Sambutan Liwetan Akbar: “Amaliah NU Teruji Secara Historis Berasal Dari Rasulullah”

0
337
views
liwetan akbar
KH. Marzuqi Mustamar beserta para jajaran tamu undangan. (Ilustrasi/desain foto by: Arina Rosyada)

Ponpesgasek.com- RMI (Rabithoh Ma’ahidil Islamiyah) atau Asosiasi Pesantren NU Jawa Timur menyelenggarakan Liwetan Akbar di Ponpes Sabilurrosyad, Gasek, Kota Malang pada hari selasa (29/1). Acara yang digagas untuk merekatkan silaturahmi lintas generasi NU itu menghadirkan tokoh-tokoh NU baik dari tingkat pusat maupun daerah. Diantaranya, KH. Abdul Ghoffar Rozin Sahal (Ketua Pimpinan Pusat RMI NU), KH. Marzuki Mustamar (Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur), dan KH. Muhammad Zaki Hadzik (Ketua Pengurus Wilayah RMI NU Jawa Timur). Ketiga Kiai kharismatik tersebut menyampaikan sambutan khas ke-NU-an yang menunjukkan bahwa amaliah NU secara historis berasal dari Rasulullah SAW.

Mengawali sambutannya, Gus Zaki bercerita tiga minggu setelah Gus Dur wafat, Tebu Ireng kedatangan tiga pendeta yang ketiganya orang Cina. Pendeta tersebut berkata “jikalau Gus Dur tidak diterima di surga Islam, maka Gus Dur boleh berada di surga kami”. Ungkapan pendeta tersebut menunjukkan kecintaan mereka terhadap Gus Dur sampai-sampai mereka rela berbagi surga. Hari ini justru banyak orang islam yang seolah-olah menguasai surga dan mengkapling surga untuk kelompoknya sendiri. Inilah kehebatan  Gus Dur dan dunia kepesantrenan, mampu memberikan nilai-nilai moderat dalam menyikapi fenomena keragaman di masyarakat.

KH. Marzuki Mustamar melalui sambutannya, juga membahas ceramah Kiai Said Aqil Siradj dalam Harlah Muslimat NU ke-73 di Gelora Bung Karno, yang menyebabkan Kiai Said mendapat banyak perhatian dari berbagai media.

Terdapat tokoh yang ragu-ragu kalau orang itu tidak NU, jangan-jangan mengimami tidak sah, jangan-jangan khutbah juga tidak sah, supaya khutbah-khutbah sah, jumatan sah, maka sebaiknya imam-imam NU semua, supaya akad-akad nikah sah, dijamin sah, KUA-KUA kalau bisa NU semua, ujar beliau. Bagi pihak-pihak lain yang ragu-ragu mendengar hal tersebut, Kiai Marzuki mengingatkan agar tidak perlu marah-marah,  tidak perlu emosi, sama bangsanya, sama islamnya (nggak usah ngamuk, nggak usah emosi, podo bongsone, podo islame).

Selain itu, Kiai Marzuki menyebutkan beberapa realita yang sering terjadi, yaitu beberapa orang yang bukan lulusan pondok pesantren atau orang NU ketika mereka khutbah terkadang wasiat taqwanya hilang pada khutbah kedua. Kadang di khutbah pertama, hilang shalawatnya seringkali tidak pakai shalawat. Sedangkan jika seseorang menganut madzhab Syafi’i, shalawat pada khutbah pertama merupakan rukun khutbah. Adapun wasiat taqwa pada khutbah kedua juga merupakan salah satu rukun khutbah. Kemudian ditemui di beberapa masjid terdapat khutbah yang nampak seperti orasi politik hingga jauharul khutbah-nya (nilai-nilai inti khutbah) hilang” ujar beliau.

Selain itu,  beberapa orang juga tarkul basmalah (meninggalkan mengucap basmalah) ketika menjadi imam sholat. Hal itu diperbolehkan asal mengucapkan “nawaitu taqliidan lilhambali” (niat mengikuti Imam Hambali). Maksudya adalah meninggalkan lafadz basmalah ketika menjadi imam sholat, mengikuti madzhab Hambali. Apabila pada mulanya seorang imam tersebut bermadzhab Syafi’i maka wajib berganti niat ke madzhab Hambali dan mengumumkan kepada para jama’ah bahwa mulai saat itu pelaksanaan shalat menggunakan madzhab Hambali. Dengan begitu, maka keseluruhan ibadah seorang tersebut harus taqlid (mengikuti) kepada madzhab Hambali secara utuh.

