan teman-temannya di Belanda yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Buku inilah yang memberi inspirasi bagi kaum wanita di Indonesia untuk memperjuangkan harkat dan martabatnya agar sejajar dengan laki-laki. Sejarah Feminisme Indonesia mencatat, tulisan Kartini menjadi dasar bagi perjuangan perempuan Indonesia hingga emansipasi wanita menjadi familiar di negeri ini.

Emansipasi merupakan  usaha Kartini dalam memperjuangkan hak perempuan untuk mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya. Melalui emansipasi, Kartini berharap perempuan Indonesia dapat berkembang dan maju dari waktu ke waktu tanpa menghilangkan jati dirinya.

Yang perlu kita ketahui bahwa sebenarnya Feminisme dan emansipasi itu berbeda. Jika emansipasi diartikan sebagai pergerakan wanita yang tanpa menghilangkan kodratnya, Feminisme lebih menuju pada persamaan mutlak hak antara laki-laki dan perempuan di segala bidang.

Akhir-akhir ini ramai diperbincangakan tentang “Indonesia tanpa feminis”. Fenomena ini muncul dengan pendapat bahwa feminisme bukan ajaran nabi dan hanya tumbuh di negara yang memperlakukan perempuan dengan tidak adil. Mereka berpendapat bahwa di Indonesia yang mayoritas masyarakatnya muslim tidak diperlukan feminisme. Faktanya meskipun emansipasi dan fenimisme itu merupakan dua hal yang berbeda tapi menurut saya mereka mempunyai tujuan yang sama yaitu menolak adanya ketidak adilan pada perempuan. Dalam sejarah Indonesia, tercatat banyak sekali ketidak adilan yang dialami wanita pribumi ketika era kolonialisme. Ini artinya, kemudahan-kemudahan yang kita dapatkan sekarang tidak lepas dari peran pejuang-pejuang wanita pada zaman dahulu.

Bagaimana dalam Islam?

Menurut sudut pandang Islam, jika Feminisme dan emansipasi wanita disama artikan tidaklah masalah, karena dalam Islam tidak pernah diajarkan untuk merendahkan martabat wanita. Bahkan, wanita sangat dimuliakan dan dihormati. Bukti betapa Islam menjunjung tinggi derajat wanita adalah kisah para ummul mkminin dan wanita-wanita yang berani bertaruh nyawa demi Islam.

Salah satu diantaranya adalah kisah Nusaibah bin Ka’ab, yang tergerak hatinya melindungi Rosulullah ketika Perang Uhud. Nusaibah saat itu sedang membawa air untuk anak dan suaminya yang juga ikut berperang, namun melihat pasukan muslim yang mulai melemah dan para sahabat tidak ada di sekitar Rosul, Nusaibah bangkit dan mengibas pedang dengan gagah melawan musuh di sekitar Rosulullah. Dari kisah ini, bahkan bukan melulu tentang wanita yang terjajah yang menjadi cikal bakal keberanian Nusaibah, namun lebih kepada kecintaannya pada Rosulullah dan tekad membela agama.

Islam memberikan hak kepada wanita untuk berkarya, berjuang dan berkiprah. Sementara itu para laki-laki ditugaskan untuk menjaga wanita dan berkewajiban berlaku lembut kepada wanita. Islam mengizinkan wanita mengambil peran di mana saja, tanpa harus kehilangan kemuliaan dan kehormatannya.

Menimbang Isu Feminsime dalam Islam

Sebenarnya, tidak tepat ketika membenturkan Feminisme dengan Islam. Jika istilah Feminisme digunakan dalam  Islam, yang ada bukanlah memberikan kebebasan, melainkan kemuliaan kepada wanita. Sedangkan Feminisme bangsa barat, alih-alih menjaga wanita sebagaimana dalam Islam, justru membebaskan wanita tanpa aturan. Alhasil, kasus kekerasan pada wanita justru bermunculan karena gerakan feminisme.

Terlepas dari pro dan kontra, Feminisme diakui  membawa dampak baik dan buruk bagi perempuan. Salah satu dampak baiknya adalah meningkatnya peluang pekerjaan bagi kaum perempuan, seiring dengan banyaknya perempuan yang masuk dalam sektor  industri dan politik. Sedangkan dampak buruk yang ditimbulkan adalah maraknya perceraian karena sebagian perempuan lebih menyukai hubungan bebas tanpa ikatan pernikahan. Saat menikah, kaum perempuan lebih mementingkan ego dan akibatnya angka perceraian meningkat.

Baca Juga: 5 Hukum Nikah Menurut Kitab Qurrotul ‘Uyun, Jomblo Wajib Baca!

Dari semua ini  perlu diketahui bahwa untuk memajukan dan mengangkat hak martabat wanita, Feminisme  bukan pilihan yang tepat. Maka dari itu, tak sepatutnya kita terjebak dalam isu yang sebenarnya dalam Islam sudah dikonsep sangat baik tentang kemuliaan wanita. Islam telah menetapkan kedudukan laki-laki dengan wanita secara adil dan sama dalam kapasitas sebagai hamba.

Islam juga menetapkan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan sesuai dengan karakter dan sifatnya. Hal ini  dalam rangka saling mengiringi bukan saling menyaingi. Kita punya Islam agama yang sempurna, dalam Islam terdapat konsep utuh tentang kemuliaan wanita. Kita  perlu lebih memahami konsep tersebut kemudian menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, kita sebagai muslimah tidak merasa terjajah oleh laki-laki melainkan lebih merasa dimuliakan dan dilindungi.

Selamat memperingati Hari Kartini untuk seluruh perempuan tangguh Indonesia. Tetap kobarkan semangat Kartini untuk terus berkarya dan menginspirasi.

Penulis: Fitrotul Izah

Editor: Zahro’ul Aini

Baca Juga: Menyorot Perkembangan RUU Pesantren dan Pendidikan Keagamaan

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here