5 Hukum Nikah Menurut Kitab Qurrotul ‘Uyun, Jomblo Wajib Baca!

0
644
views
5 hukum nikah
Illustrasi oleh: Teguh Hidayanto

Ponpesgasek.com- Sebagian besar pemuda muslim yang baru mendengar fadhilah (keutamaan) pernikahan menjadi semakin tertarik untuk menikah. Selain memang karena fitrah manusia, juga barangkali karena khawatir kiamat datang sebelum ia menikah. Demikian embel-embel gurauan yang sering kita dengar: keburu kiamat, lho. Belum lagi ketika mendapatkan undangan pernikahan  teman, sahabat atau keluarga. Pertanyaan horror yang hampir tidak pernah lupa dilontarkan seperti: kapan nyusul? Mana gandengannya, kok, kondangan sendiri? Pertanyaan semacam ini menjadi beban mental tersendiri bagi seseorang yang belum menikah atau jomblo. Siap Nikah? Ayo disimak sampai tuntas, ya.

Beberapa tahun terakhir ini, nikah muda santer diwacanakan oleh dai-dai muda anyaran. Coba saja searching di google atau media sosial, misalnya gunakan hashtag (#) nikah muda. Anda pasti akan menemukan hingga ratusan ribu postingan “dakwah” nikah muda. Biasanya seruan nikah muda juga diawali dengan seruan “hijrah” menjadi pribadi yang lebih baik. Mungkin sudah terlalu lelah menjalin hubungan tak resmi semacam pacaran hingga patah hati dan sebagainya. Akhirnya, pelarian sekaligus solusi terbaik menurutnya adalah nikah muda. Namun, apakah Anda tahu hukum menikah dalam Islam? Ternyata, hukum menikah dalam Islam itu tidak hanya wajib atau sunnah, lho. Bahkan bisa menjadi haram. Berikut 5 hukum nikah menurut kitab Qurrotul ‘Uyun karya Syaikh Muhammad at-Tahami bin Madaniy yang harus Anda ketahui sebelum menikah.

Wajib

Hukum menikah yang pertama adalah wajib. Hukum wajib ini berlaku bagi seorang laki-laki yang dikhawatirkan melakukan perbuatan zina. Seorang lelaki yang khawatir dirinya berbuat zina, maka baginya berlaku hukum wajib menikah. Hukum wajib menikah ini berlaku dalam keadaan apapun sekiranya memungkinkan baginya untuk menikah. Dengan demikian, illat (sebab) diwajibkannya menikah bagi lelaki ini ialah kekhawatiran melakukan perbuatan zina jika ia tidak segera menikah.

Selain itu, hukum wajib menikah tidak hanya berlaku bagi lelaki saja. Seorang perempuan juga bisa terkena hukum wajib menikah. Adapun illat-nya (sebabnya) berbeda dengan hukum wajib menikah bagi lelaki. Illat-nya (sebabnya), apabila ia tidak memiliki harta atau tidak ada saudara lelaki / keluarga yang menafkahi/menanggung keperluan hidup sehari-harinya. Jika tidak ada yang menafkahi, maka berlakulah hukum wajib menikah bagi seorang perempuan.

Haram

Hukum menikah juga bisa menjadi haram, lho. Hukum haram menikah ini berlaku apabila dengan menikah lantas seseorang menjadi sibuk hingga meninggalkan amal wajib seperti sholat dan sebagainya. Jika karena menikah lantas seseorang meninggalkan kewajiban, maka baginya berlaku hukum haram menikah.

Selain itu, hukum haram menikah juga berlaku apabila karena menikah lalu ia terpaksa menafkahi anak-istrinya  dengan rezeki yang haram. Maksud rezeki yang haram ialah nafkah yang ia berikan berasal dari pekerjaan atau sesuatu yang haram. Menikah dalam kedua konteks ini, yakni tidak bisa melaksanakan amal wajib dan nafkah yang haram, maka menurut kesepakatan ulama, haram bagi seseorang untuk menikah.

Sunnah

Hukum selanjutnya ialah sunnah. Hukum sunnah ini berlaku bagi seseorang yang memiliki keinginan menikah, sehat, dan menginginkan keturunan. Meskipun karena menikah itu ia tidak bisa melakukan amalan sunnah seperti ­wiridan atau dzikir dan sebagainya. Maksudnya, karena sibuk melaksanakan kewajiban berupa menafkahi anak-istri, akhirnya ia tidak bisa melaksanakan amalan sunnah. Mungkin setelah menikah, amalan sunahnya tidak sesering ketika masih jomblo (sendiri). Maka, dalam konteks semacam ini, berlaku hukum sunnah menikah.

Makruh

Hukum selanjutnya ialah makruh. Hukum makruh ini berlaku apabila karena menikah itu seseorang meninggalkan amalan sunnah, sedangkan ia tidak memiliki keinginan menikah, serta tidak pula mengharap keturunan. Menikah dalam konteks semacam ini hukumnya makruh.

Mubah

Hukum yang terakhir adalah mubah / jaiz. Jika tidak ada segala sesuatu (kondisi atau sebab-sebab yang telah disebutkan) yang berimplikasi pada hukum-hukum sebelumnya, yakni wajib, haram, sunnah dan makruh di atas, maka menikah menjadi mubah. Maksudnya, baik ia menikah ataupun tidak menikah, hukumnya sama saja.

Nah, lho. Hukum menikah ternyata tidak hanya sunnah. Bisa wajib, haram, makruh, dan mubah tergantung kondisi, situasi, dan kemungkinan yang bisa terjadi. Jadi, sudahkah Anda menentukan keputusan untuk menikah? (Hasbi)

*Disarikan dari pengaosan (pengajian) kitab Qurrotul ‘Uyun karya Syaikh Muhammad at-Tahami bin Madaniy oleh KH. Marzuki Mustamar di pondok pesantren Sabilurrosyad, Gasek, Kota Malang.

Klik tautan berikut untuk menonton video uraian KH. Marzuki Mustamar tentang 5 hukum nikah. Klik disini.
Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here