Oleh karena itu, apabila ada ulama yang ragu terhadap khatib yang bukan berasal dari NU, mereka mengkhawatirkan kalau shalat jumatnya tidak sah. Kepada beberapa kelompok yang (mungkin) merasa kurang bisa menerima pernyataan tersebut hendaknya jangan mudah tersulut emosi. Nasihat yang senantiasa ditegaskan oleh Kiai Marzuki dalam menanggapi segala sesuatu harus bil ilmi (dengan ilmu).

KH. Marzuki juga menjelaskan bahwa idealnya semua ajaran Rasulullah dapat diterima asalkan shohih. Prinsip dari semua perintah adalah sami’na wa atha’na (kami mendengar dan kami mentaati). Apabila ada satu-dua perintah yang tidak bisa dilakukan oleh ulama NU, bukan berarti mengingkari perintah Allah, akan tetapi ghufraanaka rabbana wa ilaika al-mashiir (selalu meminta ampunan kepada Allah SWT, dan kepada-Nya lah semua akan kembali). Hal itu dilakukan atas dasar pertimbangan-pertimbangan yang matang.

Selanjutnya, menanggapi fenomena yang selalu digencarkan oleh beberapa kelompok tentang penerapa hukum syara’ di Indonesia. Mereka dinilai lebih mengutamakan sesuatu yang furu’ (ajaran Islam yang sangat penting namun tidak prinsip dan mendasar) daripada yang ushul (prinsip dasar ajaran Islam). Terkait hukum Islam yang belum bisa diterapkan di Indonesia, seandainya dipaksakan untuk tetap diterapkan (mungkin) hanya bisa diterapkan di beberapa wilayah mayoritas muslim, dan belum bisa diterapkan secara nasional di Indonesia.

Seandainya jika Islam diterapkan secara nasional, wilayah-wilayah di Indonesia dapat terpecah. Alasan para ulama NU mempertahankan NKRI yang multi agama itu adalah agar Islam dapat didakwahkan dengan leluasa dan damai. Hal itu bukan berarti ulama NU menentang hukum syara. Ulama NU pun mempunyai cita-cita “tajriibiha ahkamuka wa sunnatu rasuulika SAW” untuk menerapkan hukum Allah dan sunnah Rasulullah. Akan tetapi melalui jalan damai.

Begitulah cara ulama-ulama NU menghadapi setiap permasalahan. Adapun amaliyah-amaliyah, NU sampai saat ini masih menganut madzhab syafi’i. Imam Syafi’i mewarisi nya dari Rasulullah secara utuh melalui seluruh riwayat jalur apapun baik dari ahlul bait maupun sahabat.

Salah satu amaliyah NU yang sering dipermasalahkan adalah tawasul. Pada zaman Rasulullah, sudah ada orang yang melakukan tawasul di depan Nabi secara langsung dengan menyebut wajah nabi “bi wajihi al-kariim” ketika dia berdoa meminta hujan.

Dengan begitu menunjukkan bahwa amaliyah NU telah terbukti dalam sejarah berasal dari Rasulullah, dan telah teruji lebih dari 1000 tahun. Salah satu ukuran kebenaran amaliyah NU adalah data-data yang menjadi dasar lengkap, valid, dan reliabel.

Sambutan terakhir dalam Liwetan Akbar ini disampaikan oleh KH. Abdul Ghaffar Rozin Sahal. Beliau menyimpulkan bahwa santri NU harus mampu menjadi pengendali di ruang-ruang publik. Agar nilai-nilai ahlussunnah wal jama’ah tetap terjaga di masyarakat luas. (Indah)

BACA JUGA : Liwetan Akbar Eratkan Silaturahmi Lintas Generasi NU

Sambutan Liwetan Akbar: Amaliah NU Teruji Secara Historis Berasal dari Rasulullah

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here