MTMD : Saling Mendo’akan Sesama Muslim, Inilah Dalil Warga NU.

1
269
views

وَالَّذِيٍنَ جَاؤُا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَااغْفِرْلَنَا وَلِاِخْوَانِنَاالَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَا آمَنُوْ رَبَّنَا اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ (الحشر :10 )

Artinya : Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshorin), mereka berdo’a, “Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sungguh Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang. (Al-Hasyr: 10)

Ayat tersebut mengilhami pasal-pasal yang diterapkan oleh Nahdlatul Ulama (NU) yang berpaham Ahlus Sunnah wal Jama’ah (ASWAJA). Sebagai dalil untuk mendo’akan orang lain yang telah mendahului kita. Di Timur Tengah terdapat banyak sekali ulama dan penduduk yang berfaham Ahlussunah wal Jama’ah. Seperti Negara Lebanon misalnya, sudah ada Syeikh Wahbah Az Zuhaili yang berpaham Aswaja. Namun kelemahan Aswaja di Timur Tengah adalah mereka tidak mampu menghimpun diri menjadi sebuah organisasi layaknya Nahdlatul Ulama (NU). Sehingga di saat berbagai pihak menggugat amaliah bahkan melakukan konfrontasi terhadapnya, tetap saja mereka tidak memiliki kekuatan hukum sama sekali dalam pengadilan Internasional. Oleh karenanya, sebuah isi yang terbungkus rapi harusnya diletakkan ke dalam satu wadah yang bagus pula. NU menyadari betul esensi dari kepentingan ini. Karena melalui organisasi-lah kita dapat menjaga dan membela diri terhadap gugatan – gugatan yang meruntuhkan dan merusak keberlanjutan paham serta amaliah Aswaja di negeri ini.

Organisasi merupakan kebutuhan yang sangat urgent bagi penduduk besar untuk melindungi substansi kehidupan yang dijalaninya. Organisasi merupakan sebuah wadah untuk menampung kebutuhan masyarakat. Substansinya sangat penting, namun wadah juga tidak kalah penting. Analoginya sederhana, Isi tanpa wadah maka akan tumpah kemana-kemana tanpa ada yang memungutnya. Sehingga akan cenderung terbuang dan terlupakan. Organisasi yang secara terang-terangan dalam anggaran dasarnya (AD ART) menyebutkan berpaham ASWAJA secara resmi adalah NU. Secara gamblang dijelaskan bagaimana perkara tauhid, Madzhab Fiqih serta thoriqoh yang mereka pegangi.

Sebagai golongan yang memegang erat paham Aswaja, NU sangat menyayangkan kelompok – kelompok yang menganggap berdo’a hanya bersifat nafsi-nafsi. Mereka menyatakan bahwa, kita tidak memerlukan bantuan do’a dari orang lain. Dengan pendapat yang seperti itu, bagaimana mungkin seseorang yang hanya memiliki tiket terbatas (batas usia 60 tahun) lalu mampu membeli tiket surga untuk 1000 tahun lagi?.Pertanyaan tersebut hanya dapat terjawab melalui amalan-amalan yang dijalankan anak cucu kita. Kemudian barokah dan pahala doanya ditujukan kepada orang yang telah mendahuluinya (meninggal). Seperti dalam hadits yang menyebutkan bahwa salah satu amalan yang tidak dapat putus pahalanya meskipun seseorang telah meninggal adalah keturunan yang sholih. Keturunan yang senantiasa mendo’akan orang tua juga para leluhurnya.

Celakanya lagi, perihal yang dikhawatirkan nanti adalah, ketika posisi pahala yang dimiliki ternyata tidak mencukupi target yang ditentukan. Maka bagaimanakah nasib insan tersebut? Tentu sangat sulit untuk membeli tiket surga itu. Guru kami, KH. Marzuqi Mustamar mengilustrasikan sebuah kejadian seperti berikut ini, ketika ada seorang Kiai yang telah memiliki amal bagus, amal yang banyak dan sudah jelas memiliki harapan tinggi untuk masuk ke surga. Namun hanya karena terdapat 2 amal kejelekan akhirnya tertolak semua amalanya. Bagaimanakah jika kondisi yang seperti itu terjadi? Namun Allah SWT sangat maha rahim. Sebab dengan adanya anak cucu dan santri yang senantiasa mendo’akannya, maka diputuskan kembali untuk diterimanya amal tersebut. Sehingga surgalah yang diperolehnya.

Begitu pula yang telah dituturkan oleh guru kami: “Meskipun orang tua abangan, namun bibarokati waladin sholihin akhirnya terangkat” derajat kita. Itu karena Allah memiliki wewenang. Maka dari itu, hikmah yang dapat diambil adalah, betapa pentingnya sokongan do’a dari anak-anak yang saleh untuk membantu menutupi kekurangan pahala amal yang kita miliki nantinya.

Saling mendo’akan merupakan hubungan persaudaraan orang mu’min lahir batin. Berbeda dengan orang atheis yang tidak mempercayai wujudnya Tuhan yang hanya menganggap semua adalah sebatas kewajiban administratif belaka. Setelah usai, maka usai pula segalanya. Tidak ada kegiatan atau rutinitas untuk mendo’akan para guru yang telah mengajarkan berbagai disiplin ilmu. Lagi pula, hal tersebut merupakan pendidikan ala kafir kapitalisme yang  bersifat transaksional belaka. Jika seorang muslim dan berstatus santri melakukan model yang sama seperti itu, lalu apa bedanya orang mu’min dengan orang kafir?

Perlu diketahui pula bahwa karakter seorang mu’min adalah mau merasakan apa yang dialami mu’min lainnya. Masing-masing memiliki hubungan lahir batin dalam mencintai, menyayangi, dan mengasihi. Seperti dalam hadits

اَلْمُؤمِنُ لِلْمُؤمِنِ كَالْجَسَدِ اْلوَاحِدِ

“Mu’min satu dengan mu’min lainnya adalah seperti satu tubuh”.

Sehingga apabila salah satu anggota tubuh merasakan kesakitan, maka anggota tubuh lain akan merasakan sakitnya pula. Hal tersebut merupakan tingkat solidaritas yang sangat tinggi. Terlepas dari itu, salah satu tanda orang munafik adalah ketika seorang muslim mendapatkan kesenangan, yang lain merasa tidak senang atau sebaliknya.

تَحْسَبُهُمْ جَمِيْعًا وَقُلُوْبُهُمْ شَتًّا

“Mereka terlihat kumpul, namun sejatinya hatinya berpisah”

Hal tersebut bukan ciri seorang muslim sejati. Yang dikehendaki islam ialah ketika saudaranya senang, maka yang lain juga ikut senang. Namun ketika saudaranya mengalami kesusahan, maka yang lain juga merasakan seperti itu dan membantunya untuk memberi semangat kembali dalam menjalankan kehidupan berikutnya. Wallahu A’lamu

Penulis: Santri Gasek

Editor : Teguh Hidayanto

Facebook Comments

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here