Membaca Basmalah Dalam Surah al-Fatihah Ketika Sholat Bid’ah?

0
412
views
KH. Marzuki Mustamar ketika menyampaikan pengajian dalam Majelis Ta'lim wa Maulid ad-Diba'i (MTMD).

Ponpesgasek.comDalam masyarakat, kita seringkali menjumpai berbagai macam kesimpang siuran dalam hal ibadah. Kesimpang siuran itu menyebabkan hubungan yang kontra-produktif bahkan berujung pada permusuhan, pembid’ahan hingga pengkafiran oleh sebagian pihak. Kesimpang siuran ini terjadi karena dangkalnya pemahaman dalil naqli maupun ‘aqli oleh orang yang kurang mumpuni. Padahal, parameter suatu keilmuan yang mu’tabar (yang dapat dipertanggung jawabkan) dalam syariat Islam adalah berdasar pada dalil naqli (al-Qur’an dan Hadits), dan dalil ‘aqli (pemahaman akal terhadap dalil naqli), serta analisis yang benar tentang kedua dalil tersebut oleh orang yang mumpuni. Dengan kelengkapan ketiga komponen tersebut, suatu ilmu dapat dipertanggung jawabkan  dan diamalkan secara lahir batin sebagai bekal menghadap Allah swt.

Salah satu kesimpang siuran yang terjadi adalah tentang ibadah sholat. Seringkali ditanyakan: apakah bacaan surah al-Fatihah dalam sholat harus diawali dengan basmalah ataukah tidak? Dibaca jahr (keras) ataukah sirri (pelan)? Lalu bagaimanakah mengurai kesimpang siuran ini? Simak uraian KH. Marzuki Mustamar berikut ini.

Baca juga: 7 Kesalahan Yang Sering Terjadi Ketika Sholat, Anda Pernah Melakukannya?

Dalam teks hadits, seakan-akan ada pertentangan atau perbedaan riwayat, padahal keduanya sama-sama shahih. Ada riwayat yang mengharuskan basamalah dan ada juga riwayat yang mengatakan seakan-akan tanpa basmalah. Keduanya sama-sama riwayat Bukhori-Muslim.

Riwayat Hadits yang Menyatakan Tanpa Basmalah

Dalam Bukhori disebutkan:

كنا نصلي خلف رسول الله صلى الله عليه وسلم وأبي بكر وعمر وعثمان فكانوا يفتتحون الصلاة بالحمد لله رب العالمين

Adalah kami pernah sholat makmum di belakang Rasulullah saw, juga pernah makmum kepada Abu Bakar, Umar dan Utsman. Mereka semua mengawali bacaan sholat dengan Alhamdulillahi rabbil ‘aalamin.

Secara tekstual hadits ini, menunjukkan tidak diawali dengan basmalah melainkan alhamdulillah. Ini riwayat Bukhori. Sedangkan, menurut riwayat Imam Muslim hampir sama, hanya saja ada keterangan:

لم يسمعنا

 atau tidak memperdengarkan kepada kami (bacaan basamalah).

Riwayat Hadits yang Menyatakan Diawali dengan Basmalah

Ini juga diriwayatkan oleh Imam Bukhori dengan nomor hadits 5056 sebagai berikut:

سئل أنس بن مالك عن قراءة رسول الله صلى الله عليه وسلم قال كانت قرائته مدا ثم قرأ بسم الله الرحمن الرحيم

Anas bin Malik ditanya tentang bagaimana Rasulullah membaca fatihah, Anas menjawab bacaan Nabi itu panjang-panjang. Lalu, Nabi membaca bismillahirrahmanirrahim.

Dari penjelasan Anas bin malik tersebut, seakan-akan terdapat pertentangan dengan riwayat sebelumnya yang seakan-akan menyatakan langsung membaca alhamdulillah (tanpa bismillah). Kalau dicermati lagi, riwayat Imam Muslim mengatakan لم يسمعنا    atau tidak memperdengarkan kepada kami. Ini berarti mengindikasikan bahwa sebenarnya Rasulullah dan para sahabat membaca basmalah. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Rasulullah saw, Abu Bakar, Umar, dan Utsman sebenarnya mengawali bacaan fatihah dengan bacaan basmalah, hanya saja dengan sirri atau suara pelan.

