Larangan Berpecah Belah dan Berselisih dalam Islam

0
186
views
Larangan Berbecah Belah Dan Berselisih dalam Islam
Ilustrasi Oleh : Teguh Hidayanto

Ponpesgasek.com- Islam adalah agama yang damai. Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin, agama yang mengusung visi sebagai rahmat untuk alam. Pada zaman Rasulullah SAW, yang memimpin, mengenalkan dan mengajarkan Islam kepada masyarakat adalah beliau sendiri dengan dibantu para sahabat. Perjuangan beliau sangat luar biasa. Sepeninggal Rasulullah SAW, perjuangan itu dilanjutkan oleh para sahabat dan ulama.

Seiring perkembangan zaman, Islam yang awal mulanya tidak dikenal itu menyebar luas dengan cepat hingga menjadi salah satu agama dengan penganut terbanyak di dunia. Namun sayangnya, umat Islam sebagai umat terbesar itu dibayang-bayangi fitnah dari kelompok yang gemar berselisish menyebabkan terpecah belah. Padahal Allah SWT melarang sikap berpecah belah hingga saling berselisih sesama umat Islam. Firman Allah dalam surah Ali Imran ayat 105:

وَلَا تَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ تَفَرَّقُواْ وَٱخۡتَلَفُواْ مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَهُمُ ٱلۡبَيِّنَٰتُۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ لَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٞ

Artinya: Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat (QS. Ali Imran: 105).

Larangan Bercerai-berai dan Berselisih Seperti Kaum Yahudi

Berdasarkan ayat diatas terdapat larangan menyerupai orang-orang yang bercerai berai setelah mendapatkan petunjuk. Yang dimaksud orang-orang bercerai-berai dan berseslisih ini adalah orang Yahudi. Orang Yahudi disebut sebagai kaum yang suka berselisih (membantah) Nabi Musa dan berseteru antara satu kelompok dengan kelompok lain. Sikap saling berselisih itu bukanlah perselisihan karena tiada petunjuk dari Allah, melainkan telah sampai kepada mereka petunjuk Allah SWT melalui Nabi Musa AS. Namun, mereka justru membantah apa yang disampaikan oleh Nabi Musa AS dan menyebabkan perpecahan. Nabi Muhammad SAW mengabarkan fenomena ini dalam sabdanya:

اِفتَرَقَتِ اليَهُودُ عَلَى إِحدَى وَسَبعِينَ فِرقَةً ، وَافتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى  ثِنتَينِ وَسَبعِينَ فِرقَةً ، وَسَتفتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبعِينَ فِرقَةً، كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا فِرقَةً وَاحِدَةً قِيلَ: وَمَا هِيَ فِرقَةُ النَّاجِيَة ؟ قَالَ: أَهلُ السُّنَّةِ وَالجَمَاعَة قِيلَ: وَمَا أَهلُ السُّنَّةِ وَالجَمَاعَة؟ قَالَ: مَا أَنَا عَليَهِ اليَومَ وَ أَصحَابِي

Artinya : Orang Yahudi terpecah menjadi 71 golongan, orang Nasrani terpecah menjadi 72 golongan, dan umatku (kaum muslimin) akan terpecah menjadi 73 golongan. Seluruhnya masuk neraka kecuali satu golongan (yang selamat masuk surga). Sahabat bertanya: Siapakah yang selamat itu? Rasulullah SAW menjawab: Ahlusunnah wal Jama’ah. Kemudian ditanyakan lagi, apakah ahlusssunah wal jama’ah itu? Beliau menjawab, golongan yang tetap berusaha sama denganku  dan sama denga para sahabatku hari ini.

Yang Selamat Hanya Ahlussunnah Wal Jama’ah

Dari hadist diatas, dijelaskan bahwa akan ada pada masanya nanti umat Islam terpecah menjadi 73 golongan. Dijelaskan pula ancaman bagi mereka yang suka berselisih dan berpecah belah itu akan mendapatkan siksa yang berat dari Allah. Bahkan, seluruh kelompok yang terpecah itu akan masuk neraka, kecuali satu golongan yang akan selamat dan masuk surga. Yakni, Ahlussunah Wal Jama’ah. Ahlussunnah wal jama’ah adalah golongan yang berusaha ikut dan tetap sama dengan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat, bukan hanya mengikuti salah satu saja.

