2 Hal Yang Dibenci Manusia: Kematian dan Kemiskinan

0
531
views

oleh: KH. Marzuki Mustamar

إِثْنَانِ يَكْرَهُهُمَا ابْنُ آدَمَ: يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَالْمَوْتُ خَيْرٌ لَهُ مِنَ الْفِتْنَةِ، وَيَكْرَهُ قِلَّةَ الْمَالِ، وَقِلَّةُ الْمَالِ أَقَلُّ لِلْحِسَابِ

“Ada dua perkara yang dibenci umat manusia. Pertama,  manusia tidak mau mati, padahal boleh jadi mati lebih baik dari pada fitnah. Kedua, manusia membenci (tidak mau) kemiskinan, padahal sedikit harta berarti lebih ringan hisabnya. HR. Imam Ahmad.”

Hadits bernomor 28 di atas ( dalam Mukhtar al-Ahadits al-Nabawiyyah wa al-Hikami al-Muhammadiyah, sebuah kitab karangan Sayyid Ahmad al-Hasyimi yang memuat hadits-hadits pilihan yang bersumber dari Kutub as-Sittah) berbicara tentang 2 (dua) hal yang dibenci manusia. Apakah itu? Ya, Kematian dan Kemiskinan.

Berikut ini beberapa pelajaran yang patut kita renungkan dan kita ambil serta pahami dari hadits Nabi Muhammad SAW tersebut..

Tujuan Hidup manusia

Manusia tidak diciptakan oleh Allah SWT dalam kesia-siaan tanpa tujuan, melainkan sempurna dengan tujuan dan misi yang jelas. Tujuan mulia dan misi suci yang diembankan Allah SWT kepada manusia adalah mengabdikan diri kepada-Nya, Dzat Yang Maha Pencipta. Maka, sudah sepantasnya bahkan merupakan sebuah keharusan bagi manusia untuk mengoptimalkan segala potensinya untuk beribadah kepada Allah, baik potensi yang berasal dari dalam diri manusia seperti kekuatan fikiran, mental dan rohaninya, hingga potensi yang berasal dari luar diri manusia seperti kekuatan fisik, ekonomi dan sosial politiknya. Mengabdikan diri kepada Allah juga harus mewujud dalam hal mengoptimalkan potensi tersebut untuk membantu pelaksanaan ibadah kepada Allah, turut serta mengorganisir kegiatan ibadah dalam bentuk menjaga dan melindungi kegiatan ibadah hingga mengembangkannya dengan cara menyampaikan kepada orang lain.

Di samping itu, sebagai umat manusia bahkan seorang muslim, sudah sewajarnya berkorban menggunakan harta bahkan nyawa sekalipun dengan harapan agar kita dan umat manusia yang lain tetap bisa beribadah kepada Allah tanpa gangguan dari siapapun atau kelompok  manapun. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah berikhtiar baik secara  individual maupun kolektif dengan terencana atau terprogram untuk mengikhtiarkan lahirnya generasi-generasi baru yang senang beribadah kepada Allah SWT. Alhasil semua potensi kita dan semua langkah kita semestinya dilakukan dalam rangka merealisasikan dan melestarikan ibadah kepada Allah SWT.

Ibadah kepada Allah merupakan tugas yang paling mulia bagi umat manusia. Sebab, pekerjaan-pekerjaan lain di luar ibadah, biasanya dilakukan hanya untuk kelestarian alam, lingkungan atau untuk kemashlahatan manusa sendiri, sedangkan kegiatan ibadah semata-mata diperuntukkan untuk Allah SWT. Tentu saja, sesuatu yang dilakukan untuk Allah jauh lebih mulia daripada sesuatu yang dilakukan untuk selain Allah.

Oleh karena itu, kalaupun kita melakukan suatu aktifitas yang secara lahir nampaknya diperuntukan untuk kita, orang lain atau lingkungan maka niatkan itu semua semata-mata untuk Allah dan karena Allah dan tentu saja harus berpegangan pada syari’at Allah. Jangan sampai menentang perintah atau ketentuanAllah, agar semua aktifitas kita itu bisa bernilai ibadah.

Bukan malah terbalik, secara lahir nampak beribadah dengan melakukan berbagai amalan seperti wirid, istighosah, bahkan ikhtiar yang bersifat batiniah namun tujuannya keliru, bukan diperuntukkan untuk Allah dan bukan karena Allah. Tapi, karena ingin bisa naik pangkat dan menduduki jabatan atau menjadi orang yang kaya raya, atau mendapat kemenangan dalam politik, menjadi orang yang terkenal dan sebagainya. Beribadah mestinya karena Allah dan untuk Allah. Bukan untuk tujuan duniawi. Jadi, semestinya semua potensi duniawi  itu menjadi pendukung pelaksanaan ibadah kepada Allah SWT.

Mati Bisa Jadi Lebih Baik

Karena sudah tahu tujuan utama hidupnya yaitu untuk beribadah, maka manusia seyogyanya merasa takut kalau sampai tidak beribadah atau tidak bisa beribadah. Dengan begitu, maka orang mukmin  tidak boleh takut miskin, takut sengsara, takut kehilangan kedudukan bahkan termasuk takut mati.