Kemudian, terkait dengan bacaan jahr atau suara keras, diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam hadits yang lain dengan nomor 3451:

كان صلى الله عليه وسلم يجهر بالبسملة

Adalah Nabi saw selalu atau sering mengeraskan bacaan bismillah. (Dalam kaidah nahwu, fi’il mudhori yang digunakan untuk masa lampau menunjukkan makna sering atau selalu)

Lalu, mana yang benar di antara kedua riwayat yang sama-sama diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim tersebut? Untuk memahaminya, perlu kecermatan, analisis, dan pemahaman lebih oleh orang yang mumpuni dalam ilmu hadits sehingga tidak terjadi pertentangan atau saling menabrak satu sama lain.

Baca Juga: 2 Hal Yang dibenci Manusia: Kematian dan Kemiskinan (Kajian Hadits)

Surah al-Fatihah disebut Juga dengan Surah al-Hamdulillah

Alat untuk memahami teks hadits adalah ilmu nahwu, shorof, mantiq, balaghah, asbabun nuzul, asbabul wurud dan seterusnya. Untuk itu, perlu membaca hadits Bukhori yang lain.

Dalam hadits yang lain, terdapat riwayat tentang  Nabi saw yang akan mengajarkan surah yang paling agung dalam al-Quran kepada Abu said Rofi’. Rasulullah saw bersabda:

 لاعلمنك أعظم سورة في القرآن

Hai Abu sa’id nanti setelah sholat Anda akan saya ajari surat yang paling agung di dalam  al-Qur’an.

Lalu usai sholat, Abu Said Rofi’ menagih ucapan Nabi saw. Rasulullah saw menjawab:

أعظم سورة في القرآن الحمد لله رب العالمين هي سبع المثاني والقرآن العظيم الذي أوتيته

 Surah yang paling agung dalam al-Quran adalah surah alhamdulillahirabbil ‘aalamiin, dialah surah yang terdiri dari tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang (yang harus dibaca pada setiap raka’at di dalam sholat) dan dialah qur’an yang paling agung.

Perhatikan sekali lagi ketika Nabi saw mengucapkan kalimat: “Surah yang paling agung dalam al-Quran adalah Alhamdulillahirabbil ‘aalaamin”. Dari sini, dapat diketahui bahwa Nabi saw menyebut surah yang paling agung dengan sebutan surah alhamdulillah. Yang dimaksud dengan surah alhamdulillah adalah surah al-Fatihah. Maka, dapat dipahami bahwa Nabi saw menamakan surah al-Fatihah dengan sebutan surah alhamdulillah.

Penamaan surah dengan menyebut awal surah yang dibaca ini terjadi pada zaman Rasulullah saw. Kebiasaan itupun terjadi sampai di masyarakat Indonesia. Orang jawa misalnya, menyebut surah al-Ikhlas dengan sebutan surah Qulhu, surah al-Lahab lebih dikenal dengan surah Tabbat, surah al-Kafirun lebih dikenal dengan surah Qulya dan seterusnya. Dengan demikian, jika kita kembali pada teks hadits pertama yang menyatakan awal bacaan nabi ketika sholat, yang dimaksud dengan alhamdulillah adalah surah al-Fatihah.

Maka, kalimat Anas bin Malik: “mereka mengawali sholat dengan alhamdulillah” semata-mata menerangkan tentang tata cara Nabi saw, Abu Bakar, Umar dan Ustman ketika mengawali bacaan sholat dengan membaca surah al-Fatihah.

Basmalah Bagian dari al-Fatihah (Sab’ul Matsani)

Penjelasan Anas bin Malik ini bukan menerangkan tentang awal bacaan surah al-Fatihah tanpa basmalah atau ayat pertama surah al-Fatihah. Selain itu, keterangan riwayat Imam Bukhori tentang sab’ul matsaani atau tujuh ayat yang selalu dibaca berulang-ulang dalam sholat menunjukkan bahwa basmalah merupakan bagian dari surah al-Fatihah dan menjadi awal surah. Kalau basmalah tidak termasuk bagian surah al-Fatihah, maka tidak lagi disebut sab’ul matsaani atau tidak lagi berjumlah tujuh ayat melainkan enam ayat dan ini tidak sesuai dengan hadits Nabi saw.