Berselisih berarti menyalahi Nabi Muhammad SAW dan para sahabat. Misalnya, ketika ditunjukkan hasit-hadits shahih tentang dzikir berjama’ah, qunut shubuh, ziarah kubur, dan amalan lain yang dilakukan kelompok ahlussunnah wa jama’ah, ternyata justru tidak mau menerima dan memilih berselisih pendapat. Padahal, amalan-amalan itu berdasar pada Nabi Muhammad SAW dan para sahabat.

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk menghindari perpecahan dan perselisihan sesama muslim. Diantaranya:

Pertama, Berpegang Teguh pada al-Qur’an dan Hadist melalui Pemahaman Golongan Mayoritas (Sawaaidul A’dzam)

Dalam memahami al-Qur’an dan Hadist, kita sebagai orang awam, sudah semestinya ikut para ulama yang Ahlussunnah wal jama’ah. Para ulama ahlussunnah wal jama’ah sudah pasti lebih faham tentang al-Qur’an dan Hadits.  Tingkat keilmuan ulama sudah tidak diragukan lagi kualitasnya. Ini karena para ulama ahlussunnah wal jama’ah menjaga sanad keilmuan agar tetap sama dengan Rasulullah SAW dan para sahabat. Ulama ahlussunnah wal jama’ah mewarisi ilmu Rasulullah SAW melalui sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, hingga para guru, masyayikh, kiai-kiai masa kini.

Jika terjadi perbedaan pendapat, Rasulullah SAW memerintahkan untuk mengikuti golongan mayoritas. Ahlussunnah wal jama’ah terbukti sejak dari dulu hingga sekarang menjadi satu-satunya golongan mayoritas umat Islam di dunia.

Kedua, Berlepas Tangan dari Paham, Keyakinan, dan Kepercayaan yang Bertentangan dengan Islam

Misalnya meninggalkan kepercayaan meminta sesuatu kepada Nyi Roro Kidul, meminta sesuatu di bawah pohon dan takhayyul sejenisnya. Kalau mau berziarah ke makam, jangan meminta kepada makamn. Namun, memintalah kepada Allah. Selain itu,  waspada terhadap penyimpangan pemalsuan kitab-kitab suci.

Ketiga, Jauhi Berbagai Pendapat atau Berita Yang Simpang Siur

Sekarang ini, banyak sekali berita berita hoax yang tersebar pada masyarakat yang belum tentu jelas kebenarannya. Bahaya sekali untuk kita peroleh, apalagi kalau menyinggung agama. Maka dari itu, mari kita ikut para kyai dan ulama yang sebenarnya, bukan abal abal seperti ustadz di media sosial. Seperti kata kata Gusdur: ikut saja kyai kampung.

Keempat, Jauhi Keinginan Hawa Nafsu Yang Bermacam-macam

Memang di era sekarang jika kita tidak memiliki dasar dan prinsip yang kuat, maka kita akan mudah tergiring oleh ombak dan buruknya, akan ditenggelamkan oleh ombak tersebut. Kita harus memiliki pijakan aqidah yang kuat. Oleh karena itu mari bersama-sama ikut para ulama, kyai, habaib yang sudah terjamin ilmu dan kealimannya.

Dengan beberapa cara tersebut, insyaallah kita akan selamat, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Penulis: Hikma
Editor: M. Chasbi Asshidiq

*Disarikan dari pengajian KH. Marzuki Mustamar dalam Kajian Jum’at Pagi di Masjid Nur Ahmad, Pondok Pesantren Sabilurrosyad, Gasek, Kota Malang pada 18 Januari 2019.

Klik tautan berikut  untuk menyimak pengajian KH. Marzuki Mustamar. Klik di sini.

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here