Kalau kematian itu sakit, yang karenanya banyak manusia yang takut dan benci mati, maka ketahuilah ada yang lebih sakit daripada mati dan sekarat yaitu siksaan api neraka dan ghodob (murka) Allah SWT. Jadi mestinya yang harus lebih ditakuti adalah siksa neraka dan kemarahan Allah SWT. Sebaliknya, kalau manusia ingin terus hidup karena merasakan  kenikmatan dunia, baik kekayaan maupun kedudukan serta ketenaran, maka ketahuilah ada yang lebih nikmat yaitu surga dan ridho Allah SWT. Seharusnya jika kita menginginkan kebahagiaan dan merasakan nikmat yang sesungguhnya maka jalan satu-satunya adalah dengan melewati pintu kematian baru kemudian masuk surga dan mendapat ridho Allah. Semua itu tidak mungkin dicapai dengan hidup terus-terusan di dunia.

Akan tetapi, manusia pada umumnya takut menghadapi kematian. Mereka lupa bahwa ada yang mestinya lebih ditakutkan lagi yakni neraka Allah, laknat Allah dan murka Allah. Allah SWT berfirman :

…فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ…

…Maka takutlah siksa api neraka yang kayu bakarnya adalah manusia dan batu..

Dengan memiliki rasa takut kepada siksa neraka, adzab dan murka Allah maka manusia akan menjauhi segala prilaku yang bisa menyebabkan mereka terjerumus ke dalamnya. Yaitu sikap kufur, munafik, khianat, fasik  dan melakukan dosa-dosa besar yang lain. Itulah yang semestinya lebih ditakuti dan perrlu dihindari, karena akan mengakibatkan masuk neraka.

Rasulullah SAW mengkritik sikap manusia yang keliru dan memberikan petunjuk yang harus dimengerti manusia. Beliu bersabda sebagaimana hadits di atas: Manusia takut mati, padahal kematian itu bisa jadi lebih baik daripada hidup penuh fitnah.

Adapun yang dimaksud dengan fitnah adalah segala bentuk kekufuran, kedzhaliman, kefasikan termasuk juga murtad (keluar dari agama Islam).  Jadi orang mumin tidak perlu takut mati, tapi takutlah  kalau sampai terjerumus dalam kemurtadan dan kekufuran. Mati tentu lebih baik, karena bisa jadi dengan kematian itu bisa terhindar dari fitnah dunia, sehingga bisa terhindar dari neraka dan masuk surga. Daripada hidup tetapi penuh dengan fitnah (kufur dan sejenisnya) yang akhirnya menyebabkan masuk neraka.  Maka, orang mukmin seharusnya lebih berorientasi kepada akhirat dan ridho Allah daripada kesenangan dunia.

.Sesuai firman Allah:

وَالآخِرةُ خَيرٌ وَأَبقَى

Padahal akhirat itu lebih baik dan kekal.

Dengan catatan tentu saja tidak dengan meninggalkan keduniaanya selama itu tidak menghalanginya dari beribadah.

Sedikit Harta, Sedikit Hisab

Selain kematian yang banyak dibenci dan ditakuti, manusia juga banyak yang benci serta takut jatuh miskin. Akibat takut melarat, manusia sampai jungkir balik, bahkan sampai gasak sana gesek sini demi mendapatkan rupiah. Banyak yang menganggap kemelaratan adalah kehinaan. Orang yang melarat dianggap tidak bisa hidup bahagia.

Seperti halnya masalah kematian, masalah hartapun harus disikapi dengan benar. Mestinya, dalam  harta benda orientasinya yang terpenting adalah barokah, manfaat, serta mendorong untuk beribadah kepada Allah. Sehingga bagi orang mukmin, sedikit atau banyaknya harta, miskin atau melarat, tinggi atau rendahnya pangkat dan jabatan itu tidak terlalu penting. Yang penting di mana dan kapanpun dan dalam keadaan bagaimanapun  tetap bisa beribadah dan mendapat ridho Allah, serta tidak melanggar ketentuan Allah. Orang yang seperti ini, niat kerjanya benar. Selama bekerja juga benar, tidak melanggar syara’ serta tidak merugikan orang lain. Dan setelah bekerja, pengunaan harta kekayaannya  juga benar sesuai ketentuan Allah. Dia tidak lupa kewajiban dalam hartanya, baik zakat, shodaqoh maupun tashorufnya.

Orang mukmin harus sadar, bahwa setiap rupiah yang dia peroleh dan dia gunakan akan  dipertangung jawabkan kepada Allah dan nanti akan dihisab pada hari kiamat. Dengan demikian, tidak boleh hanya berobsesi ingin menumpuk harta yang banyak dan takut melarat, namun harus diperhatikan kehalalannya dan diridhoi Allah. Walaupun hartanya sedikit, seorang mukmin tidak pantas  berputus asa atau larut dalam kesedihan. Sebab, dengan harta yang sedikit itu, hisabnya akan menjadi lebih ringan daripada mereka yang harta bendanya melimpah.

Tentu saja, semua orang ingin sukses dunia dan akhirat. Sebagaimana do’a yang setiap hari dibacanya (Robbanaa aatinaa fiddunyaa hasanah wa fil akhirati hasanah, Ya Allah berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaiakan di akhirat). Dan ini boleh-boleh saja, asalkan kesenangan dunia itu tidak sampai membuatnya lalai dari kehidupan akhirat. Wallahu A’lam bis shawab.

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here