Adapun tata cara membaca surah al-Fatihah, tetap dibaca dengan basmalah sebagaimana dicontohkan oleh Nabi saw dalam riwayat Imam Bukhori dan Imam Muslim. Memang ada perbedaan tata caranya. Bagi madzhab Hambali, pelaksanaannya dibaca dengan suara pelan (sirri) berdasar pada riwayat Imam Muslim sebelumnya. Sedangkan pelaksanaan dalam madzhab Syafi’i merujuk pada riwayat Imam Bukhori yang menyatakan Nabi saw membaca basmalah dengan suara keras (jahr). Masing-masing madzhab ini tetap membaca basmalah karena meyakini basmalah merupakan bagian dari surah al-Fatihah sehingga tetap berjumlah tujuh ayat (sab’ul matsaani), bukan malah tidak membaca basmalah sama sekali.

Basmalah Bagian dari al-Qur’an

Selain itu, argumentasi bahwa basmalah adalah bagian dari al-Quran dapat dilihat dalam sejarah penulisan mushaf. Pada awal-awal penghimpunan mushaf, Nabi saw telah mewanti-wanti agar tidak menulis sesuatu apapun dari Nabi saw selain al-Qur’an. Maka, kemudian para sahabat menghapus kalimat aamiin, nama surah, dan kalimat ta’awwudz dari catatan mushafnya.

Yang menarik dari penghapusan tambahan selain dari al-Qur’an ini adalah ternyata kalimat basmalah dari masa awal penghimpunan mushaf, hingga setelah masa penghapusan selain al-Quran masih tetap ada dan tidak dihapus. Andai kalimat basmalah bukan bagian dari al-Quran, ia pasti mengalami nasib yang sama dengan aamiin, nama surah, dan ta’awwudz. Ini menunjukkan bahwa basmalah merupakan bagian dari al-Quran.

Baca Juga: Menjaga Iman Anak Kecil di Masa Depan

Boleh dibaca Jahr (keras) atau Sirri (pelan) Tergantung Situasi dan Kondisi Jama’ah

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa basmalah merupakan bagian dari surah al-Fatihah dan wajib dibaca dalam sholat karena surah al-Fatihah yang sab’ul mastaanii itu merupakan salah satu rukun dalam sholat. Lalu, bagaimana cara membacanya?

Adapun cara pembacaannya boleh keras (jahr) seperti madzhab Syafi’i, dan boleh pelan (sirri) seperti madzhab Hambali. Adapun preferensi atau pilihan pembacaan keras maupun pelan harus dipertimbangkan dengan matang tergantung dengan kebiasan masyarakat setempat sekira tidak menimbulkan fitnah.

Di Saudi, basmalah dibaca pelan (sirri) karena madzhab mayoritas adalah madzhab Hambali, sedangkan di Indonesia dibaca keras (jahr) karena mayoritas bermadzhab Syafi’i. Kalau di masyarakat yang terbiasa dan menganut pembacaan basmalah dengan suara keras, maka pembacaan basmalah dilakukan dengan suara keras. Tujuannya agar tidak menimbulkan kecurigaan beda madzhab yang dapat menganggu kekhusyuk-an makmum dan makmum akan mantap. Jika dibaca pelan, maka dapat menimbulkan keresahan pada makmum. Makmum akan curiga, jangan-jangan tidak membaca basmalah yang akhirnya menganggap sholat tidak sah. Demikian juga sebaliknya. Keputusan mengeraskan suara atau memelankan dalam membaca basmalah, harus dipertimbangkan sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat setempat. (Hasbi)

*disarikan dari Pengajian KH. Marzuki Mustamar dalam Majelis Ta’lim wa Maulid ad-Diba’i (MTMD) di Masjid Nurul Iman Jl. Danau Semayang Blok C Sawojajar, Kota Malang pada Selasa, 9 Januari 2018.

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here