Doa “keramat” KH. Marzuki Mustamar di Tahun Politik 2019

0
615
views
Doa Keramat KH. Marzuki Mustamar di Tahun Politik 2019
Ilustrasi Oleh : Teguh Hidayanto

Ponpesgasek.com- KH. Marzuki Mustamar adalah ulama NU yang kharismatik. Kekharismatikan Abah Yai (demikian kami para santri menyebut beliau) dapat dirasakan oleh siapapun yang berinteraksi langsung dengan beliau. Dari sekian banyak yang berkesempatan berinteraksi secara langsung dengan beliau adalah santri beliau di Pondok Pesantren Sabilurrosyad, Gasek, Kota Malang.

Kekharismatikan Abah Yai dapat disaksikan dari setiap pengaosan (pengajian), khutbah, nasihat, cara bercanda, hingga doa-doa yang dipanjatkan setiap selepas shalat dan setelah pengaosan berakhir. Salah satu doa yang menampakkan kekharismatikan Abah Yai adalah do’a berikut:

اَللَّهُمَّ اَصلِح مَن فِي صَلاَحِهِ صَلاَحُ الإِسلاَمِ وَالمُسلِمِينَ

اَللَّهُمَّ اَهلِك مَن فِي هَلاَكِهِ  صَلاَحُ الإِسلاَمِ وَالمُسلِمِينَ

اَللَّهُمَّ اَصلِح مَن فِي صَلاَحِهِ صَلاَحُ أَهلِ السُّنَّةِ وَالجَمَاعَةِ

اَللَّهُمَّ اَهلِك مَن فِي هَلاَكِهِ صَلاَحُ أَهلِ السُّنَّةِ وَالجَمَاعَةِ

اَللَّهُمَّ اَصلِح مَن فِي صَلاَحِهِ صَلاَحُ نَهضَةِ العُلَمَاءِ

اَللَّهُمَّ اَهلِك مَن فِي هَلاَكِهِ صَلاَحُ نَهضَةِ العُلَمَاءِ

اَللَّهُمَّ اَصلِح مَن فِي صَلاَحِهِ صَلاَحُ دَولَتِنَا إِندُونِيسِيَا

اَللَّهُمَّ اَهلِك مَن فِي هَلاَكِهِ صَلاَحُ  دَولَتِنَا إِندُونِيسِيَا

وَاهدِنَا سُبُلَ السَّلاَمِ

Arti Doa tersebut dalam Bahasa Indonesia

Arti doa tersebut dalam Bahasa Indonesia kurang lebih sebagai berikut:

Ya Allah, berilah yang lebih baik pada orang yang dalam kebaikannya baik bagi Islam dan umat Muslim.

Ya Allah, hancurkanlah orang yang dalam kehancurannya baik bagi Islam dan Umat Muslim.

Ya Allah, berilah yang lebih baik pada orang yang dalam kebaikannya baik bagi Ahlussunnah Wal Jama’ah.

Ya Allah, hancurkanlah orang yang dalam kehancurannya baik bagi Ahlussunnah Wal Jama’ah.

Ya Allah, berilah yang lebih baik pada orang yang dalam kebaikannya baik bagi Nahdlatul Ulama.

Ya Allah, hancurkanlah orang yang dalam kehancurannya baik bagi Nahdlatul Ulama.

Ya Allah, berilah yang lebih baik pada orang yang dalam kebaikannya baik bagi negeri kami NKRI.

Ya Allah, hancurkanlah orang yang dalam kehancurannya baik bagi negeri kami NKRI.

Dan tunjukkanlah kami jalan keselamatan.

 

Konteks Yang Melatarbelakangi

Dalam Linguistik, suatu ucapan seseorang tidak muncul begitu saja tanpa konteks yang melatarbelakanginya. Demikian pula doa Abah Yai. Doa Abah Yai tidaklah dipanjatkan begitu saja tanpa ada sebab musabab atau konteks yang melatarbelakangi.

Memang, sudah bukan lagi menjadi rahasia bahwa sejak zaman Rasulullah SAW telah diajarkan  doa-doa yang dipanjatkan khusus dalam waktu-waktu atau peristiwa tertentu. Misalnya Sayyidina Umar Ibn al-Khattab ketika ia berdoa minta hujan. Doa Sayyidina Umar itu dilatarbelakangi oleh kondisi paceklik (kemarau panjang) yang melanda saat itu.

Baca Juga: Sambutan KH. Marzuqi Mustamar dalam Istighotsah Kubro 2018: Yang Ditunggu-tunggu Sejuta Nahdliyyin.

Sebagaimana doa Sayyidina Umar, doa Abah Yai juga memiliki latar belakang tertentu. Jika ditarik lebih jauh ke belakang, tampak banyak peristiwa yang bisa jadi melatarbelakangi doa Abah Yai itu. Misalnya, peristiwa dalam upaya-upaya melemahkan NU oleh sekelompok orang yang membenci NU. Entah karena keteguhan NU dalam memegangi manhaj Aswaja atau karena fikrah NU tentang membela negara, atau hanya karena sikap politik warga Nahdliyyin saat ini. Yang jelas, banyak alasan bagi pihak-pihak di luar NU untuk melemahkan NU karena tidak sepemahaman dalam satu dan banyak hal. Maka, tidak berlebihan kiranya peristiwa-peristiwa itu disebut sebagai sebab  musabab Abah Yai berdoa dengan doa di atas.

Muatan Doa Lebih Luas Daripada Kontestasi Politik

Doa “keramat” yang akhir-akhir ini dipanjatkan oleh Abah Yai itu bertepatan dengan tahun politik. Namun, jika dilihat dari muatan doa Abah Yai itu, cakupannya lebih luas dari sekadar kontestasi politik akhir-akhir ini. Doa itu mencakup masa depan Islam dan umat Islam. Abah Yai juga mendoakan kebaikan bagi Ahlussunnah Wal Jama’ah dan NU. Masa depan keutuhan NKRI juga tak luput dari doa Abah Yai. Doa itu menunjukkan kepedulian Abah Yai pada umat, kepedulian pada Ahlussunnah Wal Jama’ah dan kepedulian terhadap NU serta kepedulian akan keutuhan NKRI.

Barangkali bukan hanya santri beliau saja yang merasakan kekharismatikan beliau dalam doa-doa sepanjang tahun politik ini. Siapapun yang memahami bahasa Arab, akan bisa merasakan kekharismatikan seseorang yang berdoa dengan doa-doa bahasa Arab semacam ini. Karena itu, tak berlebihan kiranya kita katakan bahwa Abah Yai adalah sosok yang kharismatik.

Baja Juga: Maukah Saling Mendoakan?

Setiap kali Abah Yai mendoakan umat Islam, Ahlussunnah wal jama’ah, NU hingga NKRI itu, bulu kuduk kami langsung merinding. Merinding karena muatan doa Abah Yai dalam membela Islam dan umat Islam, membela Ahlussunnah Wal Jama’ah, membela NU hingga NKRI.

Hanya dengan mendengarkan doa Abah Yai itu, kita bisa mengetahui bahwa doa Abah Yai lebih luas dari sekadar konteks politik saat ini. Karena itu, doa Abah Yai bukanlah doa yang bersifat politis seperti kebanyakan tokoh. Doa Abah Yai adalah doa yang tulus untuk Islam, umat Islam, Ahlussunnah Wal Jama’ah, NU hingga keutuhan NKRI.

Peristiwa Yang Muncul Belakangan

Lalu, belum lama sejak Abah Yai mulai sering berdoa dengan doa tersebut, banyak terungkap tanda-tanda kehancuran beberapa tokoh-tokoh yang terang-terangan memusuhi Islam, memusuhi Ahlussunnah Wal Jama’ah, memusuhi NU, dan orang-orang yang mengancam keutuhan NKRI. Satu persatu mulai muncul tanda-tanda kehancuran tokoh-tokoh itu. Uniknya, tanda-tanda kehancuran itu justru muncul ketika mereka mengomentari dan menjelek-jelekkan NU.

Misalnya, beberapa waktu lalu ketika PBNU menyelenggarakan Musyawarah Nasional (MUNAS) Alim Ulama NU yang salah satu hasilnya mengangkat permasalah istilah kafir bagi non-muslim. Sejak berita hasil MUNAS itu mencuat ke publik, mulai muncul hujatan dan hinaan kepada NU. Hujatan dan hinaan itu menunjukkan sikap terang-terangan dalam memusuhi NU.

Ada yang ditampakkan betapa minimnya ilmu-ilmu tokoh-tokoh itu. Ada yang salah men-tashrif kata kafir. Ada yang tidak bisa membedakan jamak dan mufrod dari kata kafir. Ada yang terjerat kasus narkoba. Ada yang tertangkap kasus korupsi. Ada yang termakan omongannya sendiri ketika mengomentari do’a Syaikhuna Mbah Yai Maimun Zubair yang sempat viral karena salah sebut nama capres dalam do’anya. Semua itu muncul tidak lama setelah Abah Yai mulai sering memanjatkan doa yang berisi kehancuran bagi orang-orang yang memusuhi Islam, umat Islam, Ahlussunnah Wal Jama’ah, NU dan NKRI.

Dalam benak kami para santri, peristiwa yang saling berdekatan itu menunjukkan kekeramatan doa Abah Yai. Entah karena memang mereka yang memusuhi NU kualat kepada NU atau karena doa keramat Abah Yai. Yang jelas, ada semacam benang merah dari peristiwa-peristiwa yang saling berdekatan itu dengan doa Abah Yai.

Terakhir, memasuki masa perhitungan suara dalam pilpres kali ini, kiranya harapan umat Islam di Indonesia sama. Yakni, siapapun yang menjadi Presiden Indonesia 2019 – 2024, dapat menjadi kebaikan bagi Islam, umat Islam, Ahlussunnah Wal Jama’ah, Nahdlatul Ulama, dan NKRI secara keseluruhan. Harapan itu tercermin dari doa “keramat” KH. Marzuki Mustamar.

Wallahu A’lam Bisshowab.

Penulis: M. Chasbi Asshidiq

Baca juga: Biografi KH. Marzuki Mustamar.

Ikuti pengajian KH. Marzuki Mustamar di Channel Youtube @PonpesgasekTV. Klik di sini.

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here